Berulah, Negara Ini Terancam Gelap Gulita Karena Uang Kripto

Foto: REUTERS/Christinne Muschi

Jakarta, Negara penambang (mining) cryptocurrency atau uang kripto terbesar kedua di dunia, yakni Kazakhstan terancam gelap gulita. Ini terjadi karena di negara Asia Tengah tersebut mengalami beban energi berlebih karena penambangan.

Dilansir dari Dailymail, penyedia listrik Kazakhstan mengambil langkah dengan memutus aliran listrik untuk penambang kripto hingga Februari. Akibatnya, kerugian dari tambang yang tidak aktif dapat mencapai $1 juta per hari di pusat Bitcoin.

Namun langkah itu mau tidak mau dilakukan. Berdasarkan laporan Financial Times, permintaan listrik negara itu naik 8% sejak awal tahun 2021. Ini merupakan kenaikan yang cukup signifikan, sebab biasanya hanya tercatat naik 1-2% per tahunnya, dikutip The Verge, Selasa (1/2/2022).

Kenaikan permintaan listrik ini ternyata karena penambang uang kripto China memindahkan aktivitasnya ke Kazakhstan. Maklum, China telah mengambil tindakan keras pada aktivitas penambangan bitcoin dan sejenisnya karena dianggap mengkonsumsi listrik besar dan menghasilkan emisi karbon tinggi.

Penambangan atas mining bitcoin adalah proses pemecahan kode matematika rumit untuk menghasilkan cryptocurrency. Proses ini membutuhkan komputer khusus dan proses pemecahan kode dapat berlangsung setiap hari selama 24 jam.

Laporan Financial Times menyebutkan ada lebih dari 87.849 rig penambangan padat daya yang alih operasikan dari China ke Kazakhstan. Pada data University of Cambridge, negara tersebut menjadi nomordua tempat penambangan kripto terpopuler, hanya kalah dari Amerika Serikat (AS).

Tiga pembangkit listrik tenaga batu bara paling vital di Kazakhstan telah ditutup bulan lalu.

Coindesk melaporkan sehubungan dengan pemadaman, Kementerian Energi akan mulai membatasi penambangan baru yang menggunakan lebih dari 100 megawatt (MW) selama dua tahun. Namun tak lama kemudian, kebijakan itu dibatalkan. Yakni membatalkannya untuk penambang yang sah.

Financial Times juga mengatakan, perusahaan pengoperasian jaringan listrik Kazakhstan (KEGOC) memperingatkan akan mulai menjatah daya pada 50 penambang kripto terdaftar oleh pemerintah.

Krisis listrik ini dikaitkan dengan penambang abu-abu atau dikenal sebagai penambang ilegal kripto. Para ahli menyebutkan para penambang tersebut mengkonsumsi hingga 1.200 megawatt pada jaringan listrik negara.

Untuk mengatasi masalah ini Kazakhstan mulai melakukan beberapa aturan. Seperti penambang yang sah harus membayar, dengan tujuan membantu membedakan penambang sah dan ilegal serta mengurangi beban listrik. Mereka akan dibebankan biaya 1 tenge Kazakhstan per kWh atau Rp 32.

Coindesk menuliskan Kazakhstan bagian selatan paling terpukul dengan krisis ini. Wilayah tersebut kekurangan pembangkit listrik dan jaringan utama beberapa kali kesulitan untuk menyalurkan listrik ke sana.

Xive, perusahaan kripto berbasis di Kazakhstan yang juga menyediakan ruang dan daya untuk rig penambangan, terpaksa mematikan 2.500 mesin penambangan akibat krisis energi.

Beberapa negara juga bernasib sama seperti Kazakhstan. Seperti Iran yang harus melarang penambangan selama empat bulan pada Mei lalu untuk mencegah penambangan.

Texas juga jadi tempat tujuan penambang karena biaya listrik yang murah serta peraturan yang longgar. Menurut para ahli permintaan listrik akan lebih dari 5.000 MW. Ini memprihatinkan sebab Texas juga baru mengalami pemadaman listrik besar-besaran di awal tahun.


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik