3 Cara Menghentikan Kebiasaan Overthinking


Sebagian besar dari kita pasti pernah mengalami overthinking alias berpikir berlebihan, yang terkadang bisa mengganggu aktivitas dan mungkin pola tidur harian.
Menurut seorang psikoterapis dan pendiri Forward in Heels yang berbasis di New York City, Jenny Maenpaa, overthinking merupakan kecenderungan kecemasan yang kerap dimiliki oleh banyak orang.

"Ada banyak cara yang bisa membuat kita overthinking seperti mengulang masa lalu, merasa khawatir, dan terobsesi dengan apa yang mungkin terjadi di masa depan," kata dia.

"Ketika saya masih muda, overthinking bisa menurunkan kualitas hidup saya."
"Bahkan, penelitian telah menunjukkan, overthinking dapat menurunkan energi, membatasi kreativitas, dan menyebabkan masalah tidur," sambung dia.

Untungnya, overthinking bisa diatasi dengan menerapkan beberapa strategi yang baik dan tentunya positif di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Nah, untuk itu, Maenpaa pun membagikan beberapa cara yang sering dia lakukan untuk menghentikan kebiasaan overthinking.

1. Mengubah perspektif yang lebih positif
Memiliki sudut pandang atau perspektif yang lebih positif ini sering kali dikacaukan dengan "toxic positivity", yang meminta orang untuk berpikir positif tidak peduli seberapa sulit situasinya.

Tapi, di sisi lain, hal ini memungkinkan kita untuk mengakui aspek negatif, kemudian meminta kita mengevaluasi apakah ada cara lain untuk memikirkan situasi tersebut.
Mungkin ada manfaat atau hal yang dapat kita ubah tentang hal itu.

Misalnya, kita terus-menerus mengeluh karena kita membenci tanggung jawab atau pekerjaan kita yang melelahkan secara emosional dan mental.

"Itu mungkin terasa baik untuk sesaat, tetapi tidak menyelesaikan apa pun. Dan kemungkinan besar kita akan terus memikirkan seberapa besar kita membenci pekerjaan kita," ungkap dia.
Maka, dia pun menyarankan kita agar dapat membuat perspektif lebih positif untuk mengubah sesuatu tentang situasi yang menantang tersebut.

"Pola pikir ini memberi kita kekuatan untuk mengubah situasi, sehingga kita dapat memulai dari yang kecil dengan memeriksa tugas penting apa yang perlu diselesaikan terlebih dahulu," kata Maenpaa.

"Kuncinya adalah mengambil langkah mundur dan menangani hal-hal satu per satu," sambung dia.

2. Tuliskan apa yang kita pikirkan, lalu alihkan perhatian
Ketika otak kita berpikir bahwa kita berada dalam konflik atau bahaya, sistem alarm bawaan berbunyi secara internal untuk melindungi kita.

"Satu hal yang saya temukan adalah menuliskan perasaan saya dan menunggu setidaknya 24 jam (atau hanya beberapa jam jika itu masalah mendesak) sebelum menjawab atau mengambil tindakan impulsif apa pun," ungkap Maenpaa.

"Kemudian, saya menyimpan draf itu sementara saya mengalihkan perhatian saya dengan tugas lain," lanjut dia.
Sebagai contoh, kita baru saja menerima email tentang sesuatu yang salah.
Hal ini bisa membuat kita merasa kesal, jantung mulai berpacu, pernapasan menjadi dangkal, dan kita menjadi overthinking pada kesalahan itu.

"Apabila kita menanggapi email saat otak dalam mode alarm, kita mungkin mengatakan hal-hal yang akan kita sesali di kemudian hari dan memicu lingkaran setan overthinking," kata dia.

"Sementara, menuliskan pikiran negatif akan menghilangkan kekuatannya."
"Saya sering tidak merasa perlu untuk mengambil tindakan berdasarkan pikiran cemas saya setelah saya menuliskannya," ujar dia.

3. Mempraktikkan rasa syukur secara spesifik
Dalam psikologi, kita tahu bahwa mengungkapkan rasa syukur dapat meningkatkan kebahagiaan kita.

Ini juga dapat membantu kita mengontekstualisasikan frustrasi kita terhadap apa yang kita cintai.
Kondisi ini membantu kita terhubung ke sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri, baik itu orang lain, hewan, alam, atau kekuatan yang lebih tinggi.

"Tetapi saya menemukan bahwa mengulangi praktik syukur yang sama berulang-ulang dapat menjadi hafalan dan mengurangi hasilnya," ungkap Maenpaa.
"Bagi saya, itu bisa mulai terasa seperti tugas yang tidak berarti alih-alih latihan yang penuh perhatian."

"Jadi, saya suka mempraktikkan rasa syukur secara lebih spesifik," tambah dia.
Misalnya, daripada kita menulis di jurnal setiap hari bahwa kita bersyukur atas kesehatan, lebih baik kita menulis bahwa kita bersyukur sudah bisa bangun tanpa sakit punggung dan memiliki kemampuan untuk melewati hari.

"Ini membantu saya tetap fokus di sini dan sekarang, daripada terlalu memikirkan abstraksi yang umum," tutur dia.
"Besok, saya mungkin masih bersyukur atas kesehatan saya, tetapi saya mungkin secara spesifik akan bersyukur bahwa saya memiliki energi yang cukup untuk jangka panjang," imbuh dia.


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik