Pemodal Asing Mau Cabut dari China, Bakal ke RI atau Vietnam?


Jakarta, CNBC Indonesia - Partner di Consulting Firm Asia Perspective, Johan Annell, mengatakan krisis listrik yang dialami China akan mendorong para pebisnis atau investor asing di sana untuk mempertimbangkan investasinya ke negara lain.Dalam beberapa terakhir,pemerintah lokal China juga melakukan pembatasan penggunaan listrik atau bahkan menghentikan produksi pabrik.

"Beberapa perusahaan mulai bimbang tentang investasi di China. Mereka memilih untuk tidak melanjutkan sekarang," kata Annell, dikutip CNBC International, Senin (4/10/2021).

Dia mengatakan, kondisi ini terjadi akibat China menghadapi kurangnya pasokan batu bara untuk menghasilkan listrik. Selain itu, otoritas regional di sana juga berada di bawah tekanan guna mematuhi seruan pemerintah pusat dalam mengurangi emisi karbon.

Pemadaman listrik yang terjadi di kota-kota China, mulai dari pusat ekspor selatan Guangdong ke Shenyang, lalu ibu kota provinsi timur laut Liaoning, telah membuat pemerintah setempat memerintahkan pembatasan penggunaan listrik dengan daya rendah, atau pemutusan arus listrik tanpa pemberitahuan.

Kejadian ini juga mendorong beberapa ekonom China merevisi kembali perkiraan pertumbuhan PDB Tiongkok untuk tahun ini.

Hingga saat ini, Kementerian Perdagangan China menunda memberikan komentar berkaitan dengan konferensi pers mingguan, yang ditetapkan pada Kamis sore lalu.

"Investasi bisnis asing yang direncanakan ini mencapai puluhan juta dolar AS," kata Annell.

Sementara China masih menjadi "tujuan yang sangat kuat" untuk industri manufaktur. Dia mengatakan bahwa para bisnis saat ini mulai mencari lokasi berinvestasi di Asia Tenggara, khususnya Vietnam.

"Ketidakpastian - tidak ada yang benar-benar tahu situasi keseluruhan, bagaimana hal itu akan berkembang, bagaimana hal itu akan diterapkan [dalam] beberapa bulan mendatang di kota dan provinsi Anda," katanya, mengutip percakapan dari manajemen perusahaan setidaknya ada 100 pebisnis.

Provinsi Guangdong menghasilkan ekspor terbanyak di China, sekitar 23% dari total ekspor untuk tahun ini hingga Agustus, menurut data resmi yang diakses melalui data Wind Information, perusahaan data keuangan China.

Provinsi Liaoning menempati urutan ke-16 dalam hal nilai ekspor, yaitu 1,6% dari total ekspor nasional.

"Ketidakpastian ini dalam jangka pendek, ini adalah sesuatu yang dapat Anda tangani selama seminggu atau lebih dan mengejarnya dari waktu ke waktu," kata Annell.

"Masalah yang lebih besar adalah ketidakpastian ini. Ini mungkin akan berlanjut untuk dua kuartal mendatang," katanya.

Para pemimpin asosiasi bisnis AS dan Eropa, dilansir CNBC, memang sudah mengkonfirmasi bahwa pemadaman listrik terbaru di sana mempengaruhi keputusan investasi bisnis asing di China.


CNBCindonesia.com