Awas, Ancaman Selain Covid Ini Bikin Warga RI Berumur Pendek


Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia menghadapi ancaman perubahan iklim akibat polusi udara dan deforestasi. Hal itu tertulis dalam laporan berjudul "Air Quality Life Index 2021" yang dirilis para ilmuwan dari University of Chicago University of Chicago.

Mereka menyebut ini dikarenakan polusi udara yang ditimbulkan. Laporan itu menyorot polusi akibat pembangkit listrik batubara (PLTU) di yang diizinkan di Indonesia lebih tinggi dari China dan India.

"Pembangkit listrik tenaga batu bara Indonesia saat ini diizinkan untuk memancarkan tiga hingga 7,5 kali lebih banyak partikel, NOx dan SO2 daripada pembangkit listrik tenaga batu bara China," ujar laporan itu dikutip CNBC Indonesia beberapa waktu lalu.

Selain polusi udara kebakaran hutan dan deforestasi menjadi sesuatu yang digarisbawahi oleh para peneliti. Mereka mengkhususkan pada beberapa wilayah seperti Palangkaraya dan Palembang yang mengalami kabut asap pasca kebakaran hutan dalam beberapa tahun terakhir.

Ini mengancam harapan hidup di kedua wilayah itu. "Bagi penduduk kota-kota ini, harapan hidup bisa 2 tahun lebih rendah jika mereka tidak memenuhi standar WHO," tulis penelitian itu.

Peneliti pun juga mengatakan beberapa manfaat yang akan didapatkan Indonesia bila fokus dalam mengelola emosinya. Mereka mengklaim bahwa angka harapan hidup di Jakarta dan beberapa kota lain di Pulau Jawa bisa naik hingga di atas 5 tahun juga kualitas udara Indonesia menyamai standar WHO.

"Di pulau Jawa, pusat penduduk dan industri Indonesia, 11 juta penduduk Jakarta bisa mendapatkan rata-rata 5,5 tahun kenaikan dalam harapan hidup jika polusi partikulat memenuhi pedoman WHO," tambah laporan itu.

Sebelumnya alarm readyviewed perubahan iklim global juga sudah dialamatkan kepada Indonesia. Sebuah laporan dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menemukan bahwa dunia mungkin memanas hingga 1,5°C pada awal 2030-an. Ini mengancam kota-kota seperti Jakarta.


CNBCindonesia.com