RI 10 Negara 'Terparah' Bila Dihantam Tapering, Ini Sebabnya

Foto: Jerome Powell (REUTERS/Erin Scott)

Jakarta, Indonesia disebut akan menjadi salah satu negara yang akan terkena dampak terparah dari taper tantrum yang dilakukan Amerika Serikat (AS). Kendati fundamental perekonomian telah membaik sejak 2013 namun sayangnya pandemi Covid-19 menimbulkan kerentanan tersendiri.

Dalam riset Nomura Securities yang dipublikasikan, Indonesia menjadi satu dari 10 negara paling rentan terdampak. Negara lainnya adalah Brasil, Kolombia, Chili, Peru, Hongaria, Rumania, Turki, Afrika Selatan dan Filipina.


Dalam riset tersebut, djelaskan bahwa 10 negara ini memang memiliki fundamental ekonomi yang membaik dibanding delapan tahun yang lalu. Indikatornya yakni defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) lebih terkendali rendah dan cadangan devisa lebih besar.

Namun sayangnya Covid-19 pandemi mengacaukan semuanya. Belum lagi China yang mengalami perlambatan ekonomi.
"Kondisi ini terlihat pada pelemahan ekonomi, kenaikan inflasi, keterpurukan fiskal hingga suku bunga acuan negatif di beberapa negara yang sudah melewati batas pelonggaran kebijakan moneter," tulis laporan itu, dikutip Sabtu (28/8/2021).

"Ini (termasuk perlambatan China) adalah kombinasi yang mengerikan bagi negara berkembang. Semakin buruk dengan adanya kerentanan tersembunyi di dalam negara berkembang tersebut."

Kerentanan tersebut paling utama disebabkan arus modal. Meskipun banyak analisa lain menyebutkan, lebih rendahnya inflow dalam dua tahun terakhir menurunkan risiko terhadap pasar keuangan di setiap negara tersebut.

Alasannya, pertama derasnya arus modal yang masuk itu sudah terjadi sejak 2014. Kedua, modal yang masuk sudah berkembang seiring kenaikan harga aset dan perubahan nilai tukar.

Faktor berikutnya adalah utang. Brasil dan India menjadi daftar teratas dengan risiko utang tertinggi, di mana masing-masing rasionya sebesar 98,4% dan 86,6%. Sementara Indonesia dan Chili ada di daftar terbawah dengan masing-masing 41,4% dan 33,6%.

Peningkatan utang terjadi karena pelebaran defisit fiskal dalam pemenuhan kebutuhan belanja di tengah pandemi. Menurut Nomura, ketidakhati-hatian pemerintah dalam mengelola mampu mendorong permasalahan ke defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).

"Kami tidak setuju dengan mereka yang percaya emerging market berada dalam posisi yang lebih tangguh dibanding taper tantrum 2013," jelasnya.
Isu tapering terkait pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) oleh bank sentral Amerika (AS), The Fed. Ini sempat terjadi 2013.

Kala itu dilakukan bank sentral AS, aliran modal akan keluar dari negara emerging market dan kembali ke Negeri Paman Sam. Hal tersebut dapat memicu gejolak di pasar finansial yang disebut taper tantrum.
Di 2013, dolar AS menjadi amat perkasa. Harga emas dunia yang dibanderol dengan mata uang Paman Sam menjadi terpukul. Taper tantrum pernah terjadi hingga 2015.

Namun dalam pernyataan terbarunya Jumat, The Fed mengatakan tak akan tergesa-gesa melakukan ini dan tak akan menaikkan suku bunga. Namun tapering akan dilakukan akhir tahun.


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik