Ilustrasi pola asuh orangtua di Jepang.
iSTOCK/RichVintage
Pola Asuh Orangtua di Jepang yang Bisa Kita Contoh

Pola asuh orangtua Jepang mungkin berbeda dengan pola asuh di negara lain. Orangtua Jepang tidak memanjakan anak dan mendorong mereka untuk mandiri sejak dini. Mungkin itu sebabnya orang Jepang terkenal akan kedisiplinan, patuh pada aturan, dan kejujurannya. 

Kendati demikian, rasa kasih sayang orangtua Jepang pada anaknya tetap tersalurkan lewat pola asuh anak mereka yang menjunjung tinggi kedekatan psikis dan emosional. 
Seperti apa pola asuh orangtua Jepang yang layak ditiru dan cocok diterapkan di Indonesia?
Berikut delapan cara pola asuh orangtua Jepang menurut penulis Maryanne Murray Buechner seperti dilansir dari The Asian Parent.

1. Semua anak dilatih mandiri
Anak di Jepang dididik untuk mandiri sejak dini. Orangtua tidak akan mengantar atau menemani anak-anak saat pergi ke sekolah walau mereka memakai transportasi umum. Biasanya, anak-anak di Jepang berangkat sendiri atau bersama temannya.
Menurut Buechner, Jepang cukup aman, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan. Selain itu, orangtua di Jepang yakin masyarakat bisa dipercaya untuk membantu anak-anak.

2. Orangtua tidak membicarakan anak
Jika orangtua di negara lain hobi berbagi cerita atau masalah keluarga dengan orang lain, orangtua Jepang berbeda.
Buechner menemukan fakta bahwa orang Jepang menceritakan masalah mereka hanya kepada orang yang sangat mereka percayai.  Membicarakan aktivitas anak dianggap tabu di Jepang.

“Menyebutkan bahwa anak Anda bergabung dengan tim sepakbola, bisa dianggap sebagai orang yang sombong. Sudah cukup jika anak terlihat mengenakan seragam tim itu,” tulis Buechner.
Kendati demikian, pola asuh Jepang sangat kompetitif.

“Pola asuh di Jepang sangat kompetitif, mereka biasanya memastikan agar anaknya masuk ke sekolah ternama. Persiapan untuk lulus ujian sekolah sangat berat,” kata Buechner.

3. Mengutamakan kedekatan fisik dan emosional
Buechner menemukan fakta menarik, meski orangtua Jepang menyukai pola asuh yang mengedepankan kedekatan fisik dan emosional (attachment parenting), mereka tidak menunjukkannya di depan umum.

“Para ibu di Jepang biasanya menggendong anaknya ke mana pun, dengan tangan atau baby carrier. Kedekatan fisik seperti ini mengekspresikan kasih sayang seorang ibu, meski tidak ada ciuman atau pelukan. Bahkan, ada seorang ayah yang bermain ski sambil menggendong bayinya di punggung saat di Nagano” tulis Buechner.

Ia menambahkan bahwa mayoritas orangtua Jepang tidur bersama anak-anak mereka, dengan kedua orangtua di samping, sementara anak di tengah. Kebiasaan ini berlangsung hingga anak melewati masa prasekolah.

4. Anak diajarkan untuk mengendalikan diri
Menurut pengamatan Buechner, salah satu elemen penting dalam pola asuh anak di Jepang adalah pengendalian diri.
Sejak dini, orangtua di Jepang mengajarkan anak-anak untuk menjaga kedamaian dan keharmonisan dalam keluarga, termasuk dalam lingkungan sekitar, meskipun itu berarti anak tidak dapat mengekspresikan kegelisahan ataupun kemarahan.

“Baik di restoran, museum, pusat perbelanjaan atau jalur pejalan kaki di tempat hiking popular, anak-anak di Jepang terlihat tenang dapat mengendalikan dirinya, tidak seperti putra saya yang berlarian melewati seorang nenek dengan tongkat dan berisik,” tulis Buechner.

5. Bekal, hal terpenting bagi ibu Jepang
Mayoritas ibu yang tinggal di perkotaan harus beradaptasi dengan kesibukannya dan membuat makanan yang mudah dibuat bagi anak-anaknya. Namun, ibu di Jepang selalu mengatur dan memperhatikan makanan mereka, apalagi jika sudah bicara tentang bento (bekal makan siang) anak.

Buechner menuliskan bahwa para ibu di Jepang tidak keberatan untuk bangun lebih awal dibanding anggota keluarganya yang lain untuk menyiapkan makanan sehat.
Mereka juga memastikan makanan dan lauk pauk di dalam bento terlihat berwarna-warni sehingga anak menghabiskan seluruh isinya.

“Para ibu di Jepang memiliki standar tinggi untuk bekal makan siang anak-anak mereka dan bangun lebih pagi untuk menyiapkan makanan sehat yang terlihat imut. Ikan, sayuran, tahu, rumput laut, dan onigri (nasi kepal) dibentuk menyerupai binatang atau tanaman,” tulis dia.

6. Tidak ada hal yang “sesuai untuk anak”
Jika mayoritas negara memiliki sertifikasi “khusus dewasa” sebagai peringatan bahwa suatu material mengandung kekerasan atau seksualitas, Jepang tidak begitu.

“Tidak ada seorang pun di Tokyo yang terlihat kaget saat trailer film Resident Evil diputar sebelum penayangan Toy Story 3. Senjata mainan yang terlihat ralistis dijual bebas di toko mainan. Bahkan, adegan seksual sering terlihat di komik,” tulisnya.
Apa alasannya?

“Karena semua yang imut dan manis ada di sini, kultur kawaii yang tersebar di seluruh Jepang membuatnya seimbang,” jelas Buechner.

7. Sangat menjaga alam
Karena kultur pola asuh Jepang sangat terikat dengan kedekatan dan kedisiplinan, mereka juga memperlakukan alam dengan cara yang sama.

Artinya, orangtua Jepang akan membawa anaknya untuk piknik saat bunga sakura berkembang, namun berlarian dan bermain di sekitarnya tidak diperbolehkan. Mereka mengajarkan anak-anaknya di mana dan kapan mereka bisa berlarian dan bermain.

8. Orangtua menceritakan dongeng pada anaknya
Selama tinggal di negeri matahari terbit itu selama 6 tahun, Buechner menyadari bahwa orangtua Jepang mengajarkan tentang legenda dan mitos melalui dongeng menarik.

“Sangat umum di Jepang untuk menceritakan tentang berbagai karakter dalam legenda Jepang, terutama saat ada perayaan. Ada banyak perayaan di Jepang, seperti Tengu Matsuri untuk menghormati Goblin si hidung panjang, dan Setsubun, hari untuk mengusir Oni si ogre dengan melemparkan segenggam kacang kedelai," tulis Buechner.

Dongeng-dongeng Jepang juga kerap menuliskan para pelindung dalam bentuk yang buruk, memberikan kesan kasih sayang yang tegas pada anak.





#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik