3 Transformasi yang Harus Dilakukan Indonesia Pasca Pandemi


Ekonom UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja mengatakan, terdapat 3 faktor yang harus ditransformasi oleh Indonesia ke depannya pasca pandemi. Pertama adalah pendapatan komoditas yang berkelanjutan atau sustainable commodity revenue.

Menurutnya, Indonesia adalah pengekspor dan pengusaha komoditas terbesar di dunia. Oleh karena itu, ke depannya Pemerintah Indonesia harus menekankan tentang ekspor komoditas yang berkesinambungan dan berkelanjutan.

Dia menyebut melalui survei yang dilakukan terkait Environmental social and Governance (ESG) membuktikan bahwa lebih dari 50 persen responden menyatakan bahwa apabila kita mampu untuk mengendalikan faktor sustainable commodity revenue, maka bisnis peningkatan pengembalian jangka panjang akan jauh lebih baik.

"Memang pada saat ini fokus ESG masih didominasi oleh negara-negara Eropa. Tetapi angin akan bertiup di mana negara-negara lain termasuk Tiongkok, Jepang dan juga nantinya Asia dan Asia Tenggara mau tidak mau harus beradaptasi dengan ESG, ini adalah kunci keberhasilan kita menjaga revenue komoditas yang berkesinambungan," kata Enrico dalam webinar UOB Economic Outlook 2022, Rabu (15/9).

Faktor kedua yang perlu ditransformasi yaitu, Indonesia memiliki posisi sangat strategis dalam hal konektivitas, pangsa pasar Indonesia sejauh ini hanya dijadikan tujuan untuk impor. Tapi, menurutnya bukan tidak mungkin dengan adanya Free Trade agreement dan juga regional trade agreement yang kita miliki Indonesia mampu untuk outreach melakukan ekspor lebih besar lagi.

"Namun disayangkan saat ini posisi kita masih kurang terintegrasi dan kalau kita bandingkan secara ranking di posisi 14 Indonesia masih perlu meningkatkan hubungan kerjasama bilateral, multilateral dan deeper integration dengan negara-negara lain," ujarnya.

Selanjutnya faktor ketiga, terkait jumlah populasi di Indonesia yang berpotensi untuk memperluas pangsa pasar. Hal itu terlihat dari usia produktif di Indonesia meningkat dari 50 persen pada tahun 1970 menjadi 70 persen di awal 2020.

Tentu menurut Enrico ini membuka peluang bagi Indonesia, dan diprediksi bahwa penggunaan Internet ekonomi di Indonesia bisa mencapai lebih dari USD 109 miliar dalam 4-5 tahun ke depan.

"Ini berarti pangsa pasar yang sangat besar, konsumsi dari young population dan ditambah dengan digitalisasi dan para pemakai digital yang cerdas (digital savvy), membuat prediksi banyak dari luar untuk internet ekonomi Indonesia mencapai lebih dari USD 109 miliar, bahkan di dalam empat sampai lima tahun ke depan," pungkasnya.

Merdeka

#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik