Kemenkes Ungkap Penyebab Banyaknya Pasien Isoman Wafat

Warga memberikan paket makanan untuk tetangganya yang sedang menjalani isolasi mandiri Covid-19 di rumahnya di Jalan Gunung Batu, Sukaraja, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (6/7). Banyak orang yang positif Covid-19 tidak bisa mendapatkan perawatan di fasyankes dikarenakan penuh.
Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA



Ada beberapa faktor di balik banyaknya pasien isoman meninggal di rumah.

Jakarta,  Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan, ada beberapa faktor di balik kasus-kasus warga positif Covid-19 yang meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah. Salah satu di antaranya ialah penuhnya fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).

"Utamanya karena kondisi kritis yang sangat cepat terjadi pada pasien Covid-19," ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Siti Nadia Tarmizi, saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (9/7).

Nadia menjelaskan, banyak orang yang positif Covid-19 tidak bisa mendapatkan perawatan di fasyankes dikarenakan penuh. Warga harus mengantre panjang dan akhirnya memilih untuk menjalani isolasi dan melakukan perawatan sendiri di rumah.

Untuk mengatasi masalah ini, Nadia mengatakan, layanan di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) melalui satuan tugas telah ditugaskan memonitor pasien isoman. Warga positif Covid-19 juga akan mendapatkan obat.

Selain itu, kini ada layanan kesehatan digital telemedicine, meski baru DKI Jakarta yang menerapkannya. Nadia mengatakan, layanan ini secara bertahap akan diterapkan di wilayah lainnya.

Jawa Barat (Jabar), misalnya, juga sudah memiliki layanan telemedicine dan mengelolanya. Upaya berikutnya adalah memperkuat koordinasi dengan satgas RT/RW untuk koordinasi dengan puskesmas dalam memantau warga yang isoman.

Jumlah pasien Covid-19 yang meninggal dunia dalam kurun waktu sebulan terakhir meningkat, seiring kembali melonjaknya kasus positif Covid-19. Selain pasien yang meninggal selama perawatan di rumah sakit, masyarakat juga melaporkan ratusan kematian anggota keluarga atau rekan mereka saat menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah.

Koordinator Analis Twitter LaporCovid-19, Yerikho Setya Adi, mengatakan, berdasarkan data diketahui sedikitnya 265 pasien Covid-19 meninggal dunia saat melakukan isolasi mandiri di rumah. Data itu dihimpun berdasarkan hasil penelusuran tim LaporCovid-19 di media sosial seperti Twitter, berita online, dan laporan langsung warga ke LaporCovid-19.

"Mereka meninggal dunia dalam kondisi sedang isolasi mandiri di rumah, saat berupaya mencari fasilitas kesehatan, dan ketika menunggu antrean di instalasi gawat darurat (IGD) Rumah Sakit. Kematian di luar fasilitas kesehatan ini terjadi hanya selama bulan Juni 2021 hingga 2 Juli 2021," katanya seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, akhir pekan lalu (3/7).

Yerikho menyebutkan, sebanyak 265 korban jiwa tersebut tersebar di 47 Kota dan Kabupaten dari 10 Provinsi, yakni DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Lampung, Kepulauan Riau, Riau, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sementara itu, provinsi yang terekam cukup banyak mengalami kematian di luar rumah sakit adalah Jawa Barat dengan jumlah 97 kematian dari 11 kota/kabupaten.




#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik