Terungkap, Pembajak 9/11 asal Saudi Beraksi dengan Dukungan di AS

Pesawat komersial AS yang dibajak menabrak menara kembar WTC di New York, AS, 11 September 2001. Foto/REUTERS/Sean Adair

WASHINGTON - Dua warga Arab Saudi pembajak pesawat dalam serangan 11 September 2001 atau 9/11 di Amerika Serikat (AS) diketahui beraksi dengan dukungan jaringan yang bermarkas di Amerika. Informasi terbaru ini diungkap mantan agen FBI Danny Gonzalez.
Gonzalez pernah bekerja dalam operasi penyelidikan serangan 9/11 yang dikenal sebagai "Operation Encore".

Dua pembajak pesawat komersial yang melakukan serangan 9/11 di AS merupakan warga Arab Saudi bernama Nawaf al-Hazmi dan Khalid al-Mihdhar. Namun keduanya tinggal di San Diego sampai serangan yang menewaskan hampir 3.000 orang itu terjadi.

Gonzalez angkat bicara setelah Presiden Joe Biden menandatangani perintah eksekutif pada Jumat pekan lalu yang mengarahkan Departemen Kehakiman untuk mengawasi tinjauan deklasifikasi beberapa dokumen yang terkait dengan serangan 9/11.

Perintah Biden itu keluar setelah ada tekanan dari keluarga korban serangan 9/11 yang menuntut untuk mengetahui apakah Arab Saudi membantu para pembajak. Perintah tersebut mengharuskan Jaksa Agung untuk merilis dokumen yang tidak diklasifikasikan dalam enam bulan ke depan.

Meskipun bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk merilis dokumen, Gonzalez mengatakan kepada CBS News bahwa dia yakin dua pembajak pesawat itu memiliki jaringan dukungan yang berbasis di AS.
"19 pembajak tidak dapat melakukan 3.000 pembunuhan massal sendirian," kata Gonzalez dalam wawancara televisi pertamanya tentang penyelidikan tersebut.

"Berdasarkan apa yang Anda temukan, apakah Anda yakin ada jaringan dukungan domestik untuk para pembajak?" tanya koresponden investigasi senior CBS News, Catherine Herridge, kepada Gonzalez.

"Jelas," jawab Gonzalez. "Saya tidak bisa mengomentarinya, tetapi Anda tidak harus menjadi agen FBI dengan pengalaman 26 tahun untuk mengetahuinya."
Gonzalez mengatakan dua pembajak, Nawaf al-Hazmi dan Khalid al-Mihdhar, dibantu oleh sejumlah orang Arab Saudi, termasuk Omar al-Bayoumi.

Bayoumi, yang bekerja untuk pemerintah Saudi, mengatakan dia secara acak bertemu dengan dua pembajak di sebuah restoran di Los Angeles dan mendesak mereka untuk pindah ke San Diego. Di sana, dia membantu mereka menemukan apartemen dan membuka rekening bank. Kedua pembajak bahkan memulai sekolah penerbangan di dekatnya.

Gonzalez mengatakan dia berada di bawah perintah FBI untuk tidak mengungkapkan informasi rahasia tertentu tentang "Operation Encore". Seperti mantan agen lainnya, Ken Williams, yang menulis memo sebelum 9/11 yang memperingatkan calon teroris sedang mengambil pelajaran penerbangan di Arizona.

"Buktinya ada di sana. Saya sudah melihatnya. Tapi saya tidak bisa menjelaskan secara spesifik karena perintah perlindungan," kata Williams.

"Saya tidak bisa duduk di pinggir ketika saya tahu yang sebenarnya," kata Gonzalez.
Keluarga korban serangan 9/11 menggugat Arab Saudi untuk mendapat kompensasi uang.

Kerajaan Arab Saudi secara resmi menyangkal keterlibatan dalam serangan 9/11, dan laporan Komisi 9/11 di AS tidak menemukan hubungan kerajaan dalam serangan tersebut.

Laporan komisi juga menemukan bahwa Bayoumi adalah "kandidat yang tidak mungkin untuk keterlibatan klandestin dengan ekstremis Islam," dan mengatakan "tidak ada bukti yang kredibel bahwa dia percaya pada ekstremisme kekerasan atau kelompok ekstremis yang sengaja dibantu."

CBS News menghubungi Kedutaan Arab Saudi di Washington dengan pertanyaan dan diminta untuk mendengar langsung dari Bayoumi, di antara warga negara Saudi lainnya. Seorang juru bicara kedutaan tidak berkomentar.

Gonzalez mengatakan publik akan belajar "banyak" jika catatan dari "Operation Encore"—yang dimulai dua tahun setelah laporan Komisi 9/11—dirilis, dan itu akan mengubah pemahaman publik tentang serangan 9/11.

Brett Eagleson memimpin sekelompok keluarga korban serangan 9/11 yang berjuang untuk perilisan dokumen sensitif tersebut. Dia berusia 15 tahun ketika ayahnya, Bruce, terbunuh di Menara Selatan World Trade Center (WTC)—dan dua puluh tahun kemudian, dia berkata dia ingin putrinya mengetahui rahasia serangan 9/11 dan siapa yang membunuh kakeknya.

"Kakek Anda adalah seorang pahlawan," kata Eagleson kepada putrinya.
Eagleson menyebut perintah eksekutif Biden sebagai "langkah pertama yang kritis" tetapi mengatakan dia tetap skeptis.

Menanggapi keputusan presiden untuk membuka rahasia beberapa dokumen, FBI mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka akan "terus bekerja dalam koordinasi dengan Departemen Kehakiman dan badan-badan lain untuk membongkar dan merilis dokumen yang berkaitan dengan penyelidikan 9/11."

AS secara resmi menuduh al-Qaeda yang didirikan Osama bin Laden sebagai dalang serangan 9/11. Serangan itulah yang memicu Amerika meluncurkan perang di Afghanistan karena rezim Taliban yang berkuasa di Kabul saat itu menolak menyerahkan Osama bin Laden dan petinggi al-Qaeda lainnya.


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik