Lima Resep Medisiplinkan Anak Tanpa Kekerasan Ala Rasullullah SAW


Rasulullah SAW bersabda: "Perintahkan anakmu supaya shalat ketika berumur 7 tahun dan pukullah mereka (jika tidak mau shalat) ketika berumur 10 tahun, serta pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya".

(HR.Abu Dawud, Al Hakim dan Baihaiqi).

Memaknai hadist diatas tentunya ada sebagian orang yang berpikir, wah kejam banget yah Islam itu. Masa kalau anak gak mau shalat harus dipukul sih? Zaman sekarang memukul anak kan bisa kena pasal UU perlindungan anak. Orang tuanya mungkin masuk penjara karena dianggap menyakiti anak dengan unsur kekerasan.

Please.... hati hati yah, ketika membaca hadist diatas!! Jangan langsung bawa tongkat atau cambuk jika anak tidak shalat. Tolong dibaca baik-baik kalimatnya. Perintahkan anak shalat ketika umur 7 tahun. Jadi mulai usia 7 tahun itu anak dilatih dan biasakan shalat dengan teladan dari orang tuanya sendiri hingga usia 10 tahun. Apabila sampai usia 10 tahun anak belum konsisten shalat, baru boleh dipukul. Jadi ada prosesnya tidak ujug-ujug dipukul begitu saja.

Mendidik anak umur 7 sampai dengan `14 tahun itu memang sudah waktunya diajarkan kedisiplinan. Tahap ini adalah tahap yang paling sensitif karena anak mulai tumbuh meninggalkan masa kanak- kanak menuju masa pra remaja. Jika orang tua mendidik dengan keras, anak akan semakin memberontak. Namun jika anak dididik terlalu permisif atau lunak maka anak mudah terjerumus dalam pergaulan yang salah.

Rasulullah SAW sebagai panutan kita sudah memberikan teladan. Ada 5 hal yang harus dilakukan orang tua dalam mendisiplinkan anak tanpa kekerasan. Berikut ini resepnya :

1. Menanamkan Akidah Sebagai Pondasi.
Dalam Alquran, seorang ayah yang sholih bernama Luqman Al Hakim pertama kali menasehati anaknya adalah sebagai  berikut :
"Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman besar."

Bermodal akidah yang kokoh maka kedisiplinan dalam menunaikan perintah Allah akan memicu anak untuk disiplin dan istiqomah dalam berbagai aspek kehidupan. Jadi tanamkan sejak usia dini bahwa kalimat tauhid yang harus mereka jaga sampai mati adalah "La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah.

2. Membiasakan Anak Rutin Beribadah
Tidak ada jaminan bahwa orangtua yang soleh dan taat ibadah akan mempunyai anak yang sama tingkat ibadahnya dengan orangtuanya. Begitupun sebaliknya, ada orangtua yang jarang ibadah tapi anaknya adalah ahli ibadah. Oleh karena itu apabila sebagai orangtua sudah merasa baik ibadahnya tidak boleh abai dalam mengingatkan anak untuk disiplin beribadah. Sedangkan bagi orangtua yang masih labil dalam beribadah, ingatlah bahwa anak mencontoh dari orangtuanya. Jika ingin punya anak yang rajin beribadah maka perbaiki dulu ibadahnya.

Salah satu ibadah yang wajib dilakukan bagi seorang muslim adalah shalat. Shalat merupakan tiang ibadah. Jika seseorang sudah menyia-nyiakan kewajiban shalat maka pasti kewajiban lainnya juga lebih parah lagi alias tidak dikerjakan. Ajak anak ke mesjid, jelaskan kenapa harus shalat, berikan perlengkapan shalat yang menarik sesuai usia anak.

Dalam hal shalat, jika anak tidak mau shalat secara syari diperkenankan untuk menghukum anak agar bergegas shalat jika sudah 10 tahun. Apabila anak tidak mau shalat ingatkan lagi tentang pentingnya shalat dan konsekuensinya dari orangtua maupun hukuman dari Allah SWT di akhirat kelak. Anda juga bisa bilang pada anak bahwa Anda ingin satu keluarga bisa berkumpul di surganya Allah SWT. Jadi kalau ada anak yang tidak mau shalat dan dimasukkan ke neraka sama Allah SWT bagaimana sedihnya keluarga yang lain karena tidak bisa bersama di surga. Padahal hidup yang paling kekal adalah di surga.

3. Mengenalkan Ahlak Terpuji
Mengajarkan ahlakul karimah (mulia) kepada anak adalah hal penting yang harus dilakukan sejak usia dini. Rasulullah bersabda : Yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik ahlaknya. Manusia yang punya ilmu tinggi tapi tidak berahlak maka ilmunya tidak akan bermanfaat tapi malah dimanfaatkan untuk berbuat kejahatan pada sesama.

Cara mengajarkan ahlakul karimah ini adalah dengan pembiasaan. Pertama biasakan orangtua menemani anaknya saat aktivitas harian. Saat anak makan ajak anak untuk berdoa sebelum makan, ajarkan cara makan yang baik yaitu dengan tangan kanan. Ketika anak ingin ke kemar mandi ajarkan doa ke kamar mandi. Apabila mau tidur bacakan cerita tentang kisah kisah teladan yang bisa dicontoh anak dan tak lupa ajarkan pula doa sebelum tidur.

Kedua adalah memberi teladan. Yaitu dengan cara mencontohkan langsung kepada anak bagaimana tingkah laku yang baik itu. Janganlah orangtua menyuruh anaknya belajar sementara dirinya sibuk nonton TV atau pegang gawai. Saat menyuruh anak shalat maka ajaklah berjamaah. Jika meminta anak mengaji, maka orangtua juga ada di sebelahnya mendampingi.

Sebuah syair tentang keteladanan orangtua yang saya ambil dari buku Gantungkan Cambuk Di Rumahmu karya Asadulloh Al-Faruq ini cukup kena di hati. Bahwa sebagai orangtua kita adalah guru pertama untuk anak anak kita. Maka sebagai guru sudah seharusnya memperbaiki ahlak dan juga terus belajar agar ilmu yang diberikan sesuuai perkembangan anak setiap waktu. Begini syairnya,

Wahai yang menjadi guru orang lain
Perhatikanlah dirimu, sebab iapun butuh pengajaran
Engkau tentukan obat untuk yang sakit agar Ia sehat
Sedang engkau sendiri dalam derita

Mulailah dari dirimu sendiri
Cegahlah dirimu dari penyimpangan
Jika Ia telah bersih darinya maka Engkaulah si bijak itu.
Yang kan didengar setiap katanya dan dicontoh semua perilakunya
Saat itulah pengajaranmu memberikan arti

4. Membuat Anak Menghargai Waktu.
Sering kita menemukan anak balita yang terjaga di jam 12 malam saat yang lain sedang lelap tertidur. Jika hal ini dibiarkan terus maka anak lama kelamaan akan selalu terjaga saat tengah malam. Tentunya hal ini mengganggu waktu istirahat orang tua dan keluarga lainnya. Oleh karena itu, sejak balita anak harus diajarkan pembagian waktu yang benar.

Islam sudah dengan sempurnanya membagi waktu dalam satu hari selama 24 jam itu dengan panggilan waktu shalat. Misalnya Bangun subuh lalu melaksanakan shalat Subuh. Waktu Istirahat di siang hari setelah melaksanakan shalat Dzuhur. Habis shalat ashar waktunya bermain. Saatnya belajar dan mengaji setelah shalat Magrib sampai lsya. Jika ini diterapkan pada anak sejak usia dini pastinya anak akan terbiasa hingga dia dewasa dan Insya Allah shalatnya juga terjaga. Sebab sebelum melalukan aktifitas apapun maka harus mendahulukan shalat.

Selain itu orangtua juga harus mendisiplinkan waktu tidur anak, misal sepakati dengan pasangan bahwa semua aktifitas harus selesai jam 9 malam. Tidak ada lagi yang mengerjakan apapun selain mengantar anak untuk pergi tidur. Waktu tidur adalah waktu istirahat yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Buatlah rutinitas seperti gosok gigi, cuci tangan dan kaki , berwudhu dan baca buku sebelum tidur. Jangan lupa setelah baca buku anak diajak berdoa. Dengan demikian anak-anak akan menutup harinya dengan manis bersama sebuah ilmu yang didapatkan dari membaca buku.

Manfaat mengajarkan anak menghargai waktu akan terasa saat anak dewasa nanti. Anak akan menjadi manusia yang menghargai janji dan bersikap disiplin dalam hidupnya. Rasulullah SAW Adalah teladan paling baik dalam hal menghargai waktu. Beliau membagi waktu setiap harinya menjadi 3 bagian yang hampir sama besar yaitu sepertiga waktu untuk umatnya, sepertiga waktu untuk diri dan keluarganya, serta sepertiga waktu untuk Allah SWT.

5. Memberikan Konsekuensi Sebagai Pengganti Hukuman

Jika anak melakukan kesalahan atau tidak mengikuti aturan sesungguhnya itu karena anak lebih banyak tidak tahu daripada tahu. Coba introspeksi diri, orang tua minta anaknya taat aturan,. Pertanyaannya, sudahkah aturan itu dibuat secara tertulis dan disepakati bersama anak?

Jadi tugas orangtualah yang memberi penjelasan mana hal yang boleh dan tidak boleh serta menunjukkan apa konsekuensinya jika anak melakukan hal terlarang. Aturan harus dibuat tertulis dan disepakati bersama antara anak dan orang tua. Sedangkan membuat konsekuensi tidak boleh dengan cara menakut-nakuti anak. Misal, anak dilarang main ke dekat sungai lalu orangtua menakut-nakuti dengan mengatakan di sungai ada buaya pemakan manusia. Padahal tidak ada.

Konsekuensi yang baik adalah yang tetap bermanfaat bagi anak. Misal jika anak tetap pergi ke sungai tanpa ijin dari orangtuanya maka anak harus mencuci pakaiannya sendiri, atau dicabut hak mainnya pada siang hari dan harus diam di rumah bantu orangtua cuci piring, ngepel atau lainnya. Jadi sebuah konsekuensi tetap punya unsur edukasi dan mengandung kebaikan untuk anak itu sendiri.

****
Note :
Sebagai orang tua kunci mendidik anak itu adalah dengan menyentuh hatinya lewat cinta yang tulus. Berikan siraman agama, dan jadilah teladan idola anak agar anak tidak perlu didik dengan kekerasan.

"Disiplinkan anak sejak dini, sebab jika Anda tidak melakukannya sekarang, suatu saat nanti anak Anda akan diidisiplinkan orang lain dengan cara yang menyakitkan."

Semoga bermanfaat...


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik