Sunan Ampel Dapat Hadiah dari Raja Majapahit, Kira-Kira Apa Ya?

Sunan Ampel (Foto : Boombastis)

CARA mengajar Raden Rahmat atau Sunan Ampel yang tulus, ikhlas, dan dengan penuh kesabaran serta ketelatenan mampu membuat para nayaka praja dan para putra-putri kaum bangsawan Majapahit merasa tersentuh.

Dari situ, sifat-sifat buruk atau penyakit-penyakit hati para nayaka praja dan para putra-putri kaum bangsawan sedikit demi sedikit berkurang setelah digembleng beberapa bulan oleh Raden Rahmat. Lambat-laun tabiat buruk mereka telah berubah menjadi baik, mereka memiliki akhlakul karimah yang sesuai dengan ajaran islam.

Keberhasilan Raden Rahmat dalam mendidik para nayaka praja dan para putra-putri kaum bangsawan Majapahit dalam waktu singkat itu ternyata menarik perhatian masyarakat sekitar Ampeldenta.
Lantas, mereka pun mengirimkan putra-putri mereka untuk berguru kepada Raden Rahmat. Diketahui, Raden Rahmat merupakan keponakan permaisuri Raja Majapahit, Ratu Dewi Dwarawati. Bahkan, orang-orang yang dari jauh pun juga turut berdatangan.

Prabu Brawijaya V merasa berkenan hatinya melihat keberhasilan pendidikan yang dilakukan Raden Rahmat. Secara berangsur-angsur, di lingkungan istana Majapahit tak lagi diguncang oleh keberingasan dan perilaku-perilaku buruk dari kalangan orang dalam.

Pada akhirnya, sebagian para nayaka praja maupun putra-putri para pejabat Majapahit memeluk agama Islam karena terkena pengaruh ajaran Raden Rahmat, hal itu tidak menyebabkan sedikit masalah bagi Sang Baginda Raja. Sebab bukan soal beragama Islam atau tidak yang menjadi persoalan, melainkan kebejatan moral lah yang menggelisahkan selama ini.

BACA JUGA:Strategi Sunan Ampel Benahi Moral Anak Pejabat Kerajaan Majapahit
Kemudian para pangembating praja serta sebagian rakyatnya menjadi muslim, hal itu tidak menjadi persoalan bagi Sang Prabu Brawijaya V, asalkan situasi keamanan di Majapahit aman dan terkendali.

"Kenapa aku harus alergi terhadap agama Islam sebagaimana yang diajarkan keponakanku Raden Rahmat, jika toh hasilnya dapat mengatasi keadaan yang meresahkan di Majapahit selama ini? Apalagi, agama Islam yang ditampilkan Raden Rahmat sangat toleran dan tidak digiring ke arah makar dan membenci penganut agama lain!" kata hati Prabu Kertabhumi merasa puas terhadap kinerja Raden Rahmat.

Dikutip dari buku Brawijaya Moksa Detik-Detik Akhir Perjalanan Hidup Prabu Majapahit, sebagai bentuk apresiasi, diam-diam Prabu Brawijaya V berpikir hadiah apakah yang pantas diberikan kepada Raden Rahmat sebagai orang yang berhasil mengatasi kebejatan moral di lingkungan Majapahit?

Tiba-tiba, Sang Baginda Raja mendapat suatu ilham: "Bagaimana kalau aku menjodohkan Raden Rahmat dengan putriku Dewi Chandrawati, bukankah hal ini layak sebagai penghargaan kepada orang yang sangat berjasa meredam kebobrokan moral di Majapahit?"

Ternyata bentuk hadiah yang akan diberikan oleh Prabu Brawijaya V kepada Raden Rahmat adalah dijodohkan dengan putrinya yaitu Dewi Chandrawati. Tampaknya, Sang Prabu mempercayai Raden Rahmat untuk menjaga putrinya. Sebab, Raden Rahmat sudah sangat berjasa dalam menghapus kebobrokan moral di kalangan Majapahit.

Kemudian sang Prabu bermusyawarah dengan permaisurinya, Ratu Dewi Dwarawati mengenai perjodohan ini.
Rupanya, Dewi Dwarawati sendiri sejak awal kedatangan Raden Rahmat ke Majapahit telah memiliki ide yang serupa untuk menjodohkan putrinya. Namun, ia merasa khawatir jika suaminya tidak berkenan dengan idenya.

Prosesi pernikahan terjadi selama tujuh hari tujuh malam di istana Majapahit. Raden Rahmat yang begitu tampan bersanding dengan Dewi Chandrawati yang cantik rupawan. Semua hadirin melihat pasangan mempelai sangat serasi, harmonis, dan seimbang.

Kerajaan Majapahit yang semula nampak redup, berubah menjadi cerah kembali sejak kedatangan Raden Rahmat. Ia menjadi pembicaraan para rakyat yang dianggap sebagai pahlawan di Majapahit.


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik