Gus Mus Ajak Introspeksi Diri Hadapi Covid-19

Mustasyar PBNU KH A Mustofa Bisri (Gus Mus). (Foto: Dok. NU Online)

Jakarta, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH A Mustofa Bisri (Gus Mus), mengajak jamaah yang turut hadir dalam acara ‘Pembacaan Shalawat Nariyah dan Doa untuk Keselamatan Bangsa dari Wabah’ untuk introspeksi diri dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Dalam kaca mata Gus Mus, pandemi merupakan pelajaran luar biasa dari Allah Swt. “Hanya orang yang tidak pernah dengar informasi atau dalam istilah sekarang ‘kurang piknik’ yang tak merasakan pelajaran besar dari Allah ini,” kata Gus Mus dalam siaran langsung Televisi Nahdlatul Ulama (TVNU) Sabtu, (10/7) malam.

“Ketika para kiai memberi peringatan kepada kita, ‘Silahkan jikalau mau mencari dunia, hal itu tidak haram.’ Namun, jangan keterlaluan. Jagalah jarak dengan dunia. Kita butuh apa, itulah yang dicari,” sambungnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang tersebut mengingatkan untuk tidak begitu akrab dengan dunia. Sehingga menjadikan kita berjarak dengan Tuhan, keluarga, dan anak istri. Sebab terlalu asyik menggeluti dunia.

Hampir semua kesibukan sehari-hari dipenuhi dengan urusan dunia. Bahkan, shalat yang merupakan imaduddin (tiang agama) selama ini dijadikan sambilan.

“Ketika sedang berbicara bisnis dengan kawan kita, sebentar ya saya mau shalat sebentar. Dan hanya sebentar shalatnya karena ditunggu bisnis,” tutur Gus Mus.
Menurut Kiai kharismatik asal Rembang, Jawa Tengah ini, pandemi Covid-19 adalah pelajaran dan kasih sayang Allah kepada manusia. Terkadang, suami istri meninggalkan rumah dan membiarkan anaknya dengan pengasuh. Sebab, terlalu asyik mencari dunia, sehingga berjarak dengan keluarga.

“Karena sayangnya Allah, diberi peringatan sekali lagi yang besar. Kita harus berjarak dengan dunia. Melalui wabah ini kita mulai terlatih meninggalkan keakraban dengan dunia, menjadi lebih dekat dengan keluarga," tutur Kiai yang gemar melukis ini.

Introspeksi diri
Melalui acara tersebut, Gus Mus mengajak untuk introspeksi diri, sebagai hamba Allah yang dijadikan khalifah, penguasa di muka bumi. Ketika kita merasa berkuasa, justru kita tak terlalu menyadari kekhalifahan kita.

“Lalu semena-mena terhadap apa yang diserahkan kepada kita. Sehingga lupa bahwa semula adalah seorang hamba yang ditugasi untuk menjadi penguasa,” ungkapnya.

Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo Mesir itu juga mengapresiasi PBNU yang selalu mengadakan istighotsah kepada Allah. Ia menilai, hal tersebut merupakan tanda bahwa kita memang sedang merasa bersalah, sedang mendzalimi diri sendiri.

“Selama ini kita menganggap diri kita hanya hamba Allah sendiri, dan orang lain kita anggap bukan hamba-Nya,” ujar Gus Mus.

Gus Mus menegaskan, sekarang saatnya untuk mengkritik kesalahan kita, bukan justru mengurusi kesalahan orang lain. Lalu mendekatkan diri kepada Allah dan memohon ampunan atas segala kesalahan dan dosa.

Gus Mus juga mengajak jamaah yang hadir untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi dan beristighfar kepada Allah. Memanfaatkan waktu luang untuk shalawat, dibanding menggunjing orang lain.

“Insyaallah, Allah akan mengangkat virus ini dan mengembalikan rahmat-Nya kepada kita. Kita betul-betul tobat dan jera dengan perilaku kita selama ini dan berjanji tidak akan dzalim lagi,” pungkas Gus Mus. 





#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik