NASA Temukan 'Harta Karun' Mepet Bumi, Bisa Bikin Kaya Raya!


Jakarta, CNBC Indonesia - Harta karun ditemukan di asteroid yang berada di sabuk Mars dan Jupiter. Kabarnya jika penambangan dilakukan, manusia di Bumi bisa langsung kaya raya.

Material pada asteroid tersebut disebut lembaga antariksa Amerika Serikat atau NASA dapat menghasilkan US$93 miliar untuk tiap manusia.

Asteroid bernama Psyche 16 memiliki jarak 230 juta mil atau 370 juta kilometer dari Bumi. Ukuran obyek tersebut sekitar 226 kilometer atau seluas Virginia Barat di AS.

Psyche 16 memiliki material besi nikel dan logam seperti emas serta platinum. Bahan penyusunnya berbeda dengan yang biasanya yakni mineral silikat (tipe-S) atau senyawa berkarbon (tipe-C).

Salah satu kabar menyebut nilai asteroid itu mencapai US$10.000 quadriliun. Bahkan ada yang mengatakan menembus US$700 quintilion.

Jika menggunakan asumsi US$700 quintilion, maka tiap penduduk Bumi berjumlah 7,6 miliar orang akan mendapatkan US$93 miliar jika berhasil menambang Psyche 16, dikutip dari Business Standard, Kamis (7/10/2021).

Kabar menggembirakan ini ternyata memiliki masalah mendasar. Yakni aktivitasnya masih terkendala hukum di Bumi.

Direktur Program Sektor Swasta di Secure World Foundation, Ian Christensen mengatakan belum ada kejelasan mengenai kepemilikan sumber daya di antariksa dari segi hukum. Kebanyakan aturannya disebut masih sangat ambigu, ucapnya.

"Ada beberapa celah dalam undang-undang, dan beberapa hal perlu diklasifikasi untuk memberikan kepastian lebih pada undang-undang saat ini," kata Christensen kepada CNBC Internasional.

Christensen menambahkan sampai sekarang belum ada otoritas tunggal untuk bertanggung jawab atas alokasi sumber daya di luar angkasa sana. Untuk sekarang, izin dikeluarkan oleh pemerintah pihak yang melakukan aktivitas.

"Penegakan dilakukan oleh otoritas pemerintah nasional, namun otoritas luar angkasa khusus belum ada," jelasnya.

Aturan terkait aktivitas antariksa dan dinilai paling komprehensif adalah Perjanjian Luar Angkasa oleh PBB yang keluar 1967 atau 54 tahun lalu. Namun kebingungan antar negara soal kegiatan luar angkasa masih terjadi.

Penggunaan sumber daya antariksa masih kabur, ungkap Rebeca Keller seorang analis sais dan teknologi Stratfor. Bahkan masalah ini bisa diartikan dalam dua arah dan menimbulkan perdebatan.

"Pemerintah dan bahkan para ahli di bidang ini masih memperebutkan penggunaan yang tepat dari sumber daya ini dan itu tetap jadi pertanyaan yang sulit untuk dijawab," ungkapnya.


CNBCindonesia.com