Apabila Tapering Jadi di November, Aset Ini Harus Dihindari?


Ada satu di antara sejumlah aset lainnya, yang menderita selama pembicaraan soal tapering dimulai sepanjang tahun ini. Aset tersebut adalah emas.

Melihat Kembali 8 Tahun Silam

Berkaca pada kejadian 8 tahun lalu, atau 2013, ketika tapering membuat emas dunia masuk ke dalam tren bearish hingga tahun 2015. Harga emas pun hancur.

Menurut catatan Tim Riset CNBC Indonesia, titik terendah emas yang dicapai yakni US$ 1.045,85/troy ons pada 3 Desember 2015. Jika dilihat dari rekor tertinggi saat itu yang dicapai pada September 2011 US$ 1.920,3/troy ons hingga ke level terendah tersebut, artinya harga emas dunia ambrol 45,54% dalam tempo 4 tahun.

Ketakutan tersebut tentunya muncul lagi di tahun ini, sebab The Fed sudah berancang-ancang melakukan tapering. Sejak mencapai rekor tertinggi sepanjang masa US$ 2.072,49/troy ons pada 7 Agustus 2020 lalu, harga emas cenderung menurun. Salah satu penyebabnya ekspektasi tapering.

Memang, tapering, yang nantinya bisa diikuti dengan kenaikan suku bunga acuan--dan mungkin juga imbal hasil obligasi AS (US Treasury tenor 10 tahun)--bisa menekan harga emas. Ini lantaran permintaan terhadap emas berbanding terbalik dengan tingkat suku bunga--semakin tinggi suku bunga, akan membuat permintaan emas rendah dan begitu pula sebaliknya.

Selama ini, emas cenderung akan dijadikan aset lindung nilai (hedging) jangka panjang oleh investor ketika ekonomi kurang bersahabat, seperti misalnya ketika inflasi melesat.

Tetapi, seperti disebutkan di atas, The Fed akan melakukan tapering pada akhir tahun ini seiring laju inflasi yang tergolong tinggi dan data ekonomi lainnya 'bagus' demi mencegah mesin ekonomi panas (overheating). Tentu, ini bukan kabar baik bagi si logam kuning.

Menurut data Refinitiv, harga emas dunia di pasar spot turun 0,21% ke posisi US$ 1.756,67/troy ons dalam sepekan. Selama sebulan emas melorot 3,64%, sedangkan sepanjang 2021 ambles 7,37%.

Masih Ada Harapan untuk Emas?

Tapering memang akan membuat harga emas tertekan, tetapi kali ini justru banyak yang melihat emas masih punya kesempatan melesat.

Bank of America (BofA) menjadi salah satu institusi yang memprediksi harga emas akan melesat lagi. BofA mengakui jika tapering akan menekan dan membatasi penguatan harga emas, tetapi tidak menghilangkan potensi emas ke US$ 1.900/troy ons di akhir tahun ini.

BofA menjelaskan, emas akan berada di rentang US$ 1.800/troy ons dalam 3 bulan terakhir atau sepanjang kuartal IV tahun ini.

Dalam proyeksi terbarunya yang dirilis akhir Agustus, analis komoditas dari BofA mengatakan emas kehilangan kemilaunya karena para investor menanti kepastian tapering dari The Fed. Tetapi, ada satu hal yang membuat outlook emas cerah, yakni inflasi yang tinggi di Amerika Serikat (AS).

"Saat perekonomian AS terakselerasi, inflasi seharusnya naik, dengan pasar melihat outlook inflasi yang melandai, ketika terjadi kenaikan tajam maka hal itu akan mendorong kenaikan harga emas. Fokus pelaku pasar tertuju pada tapering, sehingga emas menjadi kurang menarik bagi investor saat ini," kata analis BofA, sebagaimana dilansir Kitco (26/8/2021).

Selain itu, investor ternama Jeffery Gundlach yang dikenal sebagai "Raja Obligasi" juga melihat harga emas akan terus menanjak. Tetapi Gundlach melihatnya dalam jangka panjang akibat dolar AS yang akan mengalami penurunan.

Menurutnya, penurunan dolar AS tidak bisa dihindari, sebab kebijakan ekonomi yang diterapkan pemerintah AS, yang membuat utang menjadi membengkak. Ia memprediksi dolar AS setidaknya akan ambrol 25%.

"Keyakinan saya yang pertama adalah dalam beberapa tahun ke depan, saya tidak berbicara hitungan bulan sama sekali tetapi tahun, dolar AS akan terus mengalami penurunan," kata Gundlach pada Yahoo Finance.

"Penurunan dolar AS menjadi salah satu alasan kita akan memilih emas. Saya pikir harga emas akan naik sangat tajam, tetapi saat ini masih berhibernasi," tambahnya.

Memang, saat ini pemulihan ekonomi global masih berpotensi diwarnai hambatan, termasuk sentimen negatif dari kasus krisis likuiditas perusahan properti di China hingga krisis energi yang dialami sejumlah negara.

Lebih lanjut, analis Sprott Asset Management dalam ulasannya di Kitco, pada Selasa (4/10), menjelaskan, selain hal di atas, masih rendahnya suku bunga juga riil turut menyumbang dorongan terhadap harga emas.

"Ketidakpastian pasar yang meningkat dan adanya tanda-tanda pelemahan pertumbuhan ekonomi global menjadi alasan kuat bagi para investor untuk mempertimbangkan lagi emas," jelasnya.


CNBCindonesia.com