Ngalahin Harga Batu Bara, Aset Ini Meroket 220% Cuma Sepekan!


Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melonjak luar biasa sepanjang tahun ini. Kenaikannya sempat memecahkan rekor tertinggi sejak 2008 di posisi US$ 280/ton pada Selasa (5/10/2021). Rasanya, tidak ada komoditas lain yang mengalami kenaikan harga setajam si batu hitam.

Setelah menyentuh US$ 280/ton, harga batu bara 'terjun bebas' seiring adanya aksi ambil untung (profit taking) para investor.

Pada Rabu (6/10), harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) anjlok 15,71% ke US$ 236/ton dibandingkan hari sebelumnya. Sementara, pada Kamis kemarin (7/10), harga batu bara ambles 4,70% ke US$ 224,90/ton.

Kendati ambles dalam 2 hari terakhir, dalam sepekan harga batu bara masih naik 3,64%, sebulan melesat 26,10%. Kemudian, sejak akhir 2020 (year-to-date/ytd) harga batu bara 'meroket' 175,11%.

Lonjakan batu bara akhir-akhir ini ditopang oleh persediaan yang menipis di tengah permintaan yang meningkat karena pembukaan aktivitas ekonomi. Naiknya harga minyak bumi dan gas alam juga mempengaruhi kinerja batu bara yang akhir-akhir ini mencatatkan rekor harga tertinggi sepanjang masa.

Kenaikan harga gas alam, memang, menjadi faktor utama lonjakan harga batu bara. Saat gas alam semakin mahal, maka insentif untuk berpaling ke sumber energi primer alternatif meningkat. Salah satunya adalah batu bara.

Dalam sepekan terakhir, harga gas alam di Henry Hub (Oklahoma, Amerika Serikat) naik 5,67%. Selama sebulan ke belakang kenaikannya mencapai 26,07% dan secara year-to-date meroket 126,8%.

Di Eropa, biaya pembangkitan listrik dengan gas alam adalah EUR 89,4/MWh pada 5 Oktober 2021. Dengan batu bara, harganya hanya EUR 58,06/MWh. Ini membuat batu bara kembali menjadi primadona, bahkan di Eropa yang menjunjung tinggi isu ramah lingkungan.

"Melihat situasi di Eropa, gas alam sudah tidak lagi bisa bersaing dengan batu bara. Akibatnya, penggunaan batu bara semakin meningkat," sebut kajian ELS Analysis, konsultan energi yang berbasis di Swedia, seperti dikutip dari Reuters.

Apalagi, saat ini sejumlah negara di dunia sedang dilanda energi menjelang musim dingin tahun ini.

Kelangkaan pasokan dan naiknya harga gas, naiknya tarif bahkan padamnya listrik, serta sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) menjadi beberapa alasannya.

Berdasarkan kompilasi pemberitaan CNBC International, setidaknya ada tiga negara di dunia yang sedang mengalami hal tersebut, yakni Inggris, China, India. Beberapa mengamankan komoditas, seperti batu bara, untuk kelangsungan listrik warganya.

Lalu, aset apa yang bisa mengalahkan lonjakan harga batu bara sepanjang tahun ini?

Kisah Koin Kripto Berlogo Anjing Jepang

Namun, kenaikan fenomenal batu bara ternyata masih belum ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan reli kenaikan salah satu koin aset kripto (cryptocurrency), Shiba Inu (SHIB).

Apabila batu bara membutuhkan waktu sepanjang 2021 untuk melonjak hingga 230% (ketika di level US 280/ton), token kripto Shiba Inu hanya membutuhkan waktu sepekan untuk melonjak hingga 319% (per Kamis kemarin, pukul 16.04 WIB).

Tak pelak lagi, koin SHIB menjadi top gainers selama sepekan, mengacu pada data Coinmarketcap.com. Dengan lonjakan hingga lebih 300% tersebut, SHIB merangsek hingga ke daftar 17 koin kripto dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar.

Namun, catatan saja, seperti harga batu bara, harga koin berlogo anjing asal Jepang ini sedang mengalami aksi profit taking. Pada pagi ini, Jumat (8/10), pukul 7.45 WIB, koin Shiba ambles 17,56% ke US$ 0,00002342 dibandingkan hari sebelumnya. Sementara, dalam 7 hari terakhir koin SHIBA melesat 226,55%.

Sebelumnya, koin yang dijuluki "pembunuh Dogecoin"--koin meme lainnya yang juga bergambar anjing shiba inu--tiba-tiba melesat kencang pada perdagangan Rabu lalu. Hal ini terjadi setelah bos mobil listrik Tesla Elon Musk mengunggah foto anjing Shinu Iba sebagai anggota baru keluarganya di Twitter.

Foto itu memperlihatkan anjing Shiba Inu bernama Floki duduk di Tesla. Sebelumnya pada September lalu Elon Musk mengumumkan anggota baru keluarganya.

Jenis anjing itu memang menjadi maskot uang kripto Dogecoin. Elon Musk juga disebut sebagai DogeFather oleh netizen.

Tak lama setelah unggahan tersebut, nilainya meningkat 55% menjadi US$0,00001312. Volume melonjak tajam hingga 770% hanya dalam waktu satu hari saja, dikutip Economic Times, Rabu (6/10).

Namun lonjakan harga ini terjadi bukan hanya karena Elon Musk. Namun tim Shiba Inu nampaknya sedang membangun sebuah proyek, ungkap Ishan Arora, Partner Tykhe Block Ventures.

"Namun itu dimulai sebagai koin meme tanpa use case (kasus penggunaan) namun diubah karena tim nampaknya sedang mengerjakan hal-hal tertentu seperti pertukaran terdesentralisasi," kata dia.

Bukan hanya Shiba Inu, token meme lain juga saat itu mengalami lonjakan. Misalnya Husky sebanyak 140% dan Shiba Cash 75%, token 'anjing' lainnya Akita Inu, Baby Doug, Doggy, Kishu Inu dan Pitbull juga reli antara 15-35%.

Sementara, Jumat (8/10) pagi ini, harga ibu dari segala koin kripto, Bitcoin, saat ini sudah mencapai US$ 54.163/koin dan menembus nilai market cap US$ 1,01 triliun. Harga Bitcoin turun 1,10% dibandingkan sehari sebelumnya dan melesat 24,47% dalam sepekan.

Asal tahu saja, token SHIB dibuat pada Agustus 2021 oleh sosok dengan pseudonim Ryoshi. Shiba Inu, yang berbasis Ethereum, mencoba menyaingi sistem algoritma penambangan Dogecoin yang berbasis Srypt.

Pada 17 September 2021, bursa kripto terbesar di Amerika Serikat (AS) Coinbase memasukkan Shiba Inu ke platform mereka. Sejurus dengan itu, koin Shiba Inu melonjak 40% dan membuat koin ini kembali dilirik banyak investor kripto lainnya.


CNBCindonesia.com