Dolar AS Jadi "Bom Waktu", Buang atau Simpan nih?


Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Amerika Serikat (AS) sedang kuat pascapengumuman kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed) Kamis pekan lalu. Tetapi, hanya kuat saja, tidak menguat gila-gilaan meski The Fed sudah menegaskan akan melakukan tapering dalam waktu dekat.

Tetapi, meski menguatnya biasa saja, dolar AS kini menjadi "bom waktu", sebab posisi beli dolar AS kembali mengalami peningkatan tajam.

Commodity Futures Trading Commission (CFTC) kemarin melaporkan posisi beli bersih (net long) dolar AS pada pekan yang berakhir 21 September melonjak menjadi US$ 14,26 miliar, dari pekan sebelumnya US$ 9,99 miliar.

Posisi net long dolar AS tersebut merupakan yang tertinggi sejak Maret 2020, ketika indeks dolar AS meroket tajam hingga nyaris mencapai level 103. Saat itu rupiah terpuruk, hingga menyentuh level Rp 16.620/US$, terlemah sejak 1998.

Sementara saat ini, indeks dolar AS berada di kisaran 93. Belum ada lonjakan tajam untuk indeks yang merupakan tolak ukur kekuatan dolar AS.

Semakin tinggi, maka dolar AS semakin perkasa. Sehingga rupiah patut waspada jika posisi net long dolar AS terus menumpuk.

Patut dicatat posisi net long tersebut sebelum The Fed mengumumkan tapering akan segera dilakukan pada Kamis (23/9) dini hari lalu. Selain itu, The Fed juga merubah proyeksi kenaikan suku bunganya menjadi tahun depan, dibandingkan sebelumnya di 2023.

Dengan kondisi tersebut membuat ada kemungkinan posisi net long dolar AS semakin menumpuk dan menjadi "bom waktu" menunggu pemicu yang bisa membuatnya "meledak".


Meski posisi net long dolar AS sedang menumpuk, tetapi dolar AS bisa dikatakan masih adem ayem. Sebabnya, belum ada kepastian kapan tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) akan dilakukan.

Pengumuman tapering akan menjadi pemicu "ledakan" dolar AS, apalagi jika dibarengi dengan menguatnya proyeksi kenaikan suku bunga di AS pada tahun depan.

Pemicunya tersebut bisa muncul pada bulan November atau Desember, saat The Fed yang diprediksi akan mengumumkan waktu tapering, apalagi jika semakin banyak anggota The Fed yang melihat suku bunga akan naik di tahun depan.

Setiap akhir kuartal, bank sentral pimpinan Jerome Powell ini akan memberikan proyeksi suku bunganya, terlihat dari dot plot. Artinya, di bulan Desember akan ada Fed dot plot lagi. Setiap titik dalam dot plot tersebut merupakan pandangan setiap anggota The Fed terhadap suku bunga.

Dalam dot plot yang terbaru, sebanyak 9 orang dari 18 anggota Federal Open Market Committee (FOMC) kini melihat suku bunga bisa naik di tahun depan. Jumlah tersebut bertambah 7 orang dibandingkan dot plot edisi Juni. Saat itu mayoritas FOMC melihat suku bunga akan naik di tahun 2023.

Artinya, terjadi perubahan proyeksi suku bunga yang signifikan. Kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari sebelumnya lebih berisiko memicu capital outflow dari Indonesia, dan negara emerging market lainnya, sehingga menimbulkan gejolak di pasar finansial global. Apalagi, jika The Fed nantinya agresif dalam menaikkan suku bunga.

Sekedar mengingatkan, pada tahun 2013, tapering yang dilakukan The Fed memicu gejolak di pasar finansial yang disebut taper tantrum. Dolar AS "meledak" saat itu, indeksnya meroket sekitar 25% hingga akhir 2015.

Rupiah menjadi salah satu korban keganasan taper tantrum kala itu. Sejak The Fed mengumumkan tapering pada Juni 2013 nilai tukar rupiah terus merosot hingga puncak pelemahan pada September 2015.

Di akhir Mei 2013, kurs rupiah berada di level Rp 9.790/US$ sementara pada 29 September 2015 menyentuh level terlemah Rp 14.730/US$, artinya terjadi pelemahan lebih dari 50%.

Saat itu, pasar dikejutkan dengan pengumuman tapering, sementara saat ini The Fed sudah menyampaikannya jauh-jauh hari sehingga pasar lebih bersiap, dan taper tantrum diperkirakan tidak akan terjadi atau tidak akan separah 2013.

Tetapi, dengan dot plot terbaru, artinya ada risiko suku bunga naik setelah tapering selesai. Ini tentunya akan lebih cepat ketimbang tahun 2013. Saat itu tapering selesai di bulan Oktober 2014, dan suku bunga baru dinaikkan pada Desember 2015. Artinya, ada jeda lebih dari satu tahun.

Sementara kali ini, kemungkinan jeda bisa jadi kurang dari 6 bulan, sebab The Fed berpeluang besar mulai melakukan tapering pada bulan Desember.

Foto: Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo Saat Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan September 2021. (Tangkapan Layar Youtube Bank Indonesia)

Bank Indonesia (BI) dalam pengumuman kebijakan moneter pekan lalu memperkirakan tapering kali ini tidak akan berdampak sebesar 2013-2015, dan BI juga sudah siap.

"Insya Allah dengan berbagai asesmen, kondisi ekonomi, dan pengalaman yang kami lakukan, dampak tapering The Fed bisa diantisipasi secara baik dan lebih rendah dibandingkan taper tantrum pada 2013," tegas Perry dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode September 2021, Selasa (21/9).

Menurut Perry, ada tiga alasan. Satu, The Fed melakukan komunikasi yang baik kepada investor, media massa, dan masyarakat.

Dengan komunikasi yang baik, lanjut Perry, pasar pun tidak 'meledak-ledak'. Memang imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS naik merespons isu tapering, tetapi relatif kecil. Tidak seperti 2013, di mana dalam tempo dua bulan yield US Treasury Bonds melonjak menjadi 3,5%.

Dua, BI menjalin kerja sama dengan pemerintah untuk melakukan stabilisasi di pasar. Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, BI tetap menjalankan intervensi di tiga pasar (triple intervention) yaitu di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forwards (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN).

"Sejak awal tahun, kecuali Februari, BI tidak banyak melakukan intervensi. Bekerjanya mekanisme pasar melakukan penyesuaian, rupiah tetap stabil," ungkap Perry.

Tiga, tambah Perry, ketahanan ekonomi domestik sudah jauh lebih baik. Defisit transaksi berjalan (current account deficit) relatif sehat di 0,6-1,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dibandingkan 2018 yang di atas 3% PDB. Kemudian cadangan devisa mencapai lebih dari US$ 144 miliar.

Tetapi, yang dihadapi BI tidak hanya tapering, ada juga suku bunga The Fed. Melihat proyeksi terbaru The Fed suku bunga bisa naik di tahun depan. BI kemungkinan tidak ahead the curve, jika melihat proyeksi terakhirnya.

Ahead the curve, merupakan jargon yang sering kali disebutkan Gubernur BI Perry Warjiyo pada tahun 2018 lalu.

"Kebijakan suku bunga acuan akan ditempuh pre-emptif dan ahead the curve untuk stabilisasi nilai tukar di samping konsisten jaga inflasi agar terkendali,' papar Perry saat menaikkan suku bunga pada Mei 2018.

Jargon ahead the curve yang dimaksud Perry mengacu kepada sikap hawkish yang diterapkannya dalam merespons normalisasi tingkat suku bunga acuan yang dilakukan oleh bank sentral AS (The Fed).

Sikap tersebut kembali ditunjukkan Perry Agustus lalu yang membuka peluang kenaikan suku bunga di akhir 2022.

Sejak pandemi virus corona mendera Indonesia tahun lalu, BI sudah menurunkan suku bunga acuan sebanyak 125 basis poin (bps). Kini BI 7 Day Reverse Repo Rate berada di 3,5%, terendah sepanjang sejarah.

Namun MH Thamrin sudah mulai memikirkan mengenai kapan mengakhiri kebijakan moneter ekspansif. Jika data yang ada mendukung, maka bukan tidak mungkin suku bunga mulai dinaikkan pada akhir tahun depan.

"Sudah ada rencana exit policy dari BI dengan mengurangi likuiditas sedikit-sedikit. Baru kemungkinan akhir 2022 masalah suku bunga. Tentu saja ada data yang harus kita lihat," ungkap Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (24/8/2021).

Jika BI tidak ahead the curve, alias The Fed lebih dulu menaikkan suku bunga, maka risiko terjadinya capital outflow semakin besar, dan rupiah bisa bergejolak. 


CNBCindonesia.com