BMKG Sebut Indonesia Alami Anomali Musim yang Tidak Sesuai Prediksi


Indonesia mengalami anomali musim yang tidak sesuai prediksi. Menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikortia Karnawati, itu menyebabkan kondisi hujan lebat hingga bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah di Indonesia.

"Mengapa bisa terjadi? Karena Indonesia benua maritim dan benua dengan benua lainnya yang iklim cuaca musimnya sangat dipengaruhi dua samudra besar, pasifik dan hindia, Kemudian dipengaruhi dua benua Australia dan Asia," kata Dwi saat jumpa pers daring, Kamis (26/8).

Dwi menjelaskan prediksi BMKG pada Maret. Kemarau tahun ini adalah kemarau basah. Kondisi ini membuat beberapa wilayah Indonesia mengalami kekeringan panjang lebih dari 60 hari. Utamanya, wilayah selatan Khatulistiwa. Tapi kenyataannya masih ada wilayah mengalami musim hujan di wilayah utara dan barat.

"Kemarau sesuai prediksi bisa terjadi bencana kekeringan tetapi bersamaan kekeringan di selatan Khatulistiwa dan utara serta barat Indonesia mengalami banjir bandang atau longsor," kata Dwi.

Dwi menyatakan, efek musim kemarau dan hujan bersamaan adalah Osilasi Madden-Julian (MJO) dari samudra Hindia. Selain itu, efek lain adalah terjadinya udara dingin, badai el-nino dan Lanina yang silih berganti.

"Beberapa fenomena itu dapat bersamaan dan saling menguatkan. Kecenderungannya demikian, sehingga itu memengaruhi dinamika iklim dan cuaca di Indonesia begitu dinamis. Jadi diperkirakan puncak kemarau September juga masih ada," ucap Dwi.

Merdeka

#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik