Pindah ke Kanada, Sacha Stevenson Keluhkan Hal Ini & Ungkap RI Lebih Maju


Jakarta, YouTuber Sacha Stevenson kembali hadir dengan cerita-cerita barunya nih, Bunda. Kali ini soal keluhan ia dan sang suami, usai pindah dan menetap di satu kampung negara asalnya, yakni Kanada.
Sebelum memulai, Sacha Stevenson ungkap bahwa dirinya sudah pantas menganggap apa-apa yang akan ia lontarkan sebagai keluhan. Menurutnya, keluhan-keluhan tersebut cukup ditahan selama sebulan sambil beradaptasi dengan semuanya.

Nah, Bunda penasaran kira-kira apa saja keluhan yang disampaikan Sacha dan suaminya tersebut? Selengkapnya, simak sebagai berikut, ya.

1. Sulit transfer uang
Hal pertama yang menjadi poin keluhan Sacha Stevenson dan sang suami yakni soal perbankan, Bunda. Katanya, sistem di sana sangat rumit dan menyulitkan keduanya.
"Transfer antarbank susah buat saya," dikutip dari channel YouTube Sacha Stevenson pada Selasa (19/10/2021).

Sacha Stevenson lantas menceritakan kronologi soal transfer uang yang ia alami. Katanya, ia tak bisa mengirim uang dari rekening pribadi ke bank lain, padahal kedua rekening tersebut miliknya.

"Kemarin kita coba transfer antar bank online ya, mereka harus lewat email jadi enggak bisa. Kalau di Indonesia, download mobile banking, kirim ke BRI atau BNI itu gampang, gitu. Beberapa klik selesai tidak ada yang punya masalah."

"Saya mau kirim dari Sacha Stevenson ke Sacha Stevenson lagi tapi beda bank dari e-mail. Kirimnya ada batas karena aku bukan orang penting, cuma $1000 perhari," bebernya dengan emosi.

Enggak sampai di situ, transaksi tersebut pun benar-benar ditolak. Ini karena aktivitas tersebut dinilai mencurigakan, sehingga ia diminta untuk hubungi pihak bank agar tetap dapat lakukan transfer uang
"Itu pun ditolak karena 'Fraud Detected. Please contact your provider' (Penipuan Terdeteksi. Silakan hubungi penyedia anda)," katanya.

Mau enggak mau, hal tersebut harus Sacha lakukan agar urusannya cepat selesai. Namun, merepotkan kembali ia temui. Proses yang ia lalui melalui telfon menghabiskan waktu hingga 4 jam lamanya.
"Terus saya telfon, 4 jam lho telfon ke sana-sini. Its a nightmare (itu mimpi buruk)," sambungnya dengan emosi.

2. Harus bikin janji
Hal lain yang menjadi keluhan Sacha dan sang suami yakni soal appoinment atau janji temu, Bunda. Di Kanada, hampir sebagian besar aktivitas dan layanan dimulai dengan membuat janji temu dahulu.
"Apa-apa di sini harus bikin appointment (janji temu) dahulu. Itu keluhan yang kedua," kata Sacha.

Pengalaman harus janji temu ini juga ditemui dalam hal perbankan, Bunda. Ini terjadi saat suami Sacha ingin membuka rekening baru di sana.
Namun saat tiba di tempat, pihak bank justru meminta mereka untuk lakukan janji temu dahulu dan tak langsung melayani. Tak tanggung-tanggung, keduanya diminta untuk menunggu dan datang lagi minggu depan.

"Mau buka rekening bank, pertama kita disuruh tunggu satu minggu like, "Oh buka rekening, ya? Kamu buru-buru? Lama bikin rekening di sini baru ada minggu depan. Ke sini lagi minggu depan', begitu," tutur Sacha tak menyangka dengan pengalaman tersebut.

Padahal, orang yang akan mereka temui untuk bikin rekening itu sebenarnya ada di sana, Bunda. Hanya saja, orang tersebut menolak dengan alasan sibuk dengan pekerjaan lain.

"Padahal banknya sepi-sepi saja saat itu," sambungnya.
Lantas, mereka pun pergi mencari bank lain. Di tempat ke dua, mereka juga diminta untuk bikin janji temu lagi. Namun untungnya, bank tersebut hanya meminta agar Sacha dan sang suami menunggu satu hari saja.

"Tapi kita ke bank kedua dan kita dapat appointment besoknya. So tergantung keberuntungan.
Berbicara soal janji temu, sebetulnya ada banyak pengalaman Sacha lainnya yang tak kalah bikin geleng-geleng kepala, Bunda. Termasuk salah satunya saat ia ingin memasang listrik di rumah baru.

Ia harus bikin janji dahulu, lalu karena Sacha sebelumnya tinggal lama di Indonesia, ia sempat tidak dipercaya akan membayar listrik secara rutin dan tepat waktu. Akhirnya, ibunda Sacha pun harus terlibat untuk menandatangani perjanjian sebagai jaminan bahwa dirinya mampu bayar listrik setiap bulan.

"Indonesia is so much advance (Indonesia jauh lebih maju). Ada listrik prepaid, listrik kalau kurang ke supermarket atau lewat handphone, bisa online banking semuanya gampang," katanya.

3. Mobile data mahal
Sacha bilang, orang-orang yang pakai WhatsApp akan dianggap sebagai orang kaya, lho. Ini karena harga paket data internet handphone sangat mahal.
Dengan kondisi tersebut, maka provider yang ada menyediakan layanan telepon dan SMS sepuasnya. Soal internet, orang-orang setempat tampaknya lebih memilih pakai Wi-Fi.

"Pakai paket data handphone (mobile data) itu, telepon (bisa) sepuasnya, SMS sepuasnya. Tapi data (internetnya) cuma dikasih seperak (sedikit sekali)."
"Two Gigabyte (2GB) for $80 (kurang lebih Rp800 ribu). Itu makanya mereka enggak pakai WhatsApp, karena mereka dapat unlimited SMS," sambungnya.

Sacha sendiri akui bahwa dirinya kini memakai aplikasi gratisan. Itu pun baru dapat ia gunakan selama berada di rumah dan terkoneksi dengan wifi milik ibundanya.
"Jadi aku pakai aplikasi gratis, terus pakai Wi-Fi ibu. Tapi kalau mau telepon saya, lagi enggak di rumah, enggak bisa."

"I mean like, 'What your Canadian number?' (Maksudku, (kalau ada yang tanya) 'Apa nomor Kanada mu?), 'I can't afford one' (Saya tidak mampu membelinya)," tutur Sacha memberi contoh saat ada yang meminta nomor handphone lokal miliknya.

4. Sewa kontrakan mahal dan ribet
Hal lain yang turut menyulitkan Sacha dan sang suami yakni saat mencari tempat tinggal, Bunda. Keduanya ungkap bahwa menjadi hunian di sana amat mahal, tak mudah, dan ribet, lho.

"Cari kontrakan like apartemen itu ribet, susah carinya, dan mahal dua kali lipat dari rumah bagus kami yang lama di Bali."
"Itu dahulu rumah bagus, enak ada kolam berenang. Di sini duit segitu itu tidak cukup. Butuh duit lebih dan itu pun kita dapat tempat yang kecil juga mereka banyak sekali mintanya," sambungnya.

Sama seperti keluhan sebelumnya, untuk menemui pemilik rumah atau agensi yang memilikinya, Sacha dan suami juga harus lakukan janji temu. Tak seperti di Indonesia yang tinggal telepon nomor yang tertera di halaman rumah, langsung bertemu di tempat untuk cek kondisi

"Sama, itu juga harus janji. Enggak bisa naik lewat telepon ke 'for rent' minta ketemuan di depan rumahnya. Enggak bisa."
"Pas ditelepon juga harus isi form, nanti kalau dia cocok sama kita baru dihubungi lagi," ujarnya.

5. Rumah sakit tutup
Terakhir, Sacha Stevenson ungkap ini sebagai cerita lucu, Bunda. Pasalnya, ia tak habis pikir, karena bisa-bisanya ada rumah sakit yang tutup jam operasi dan tak melayani keadaan darurat.
"Ini bukan keluhan, ini cerita lucu. Rumah sakit tutup," katanya dengan mimik wajah datar.

"Long weekend yang lalu, rumah sakit terdekat dari kampung (tempat tinggal), mereka menutupnya. Emergency room, closed."
"Jadi kalau jarimu terpotong, mereka akan 'Oh, maaf. Tutup," sambungnya.

Sacha kemudian menjelaskan jika hal-hal buruk memang terjadi, maka mereka harus pergi ke kota sebelahnya. Dan tentunya, itu akan memakan waktu yang lebih lama.
Lebih lanjut, suami Sacha juga ungkap bahwa tutupnya rumah sakit tersebut karena tak adanya dokter maupun perawat, Bunda. Sehingga tak ada yang bisa berjaga di sana.

"Karena apa? Karena enggak ada perawat dan dokternya."
"Jadi mungkin kalau ada subscriber perawat atau dokter yang melamar kerja, kalau profesi gitu kayaknya gampang kali ya dapat kerjaannya," sarannya.
"Iya. Tapi harus hidup di mobil," sambung Sacha.
"Kenapa?"
"(Kayak kita) Cari apartemen susah," sambil tertawa terbahak-bahak bersama sang suami.


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik