Dengan Electrifying Agriculture PLN, Petani Bawang Panen 5x Setahun


Program electrifying agriculture yang digencarkan PT PLN (Persero) membawa perubahan besar bagi petani. Petani bawang merah di Kabupaten Probolinggo telah merasakan hasil positifnya. Pengelolaan pertaniannya semakin maju dan modern. Termasuk, berhasil meningkatkan produktivitas.

Qusyairi, petani bawang merah dari Desa Pondokkelor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, mengaku sangat beruntung. Sejak menggunakan teknologi electrifying agriculture yang digagas PT PLN (Persero), produktivitas bawang merahnya mengalami kenaikan cukup signifikan. Dalam setahun, panen bisa 4 sampai 5 kali. Biaya perawatan yang dikeluarkan juga semakin murah.

”Satu kali panen saya hanya mengeluarkan biaya Rp 600 ribu. Sementara, tanpa listrik atau menggunakan jaring untuk melindungi tanaman bawang merah, biaya yang harus dikeluarkan antara Rp 7 juta sampai Rp 8 juta,” ungkapnya.

Dalam teknologi electrifying agriculture itu, Qusyairi memanfaatkan aliran listrik dengan daya 6.600 VA dari PLN. Listrik tersebut digunakan untuk kebutuhan pengairan dan lampu penerangan UV. Lampu tersebut dipasang di berbagai titik lahan. ”Tujuannya, untuk melindungi tanaman bawang merah dari serangan hama,” jelasnya.

Berbagai kemudahan yang ditawarkan dalam teknologi electrifying agriculture itu membuat Qusyairi tak ragu mengajak petani bawang merah lainnya untuk beralih menggunakan listrik PLN. ”Sangat mudah dan murah. Kualitas dan kuantitas bawang merahnya juga lebih bagus,” katanya.

Manajer PLN UP3 Pasuruan Daniel Lestanto mengatakan, lampu UV dan lampu LED berwarna putih yang dipasang di lahan pertanian berfungsi menarik hama agar menjauh dari tanaman bawang merah. Sehingga kualitas terjaga dengan baik. Imbasnya, hasil dan panen berlipat-lipat. Dengan adanya teknologi itu, kini petani bawang merah tidak lagi membutuhkan jaring.

Radarbromo

#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik