Korut Awal 2022: Minyak Goreng Rp718 Ribu sampai Warga Tak Gubris Kim

Foto ilustrasi. iStockphoto/narvikk

Di awal 2022, situasi Korea Utara terbilang 'unik'. Di tengah krisis pangan yang masih menjerat harga minyak goreng 'melonjak', sementara warga tampak masa bodoh dengan propaganda yang dilancarkan Pemimpin Kourt, Kim Jong Un.
Berikut situasi di Korea Utara yang dirangkum CNNIndonesia.com, berdasarkan laporan sejumlah media.

1. Harga Minyak Goreng Rp718 Ribu per Liter
Harga minyak goreng di Korea Utara melonjak hingga mencapai KPW45 ribu atau sekitar Rp718 ribu per liter di tengah krisis pangan yang terjadi.

Harga minyak goreng sebelumnya kurang dari KPW10 ribu atau Rp159 ribu per liter.
Salah satu faktor penyabab kenaikan ini yakni penutupan perbatasan dagang dengan China imbas Covid-19.

Selain harga yang melonjak, Korut juga mengalami kelangkaan minyak goreng karena jumlah yang tidak mencukupi di pasar, sehingga ada warga yang tak bisa mendapatkannya.

Menyiasati hal tersebut, warga Korut menjual minyak goreng dalam botol plastik kecil berukuran 50-100 gram.
Warga juga menggunakan minyak goreng dengan sangat irit.

Otoritas Korut berencana menyelesaikan masalah minyak goreng dengan menanam tanaman penghasil minyak seperti biji bunga matahari dan biji jarak. Namun, pada kenyataannya, tak ada perkebunan yang menanam tanaman penghasil minyak tersebut.

2. Gelar Konser Anak Anti-AS dan Korsel
Pemerintah Korea Utara menggelar konser anak-anak menampilkan propaganda anti-Amerika Serikat hingga pencegahan Covid-19. Negara ini, memang kerap mengadakan konser anak-anak tahunan dalam rangka menyambut Tahun Baru.
Konser ini mempromosikan propaganda anti AS melalui lagu dan pertunjukan anak-anak dengan kostum tentara. Mereka menampilkan pesan, "Matilah Imperialis Amerika!"

Lagu lain yang ditampilkan menunjukkan kesempatan penebusan dosa bagi masyarakat yang sempat punya pikiran anti-sosialis. Selain itu, ada juga gambar tentara yang menggunakan helm bertuliskan 'AS' menginjak dan menyerang perempuan Korea.

Selain itu, konser tersebut juga menampilkan protokol pencegahan Covid-19. Anak-anak tampil menggunakan kostum botol hand sanitizer dengan lagu yang mengajak mereka terus mengikuti aturan agar tak masalah besar.


3. Warga Cuek Dengar Propaganda Puji Kim Jong-un
Warga Korea Utara disebut bodo amat atau cuek saat mendengarkan propaganda pemimpin negara itu, Kim Jong-un.
Di tengah krisis yang terjadi, pemerintah Korut sempat mensponsori kelas propaganda warga untuk memusuhi Korea Selatan dan Amerika Serikat.

"Meskipun para dosen menyampaikan pidato dengan berapi-api, kebanyakan penonton menunggu waktu agar cepat berlalu, ataupun tertidur," kata salah satu warga dari Provinsi Hamgyong, Korea Utara, kepada Radio Free Asia pada 15 Desember.
Warga itu bahkan tak mengira masyarakat Korea Selatan akan takut dengan militer Korut.

Kelas propaganda itu kerap digelar di organisasi, partai, militer, atau sipil bagian dari latihan musim dingin tahunan.
Para pengisi kelas mengkritik Amerika Serikat dan Korea Selatan berkolusi menghadapi ancaman yang menakutkan dari Korea Utara.

4. Tak Dapat Kalender Gratis
Korea Utara Tak lagi memberikan kalender gratis kepada seluruh masyarakat karena krisis.
Inflasi yang terjadi membuat harga kalender naik, termasuk yang dikeluarkan pemerintah.
Dulu, Korut memberikan kalender secara gratis kepada masyarakat. Seiring berjalannya waktu mereka mengurangi memberikan hadiah.
Harga kalender meningkat empat kali lipat, dan memperburuk kondisi masyarakat di tengah krisis pangan.


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik