Transaksi E-commerce Makin Bertaji

E-commerce menjadi sektor industri ekonomi digital yang bertabur berkah saat pandemi Covid-19. Semakin banyak konsumen beralih ke belanja online sejalan pembatasan aktivitas. Ini membuat ekonomi digital di dalam negeri melaju kencang.

Menjadi lebih bertaji, lantaran e-commerce rajin menciptakan momen-momen seperti 9.9 dan 11.11, yang mendorong orang berbelanja.  Head of Public Affairs Shopee Indonesia Radynal Nataprawira menyebut, ada peningkatan yang signifikan dalam aktivitas belanja online di masa pandemi. 

Selain pergeseran pola belanja, minat masyarakat berbelanja secara daring juga didorong berbagai event promosi dan diskon. "Festival belanja 9.9 Super Shopping Day mencatat 1,8 juta transaksi dalam waktu satu menit dan dua jam pertama secara regional. Pesanan produk UMKM selama 9.9 naik enam kali lipat dibandingkan hari biasa," ujar Radynal kepada KONTAN, Jumat (12/11).

External Communications Senior Lead Tokopedia Ekhel Chandra Wijaya menambahkan,   tak hanya peningkatan nilai penjualan, tapi juga terjadi kenaikan jumlah penjual maupun pengguna aktif  saat pandemi. "Selama pandemi, ada peningkatan jumlah penjual di Tokopedia dari 7,3 juta menjadi lebih dari 11 juta saat ini. Jumlah pengguna aktif naik dari 90 juta menjadi 100 juta," katanya.

Perbankan turut meraup berkah dari peningkatan transaksi e-commerce. PT Bank Central Asia (BCA) Tbk, misalnya, mencatatkan total nilai transaksi e-commerce mencapai Rp 285 triliun hingga Oktober 2021, melonjak lebih dari 50% dari periode sama di 2020 lalu.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan, total nilai transaksi e-commerce tahun ini bisa menembus Rp 395 triliun, tumbuh 48,4% year on year (yoy). Ini sejalan dengan tingginya transaksi ekonomi dan keuangan digital yang didukung dengan peningkatan minat masyarakat untuk belanja daring.

Sejalan, Temasek, Google, serta Bain & Company dalam laporan terbaru: e-Conomy SEA 2021 menyebutkan, nilai ekonomi digital Indonesia mencapai US$ 70 miliar pada 2021. Jumlah ini meroket 49% dibanding raihan di 2020 yang sebesar US$ 47 miliar. 

Kepala Investasi Strategis sekaligus Kepala Asia Tenggara Temasek Rohit Sipahimalani bilang, pendorong peningkatan ini, salah satunya adalah pertumbuhan e-commerce. "Subsektor perdagangan e-commerce tercatat US$ 53 miliar atau naik 52% dari US$ 35 miliar pada tahun 2020," ungkap dia.

Ke depan, ekonomi digital Indonesia bisa tumbuh lebih pesat. Pada 2025, diperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia mampu mencapai US$ 146 miliar atau tumbuh rata-rata 20% per tahun.
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM UI Teuku Riefky menuturkan, pertumbuhan e-commerce memegang peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Hanya, kontribusinya masih relatif kecil dibanding keseluruhan perdagangan besar dan eceran yang mencapai 13% terhadap produk domestik bruto (PDB). 

Tapi kelak, prospek e-commerce makin cerah. Untuk itu, pemerintah perlu melakukan beberapa hal untuk mendukung perkembangan e-commerce agar berkontribusi lebih besar bagi ekonomi. Pertama, membangun infrastruktur internet dan meningkatkan aksesbilitas masyarakat terhadap internet serta telekomunikasi. Kedua, membangun konektivitas untuk mempermudah distribusi barang.