'Hantu' Resesi Gentayangan, Investasi Apa yang Kasih Cuan?


Jakarta, Resesi jadi kata yang banyak diperbincangkan akhir-akhir ini. Selepas pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) mereda, ternyata hidup masih belum baik-baik saja.

Secara umum, resesi terjadi ketika ekonomi terkontraksi atau tumbuh negatif dua kuartal beruntun. Belum lama ini dunia mengalami resesi akibat pandemi Covid-19, yang membuat aktivitas dan mobilitas miliaran umat manusia terganggu. Tanpa aktivitas dan mobilitas manusia, ekonomi pun 'mati suri'.

Baru saja pulih, dunia sudah dihadapkan kepada masalah baru. Adalah perang Rusia-Ukraina yang membuat situasi menjadi kompleks. Perang yang berlangsung sejak 24 Februari tersebut melambungkan harga komoditas.

Maklum, Rusia dan Ukraina adalah produsen utama sejumlah komoditas. Migas, tambang, sampai pangan banyak diproduksi di dua negara tersebut.
Perang, plus sanksi embargo bagi Rusia, membuat harga komoditas melambung jauh terbang tinggi. Hasilnya, harga pangan dan produk manufaktur terdongrak yang menyebabkan tekanan inflasi.

Sumber: BPS

Percepatan laju inflasi membuat bank sentral di berbagai negara tidak punya banyak pilihan. Kebijakan moneter yang ultra-longgar saat pandemi harus diketatkan, dengan kecepatan dan intensitas luar biasa. Suku bunga acuan harus naik, demi meredam ekspektasi inflasi.

Namun 'obat' kenaikan suku bunga punya efek samping. Ekspansi rumah tangga dan dunia usaha akan melambat, sehingga konsumsi dan investasi lesu, pada akhirnya menekan pertumbuhan ekonomi.
Bank Dunia pun memberi wanti-wanti. Pada 1970-an, saat dunia mengalami inflasi tinggi akibat kenaikan harga minyak (oil boom), bank sentral di berbagai negara juga menaikkan suku bunga acuan secara agresif.

Efek sampingnya luar biasa, ekonomi bukannya tumbuh malah terkontraksi alias minus. Bahkan sampai menyebabkan resesi global.


"Upaya pemulihan saat itu membutuhkan kenaikan suku bunga acuan secara tajam. Akan tetapi, dampaknya adalah memicu resesi global dan krisis keuangan di negara berkembang," tulis Bank Dunia dalam laporan Global Economic Prospect edisi Juni 2022.

Saat resesi, biasanya pasar keuangan ikut anjlok. Di Indonesia, misalnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 4,85% sepanjang 2020 akibat tekanan pandemi. Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terdepresiasi 1,15%.

So, apakah investasi di pasar keuangan adalah langkah yang salah ketika resesi (amit-amit) terjadi? Tidak juga...

Jim Kramer, ahli strategi keuangan yang juga pembawa acara Mad Money di CNBC, menilai justru ada peluang untuk berinvestasi di pasar saham saat resesi. Harga saham yang jatuh membuatnya menarik untuk 'diserok' dengan harapan suatu saat akan bangkit.

Pertanyaannya, saham apa yang bisa menjanjikan cuan?

"Coba Anda bertanya pada diri sendiri. Saat resesi, apakah Anda tetap sikat gigi? Ya. Apakah Anda tetap keramas walau ada resesi? Pasti.

"Jadi kita bicara tentang kebutuhan sehari-hari (staples). Inilah barang yang selalu Anda butuhkan, seburuk apapun kondisi ekonomi," ungkap Kramer, seperti dikutip dari CNBC International.

Selain saham, emas juga bisa menjadi perlindungan ketika resesi. Sifat inilah yang membuat emas mendapat predikat safe haven.

Sepanjang 2020, saat pandemi Covid-19 membuat dunia lumpuh, harga emas dunia di pasar spot melonjak 25,01%. Kala itu, emas jadi salah satu aset dengan kinerja terbaik.

Saat ekonomi berputar lagi, situasi kembali menuju normal, memang harga emas akan cenderung turun. Sepanjang 2021, saat vaksin Covid-19 sudah tersedia dan pembatasan sosial (social distancing) dilonggarkan, harga sang logam mulia turun 3,59%.

Meski begitu, lonjakan harga pda 2020 masih jauh lebih tinggi ketimbang koreksi 2021. Jadi kalau memegang emas sejak awal 2020, cuan masih bisa direngkuh.





#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik