7 Sebab Nasibmu Sulit Berubah Jadi Lebih Baik, Tekadmu Cuma Setengah!

ilustrasi merenung (pexels.com/cottonbro)

Kalau serius berusaha seharusnya 
ada hasil

Nasibmu ada di tanganmu. Apabila kamu betul-betul menyadari hal ini, sudah semestinya kamu mengerahkan upaya terbaik untuk mengubah nasibmu dari malang menjadi penuh keberuntungan.
Meski tidak tersedia cara kilat buat mengubahnya, kemajuan seharusnya tetap ada asalkan kamu telah melakukan langkah-langkah yang tepat. Bukan malah bersikap seperti di bawah ini yang membuat perubahan nasib sukar terjadi.

1. Kamu sendiri tidak menganggap ada yang salah dengan nasibmu

ilustrasi merenung (pexels.com/Yan Krukov)

Contoh, sudah bertahun-tahun kamu hidup dalam kesulitan ekonomi. Namun kamu tidak berusaha buat ganti pekerjaan atau membuka usaha sampingan. Kamu berpendapat orang-orang dengan kondisi ekonomi lebih baik harus selalu mau membantumu.

Begini, sekalipun orang dengan nasib yang lebih baik punya kewajiban membantu, kamu sendiri juga wajib memperjuangkan nasibmu. Jangan diam saja dan akhirnya cenderung menyalahkan orang lain yang tak bisa terus menolongmu.

2. Kamu tak mengubah kebiasaan-kebiasaan lama yang negatif
Bila kamu ingin mengubah nasib, yang pertama harus kamu sadari adalah barisan panjang kebiasaan negatif diri sendiri. Kira-kira kebiasaan jelek apa saja yang menyebabkan nasibmu seburuk ini?

Apakah kamu pemalas, suka bergaul dengan orang-orang yang gak memberikan pengaruh baik, atau yang lain? Apabila kamu telah menyadari kebiasaan-kebiasaan negatif itu, tugas berikutnya ialah membangun kebiasaan baru yang kebalikannya.

3. Anti terhadap kritik dan nasihat

ilustrasi diskusi (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Tidak semua kritik membangun sehingga kamu memang perlu bersikap selektif. Mendengarkan dan memikirkan semua kritik malah bisa membuatmu merasa serba salah. Kamu pun kehilangan kebebasan serta keberanian untuk melakukan apa saja.

Namun, perlu dicatat bahwa menutup telinga dari setiap kritik benar-benar merugikan diri sendiri. Tak semua kesalahan diri dapat kamu sadari. Di situlah orang lain mengambil peran untuk memberitahumu.

Jika kritik lebih pada menunjukkan letak kesalahanmu, nasihat cenderung langsung memberitahukan jalan terang untuk kamu tempuh. Sejauh kamu telah memfilternya, baik kritik maupun nasihat yang diperoleh pasti bakal amat berguna dalam kehidupanmu.

4. Malas belajar karena merasa sudah tahu semuanya
ilustrasi belajar (pexels.com/RODNAE Productions)

Punya keinginan mengubah nasib bila tak diiringi dengan kemauan untuk terus belajar akan seperti kendaraan tanpa mesin. Kendaraan itu punya roda, tapi tidak bisa bergerak ke mana-mana.
Ilmu itu penting dan menimbanya tak seperti menimba air di sumur yang ada dasarnya. Dengan kata lain, tidak akan habis ilmu ditimba alias kamu memang harus terus belajar untuk menambah pengetahuan dan keterampilan.

5. Sinis sekali pada nasib baik orang lain
Ketika kamu bersikap sinis pada nasib baik orang lain, kamu tidak dapat berharap nasib serupa mau menghampirimu. Tanpa kamu sadari, kamu malah membangun jarak dengan nasib baik.

Coba kamu amati. Adakah orang yang pekerjaannya mencela nasib baik orang lain dapat meningkatkan kualitas kehidupannya? Justri yang terjadi kehidupannya malah tambah berantakan. Minimal terus stagnan.

6. Tidak hidup sepenuhnya pada hari ini

ilustrasi menikmati waktu (pexels.com/Enes Çelik)

Ada dua kemungkinan dalam hal ini. Pertama, kamu terjebak di masa lalu. Kedua, kamu justru melompat terlalu jauh ke masa depan. Padahal, seharusnya kamu berpijak pada hari ini.
Contoh dari terjebak masa lalu adalah kamu hanya sibuk mengenang masa-masa ketika nasibmu amat bagus. Sementara itu, hidup di masa depan ditandai dengan kamu selalu berangan-angan nasibmu sudah kembali pulih.

Dengan kamu tidak hidup sepenuhnya pada hari ini, kamu tak memiliki jembatan yang menghubungkan antara kenyataan di masa lalu dengan harapan di masa depan. Kalau begini, nasib seperti apa pun yang kamu harapkan tak mungkin dapat terwujud.

7. Lambat dalam mengenali dan memanfaatkan kesempatan
Bayangkan kamu terjebak dalam sebuah ruangan dengan pintu rahasia. Kalau kamu tidak jeli dalam memperhatikan dinding dan perabot yang ada di sana, kamu pasti tak akan menemukan pintu rahasia itu.
Demikian juga jika ada batasan waktu untukmu bisa menggunakan pintu rahasia. Terlambat sedikit saja dalam menemukan pintu rahasia itu, kamu selamanya tak dapat keluar dari sana. 

Begitulah kesempatan untukmu mengubah nasib bekerja. Kamu harus peka agar dapat lekas mengenalinya, sekaligus cerdas dalam memanfaatkannya. 

Di mana ada usaha yang sungguh-sungguh, pasti akan ada perbaikan nasib. Walaupun tidak instan, setiap perubahannya niscaya makin mendongkrak semangatmu sehingga ganti nasib tak lagi sekadar angan-angan.


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik