Soekarni Sahabat Sukarno: Peristiwa Rengasdengklok, Dijebloskan Orla ke Penjara


Jakarta - Soekarni Kartodiwirjo merupakan salah seorang pemuda yang membawa Sukarno dan Mohamad Hatta ke Rengasdengklok, Karawang, 16 Agustus 1945.

Soekarni bagian pemuda pada peristiwa Rengasdengklok yang mendorong dua tokoh bangsa itu untuk segera memproklamasikan kemerdekaan saat momentum kekosongan pemerintahan, setelah mereka mendengar Jepang kalah perang usai Nagasaki dan Hiroshima dijatuhi bom atom.

Dilansir dari buku "100 Tokoh yang Mengubah Indonesia: Biografi Singkat Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah Indonesia di Abad 20", Soekarni merasa gerah dengan sikap menunggu Soekarno-Hatta ketika Jepang menyerah pada sekutu, kurang tepat. Berkat paksaan dan bujukannya bersama Chairul Saleh dan Wikana, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Soekarni, lahir di Garum, Blitar pada 14 Juli 1916. Anak pedagang sapi ini mewarnai masa kecilnya dengan berbagai perkelahian dengan kerap menantang sinyo-sinyo Belanda. Ketidaksukaannya terhadap penjajah, rupanya tumbuh akibat pengaruh gurunya, Moh. Anwar.

Soekarni dikenal sebagai aktivis militan yang pantang berkompromi. Ia sempat menjadi Ketua Indonesia Muda cabang Blitar. Ia juga semakin tertarik pada dunia politik berkat pertemuannya dengan Sukarno saat menempuh pendidikan di kweekschool atau sekolah guru di Jakarta.

Selepas aksi yang dieknal dengan peristiwa Rengasdengklok itu, Soekarni aktif dalam berbagai episode perjuangan. Ia berperan besar dalam pembentukan parlemen Indonesia. Saat Indonesia masih seumur jagung dan belum sempat mengadakan pemilihan umum, ia mengusulkan agar sebelum terbentuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), tugas legislatif dijalankan oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Soekarni pula yang memperjuangkan pembentukan Badan Pekerja KNIP sebagai lembaga negara untuk mewujudkan kedaulatan rakyat sekaligus menjadi pemimpin rakyat. Kemudian ia diangkat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan Konstituante.

Hubungan Soekarni dengan Bung Karno ternyata tidak selalu mulus. Ia kerap kali mengkritik dan menentang kebijakan Sukarno melalui Partai Murba yang didirikannya bersama Tan Malaka. Sikap inilah yang membuatnya dijebloskan Orde Lama ke penjara pada Januari 1965.

Penjeblosannya ke penjara justru membuat Soekarni selamat dari penculikan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada September 1965. Ia baru keluar dari penjara saat Orde Baru berkuasa.

Di masa Orde Baru, Soekarni sempat diangkat menjadi Dewan Pertimbangan Agung. Ia akhirnya mengembuskan napas terakhir pada 7 Mei 1971 di Jakarta. Saat itu, Presiden Soeharto datang melayat. Dan, pada 2014, Presiden Jokowi memberikan anugerah sebagai Pahlawan Nasional.


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik