Memahami Risiko dan Bahaya Pakai Paylater


Jakarta, Paylater telah menjadi opsi pendanaan sekaligus pembayaran di masyarakat pada saat ini. Tren 'beli sekarang bayar nanti' ini berkembang karena semakin banyak pemberi fasilitasnya, mulai dari perusahaan berbasis ride hailing hingga e-commerce.

CFP Learning & Development Manager Advisors Alliance Group Indonesia Andy Nugroho mengatakan konsep paylater ibarat kartu kredit. Pasalnya dengan opsi ini, perusahaan pemberi fasilitas akan menalangi kewajiban pembayaran penggunanya atas barang yang dibeli, seperti, pembelian makanan, tiket penerbangan, booking hotel, hingga barang-barang lain di e-commerce.

Setelah itu, pengguna harus mengganti dana talangan tersebut. Biasanya, jumlah dana pengganti sejumlah harga pembelian barang atau jasa ditambah biaya administrasi (fee).

Setelah itu, pengguna harus mengganti dana talangan tersebut. Biasanya, jumlah dana pengganti sejumlah harga pembelian barang atau jasa ditambah biaya administrasi (fee).

Bila telat, biasanya akan ada denda. Besarannya bervariasi tergantung ketentuan dari pihak pemberi fasilitas paylater.

Menurut Andy, paylater sebenarnya memiliki beberapa manfaat atau keuntungan bila digunakan dengan tepat. Pertama, itu bisa menjadi sumber dana darurat ketika benar-benar mendesak.

Contohnya, orang tua mendadak sakit di kampung halaman dan Anda sebagai anak harus segera pulang. Tapi, pengeluaran Anda sedang banyak dan tidak punya dana darurat, apalagi kartu kredit.

Maka, paylater bisa digunakan, misalnya untuk memesan tiket transportasi untuk pulang kampung. Nanti, di akhir bulan, ketika sudah gajian, baru Anda lunasi dana talangan dari paylater tersebut.

"Asal setelah itu dipastikan kita bisa bayar dengan penghasilan kita atau gaji kita di akhir bulan nanti," ujarnya.

Kedua, untuk mengatur arus kas alias cash flow. Menurutnya, layanan paylater bisa digunakan untuk mengatur arus kas, misalnya agar berbagai pengeluaran tidak keluar dalam satu waktu, tapi ada yang dibayar pada akhir bulan atau dicicil misalnya.

Ketiga, layanan paylater juga bisa digunakan untuk mendapat promo. Sebab terkadang, e-commerce memberikan promo potongan harga, diskon, hingga uang kembali alias cashback bila menggunakan layanan ini.

Nah, kadang kala meski harus membayar fee kepada e-commerce tersebut atas penggunaan fasilitas paylater, tapi nilai promo yang didapat bisa jauh lebih besar, sehingga menguntungkan.

Kendati begitu, Andy mengatakan paylater bukan berarti tanpa kekurangan. Fasilitas ini tetap punya risiko dan bahaya bagi pengguna bila tidak bijak. Berikut beberapa risikonya:

1. Utang
Andy mengatakan paylater sejatinya ibarat menggunakan kartu kredit. Artinya, Anda tetap berutang untuk membeli apa yang diinginkan.

Saat berutang, maka ada kewajiban pembayaran yang perlu dilunasi. Hal ini tentu akan memberi beban pada keuangan Anda.
"Padahal seharusnya utang dihindari, apalagi utang yang bersifat konsumtif," tuturnya.

2. Bunga
Selanjutnya adalah bunga. Sama seperti utang lainnya, maka ada bunga yang harus dibayar. Bunga ini berbentuk fee atas pemberian fasilitas.

Bahkan, kewajiban ini bisa lebih besar dari nominal pembelian karena disertai fee dan ada bayang-bayang denda bila terlambat membayar. Selain bunga, ada pula tenor atau jangka waktu pelunasan pembayaran dana talangan.

"Kartu kredit kalau di akhir bulan langsung bayar, kita bisa tidak kena bunga sama sekali, sedangkan paylater walau bayar di akhir bulan, tapi sudah termasuk bunganya," ucapnya.

3. Denda
Selain utang, paylater juga memiliki risiko berupa denda. Denda perlu dibayarkan ketika kewajiban pembayaran tidak dilunasi sebelum batas waktu yang berlaku.
Besaran denda biasanya bervariasi, tergantung perjanjian dengan pihak pemberi fasilitas paylater. Hanya saja yang pasti, denda ini menambah pengeluaran Anda dalam melakukan pembayaran untuk pembelian barang dan jasa, sehingga perlu diwaspadai ketika menggunakan paylater.

"Jadi sama dengan pinjaman lain, ini ada risiko dendanya yang harus dikalkulasi," imbuhnya.

4. Konsumtif
Menurut Andy, risiko lain dari paylater adalah menimbulkan pola hidup yang konsumtif. Sebab, penawaran paylater saat ini lebih banyak untuk aktivitas konsumsi.

Misalnya, membeli makanan dan minuman, tiket perjalanan, booking hotel, belanja barang dan jasa, serta lainnya. Sementara paylater untuk aktivitas produktif sebenarnya ada, tapi pemanfaatannya cenderung minim.

Nah, hal ini justru bisa menjadi risiko bila paylater tidak digunakan dengan bijak. Apalagi, tren konsumsi masyarakat terus meningkat dan bervariasi dari waktu ke waktu.

Contohnya, ketika pelonggaran pandemi covid-19, masyarakat mulai ingin lagi berpergian ke luar kota untuk liburan. Hal ini tak jarang membuat masyarakat pada akhirnya menggunakan paylater.

"Ada orang yang bilang YOLO, you only live once, hidup cuma sekali, harus dinikmati dengan melihat destinasi wisata yang harus dikunjungi sebelum meninggal. Nah, kadang kita terjebak sama hal-hal seperti ini, tanpa pikir panjang, beli tiket, bayar pakai paylater," terangnya.

Padahal, menurutnya, penggunaan paylater yang seperti ini kurang tepat. Sebab, hanya untuk kepentingan gaya hidup saja, bukan kebutuhan mendesak.

5. Ketergantungan
Risiko lain adalah ketergantungan. Maklum saja, paylater sangat mudah dan cepat diakses. Contoh, bila Anda pengguna aplikasi ride hailing yang menggunakan dompet digital aplikasi tersebut, biasanya sudah langsung secara otomatis bisa mengakses fasilitas paylater.

Bahkan, tanpa perlu registrasi dulu, meski mungkin limit yang diberikan masih terbatas. Tapi, tinggal 'klik' langsung bisa digunakan.

"Ini riskan membuat kita mendapatkan apa yang kita butuhkan, apa yang kita inginkan, sesegera mungkin, tanpa kalkulasi," pungkasnya.


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik