Kisah Qomarul Lailah, Guru SD Asal Surabaya Jadi Wasit Badminton di Olimpiade Tokyo 2020

Qomarul Lailah (44), guru yang mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris di SD Negeri Sawunggaling 1 Surabaya terpilih menjadi wasit perempuan di Olimpiade Tokyo 2020.
DOK. QOMARUL LAILAH

SURABAYA, Salah satu guru di SD Negeri Sawunggaling 1, Surabaya, Jawa Timur, terpilih menjadi wasit badminton perempuan dari Indonesia di ajang Olimpiade Tokyo 2020.
Adalah Qomarul Lailah (44), guru mata pelajaran Bahasa Inggris di SD Negeri Sawunggaling 1 Surabaya yang terpilih menjadi wasit perempuan di Olimpiade Tokyo 2020.

Qomarul Lailah menceritakan pengalamannya saat kali pertama menjadi wasit.
Lia, sapaan akrab Qomarul Lailah, mengaku sejak awal tidak tertarik menjadi wasit di cabang olahraga badminton. Saat itu dia tak memahami dengan baik tentang olahraga bulu tangkis.

Namun, setelah mendapatkan cukup banyak pengetahuan, Lia tertarik untuk terjun dan mencoba ikut pelatihan serta menjalani ujian di tingkat provinsi.
Lia dinyatakan lulus saat ikut pelatihan dan ujian di tingkat provinsi tersebut. Meski demikian, kelulusannya itu tak lantas membawa Lia begitu saja menjadi wasit profesional.

Dalam kariernya sebagai wasit badminton, ada banyak tantangan yang dihadapinya.
"Sampai para pemain berteriak, kok begitu wasitnya, ada yang bilang ini wasit lulusan mana, harus sekolah wasit lagi," kata Lia menceritakan awal pengalaman terjun menjadi wasit, Senin (9/8/2021).
Namun, tantangan tersebut memang harus dihadapi jika ingin menjadi wasit profesional.

Lia optimistis suatu saat dirinya bisa menjadi wasit profesional. Salah satu hal yang terus dia lakukan adalah giat belajar.
"Lalu dengan tetap optimis saya terus belajar, hingga saya terus membaca buku berjudul Law of Badminton. Buku itu memang segala aturan dan instruksi dalam bahasa Inggris," tutur Lia.
Sejak saat itu, Lia terus berjuang mengikuti berbagai ujian nasional di berbagai ajang.
 
Seiring perjalanannya, kiprah perempuan kelahiran Surabaya, 24 September 1977, ini semakin melejit dalam dunia perwasitan.
Namun begitu, dia tak melupakan kewajibannya menjadi pendidik SD mata pelajaran Bahasa Inggris. 

Menariknya, Lia menjelaskan seluruh ilmu yang diperolehnya sebagai wasit, juga diimplementasikan di sekolah tempatnya mengajar.

Dia pun mengaku anak-anak didiknya di sekolah selalu dilatih agar selalu disiplin, percaya diri, dan pantang menyerah. Menurut dia, itu yang menjadi poin penting dalam meraih kesuksesan.

"Ternyata itu betul-betul terjadi, ketika kita menerapkan tiga hal itu akan memudahkan kita mencapai banyak hal. Makanya, saya ajarkan kepada anak didik saya sedini mungkin," kata Lia.

"Kalau kamu pengin berhasil, Nak, disiplin nomor satu. Saya ajarkan mereka jadi the real bonek, jadi bonek sejati itu bukan kalau kalah main itu sakit hati terus berantem. Tetapi, keberanian yang kita butuhkan. Nah, bahasa asing itu butuh keberanian karena bahasa itu kebiasaan. Saya ajarkan ke mereka itu wani (berani) berbicara Inggris," tutur Lia.

Dengan begitu, dia berharap generasi penerus bangsa, khususnya arek-arek Suroboyo, semakin gigih dan pantang menyerah dalam mewujudkan cita-cita.

Dengan pencapaiannya saat ini, ibu dua anak ini berterima kasih kepada semua pihak atas kesempatan yang sudah diberikan, termasuk pada Dinas Pendidikan Kota Surabaya.
"Terima kasih juga untuk Kepala Sekolah SDN Sawunggaling 1 Bu Sri Kis Untari dan semua pihak. Sekali lagi, matur nuwun," kata Lia.
 
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Sekolah Dasar (SD) Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, M Aries Hilmi, turut bangga atas terpilihnya Qomarul Lailah menjadi wasit Olimpiade Tokyo 2020.

Aries berharap pengalaman yang diraih Lia tersebut bisa menumbuhkan semangat baru kepada para guru dan pelajar di Surabaya.

"Jadi memang luar biasa, ada guru kita yang menjadi wasit di event internasional. Semangat inilah yang kita harapkan dan mampu mewarnai guru-guru yang ada di Kota Pahlawan," kata dia.
Aries Hilmi menjelaskan, sebenarnya sosok Qomarul Lailah ini sudah beberapa kali menjadi wasit internasional.

Kariernya dalam dunia perwasitan dimulai sejak 2000. Saat itu, Lia masih menjadi guru tenaga kontrak di salah satu SD di Surabaya.
Baca juga: Cerita Wahyana, Guru SMP yang Jadi Wasit Olimpiade Tokyo 2020
Kemudian, seiring berjalannya waktu, dengan berbagai proses yang sudah dilalui, ternyata Lia berhasil memimpin jalannya berbagai pertandingan badminton di kancah internasional.

Hal itu tentu amat membanggakan bagi semua warga Kota Surabaya.
"Tentunya ini menjadi kebanggaan buat kami semua. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin apabila kita bersungguh-sungguh dan mengembangkan apa pun yang kita miliki," tutur dia.
Aries berharap Lia dapat membagikan pengalamannya di sekolah kepada guru dan siswa.

Hal ini menjadi penting dilakukan agar semangat tersebut dapat menular kepada para pelajar di Kota Pahlawan.
"Yang paling penting apa pun kita kembangkan dan bersungguh-sungguh karena ini bisa menjadi percontohan bagi para pelajar, khususnya di SDN Sawunggaling 1," ujar dia.


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik