Awas! Industri RI Bisa Sekarat Karena Harga Batu Bara Meroket

Jakarta, CNBC Indonesia - Tren kenaikan harga batu bara memang menjadi berkah bagi Indonesia karena bisa meningkatkan penerimaan negara. 

Namun, kenaikan harga batu bara juga bisa menjadi bumerang bagi industri dalam negeri. Pasalnya, ongkos yang harus dikeluarkan industri untuk sumber energinya akan menjadi lebih besar dari biasanya.

Hal tersebut diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.

"Sekarang yang justru menjadi tantangan bagaimana batu bara di dalam negeri tetap kompetitif karena kalau terlalu tinggi juga industri dalam negeri kesulitan untuk memperoleh energi karena terlalu mahal," tutur Airlangga usai bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (07/10/2021).

Oleh karena itu, menurutnya perlu dicarikan keseimbangan antar sektor agar industri tidak dirugikan dari lonjakan harga batu bara ini.

"Nah ini kita harus mendorong keseimbangan antar sektor," kata eks Menteri Perindustrian itu.

Terlepas dari hal itu, Airlangga tetap melihat dampak dari kenaikan harga batu bara cukup positif bagi perekonomian nasional. Apalagi, harga komoditas tak menjadi satu-satunya indikator utama.

"Indikasi ekonomi meningkat. PMI sudah 52,5%. Kemudian juga kita lihat kredit dari pada konsumen. Berarti juga penerimaan juga sudah meningkat," jelasnya.

Sebagai informasi, harga batu bara saat ini masih berada di atas US$ 200 per ton. Harga yang begitu tinggi dikhawatirkan akan membuat pengusaha batu bara nasional jor-joran ekspor ketimbang memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Pada perdagangan kemarin, Rabu (06/10/2021), harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) tercatat mencapai US$ 236 per ton, anjlok 15,71% dibandingkan hari sebelumnya yang mencapai US$ 280 per ton. Meski anjlok, tetap saja harganya masih membubung di atas US$ 200 per ton, tertinggi bahkan setidaknya sejak 2008 lalu.


CNBCindonesia.com