10 Kesalahan Orangtua dalam Mendidik Anak Remaja

SHUTTERSTOCK

Membesarkan anak di masa remaja bukanlah hal mudah.
Sebab, remaja melalui banyak perubahan dalam hidup, dan mulai berusaha untuk mejalani hidup tanpa orangtua.
Mereka juga mencoba untuk mencari jati diri sendiri, dan hal ini terkadang membuat orangtua tidak tenang.
Namun perlu diingat, remaja tidak melakukannya dengan sengaja. Mereka hanya mencoba mencari tahu cara menjalani hidup sendiri.

Di sisi lain, orangtua ingin yang terbaik bagi anak, dan ingin bisa membimbing anak dalam menghadapi masa remajanya.
Sayangnya, proses ini membuat orangtua kerap melakukan kesalahan dalam mendidik anak remaja.

Berikut adalah 10 kesalahan umum orangtua dalam mendidik remaja. Coba disimak.

1. Terlalu berlebihan atau pun menganggap remeh
Menurut laman Very Well Family, salah satu kesalahan terbesar orangtua adalah terlalu berlebihan atau menganggap remeh masalah remaja.
Remaja memang kerap melakukan kesalahan atau mengambil pilihan yang tidak seharusnya.
Namun, penting bagi orangtua untuk melakukan refleksi diri. Sebab, bisa saja orangtua yang menjadi sumber masalah itu.
Refleksi diri juga bisa membantu orangtua dalam membuat batasan bagi perilaku remaja.

2. Ekspetasi yang tidak realistis
Sebagai orang dewasa, mungkin kita berpikir hidup remaja adalah hal yang mudah
Orangtua pun berharap agar anak remaja menjalani hidup bebas dan menyenangkan, karena “seharusnya” begitulah hidup remaja.
Namun -ternyata, harapan itu tidak realistis. Sebab, remaja adalah sosok yang moody dan terkadang tertutup, itulah hal realistis dari remaja.

3. Tidak ada aturan
Karena kita tahu bahwa remaja masih harus banyak belajar mengenai peran mereka di dunia dan mendapatkan kebebasan, bukan berarti orangtua tidak menetapkan aturan.
Meski orangtua ingin memberi anak remaja kebebasan, tentu perlu ada aturan dan batasan.
Sebab, remaja juga harus mencoba melatih moral dan kemampuan mereka untuk membuat pilihan tepat.

4, Melawan
Emosi remaja memang tinggi, apalagi jika dia tengah mengalami masalah sulit.
Mungkin mudah bagi orangtua untuk melawan anak dalam suatu argumen. Namun, biasanya hanya pertengkaran yang terjadi, dan tidak ada “pemenang” di dalamnya.
Akan lebih baik jika orangtua mendengarkan apa yang ingin dikatakan mereka dan mencari tahu apakah pertengkaran itu perlu dilakukan atau tidak.
Kita juga perlu mengetahui waktu yang tepat untuk mundur dan menenangkan diri.

5, Identifikasi berlebihan
Menurut Psychology Today, mencoba untuk mengidentifikasi perilaku remaja memang merupakan hal normal. Namun, tidak baik jika dilakukan secara berlebihan.

Kita perlu mengetahui batasannya. Saat seorang ibu mengidentifikasi perilaku anak usia remaja, mereka akan merasa kalau dia “diserang”.
Kondisi itu malah bakal membuat anak membangkang.
Untuk itu, berempatilah pada anak, namun jangan menganggap masalah mereka adalah masalah orangtua juga.

6. Memasukkan hati
Hormon adalah salah satu hal yang memegang peran penting dalam perkembangan remaja.
Hormon juga dapat membuat mereka berperilaku irasional, dan mengatakan apa yang sebenarnya tidak ingin mereka katakan.

Penting bagi orangtua untuk tidak memasukkan hati apa yang anak katakan, terutama dalam sebuah argumen.
Sebaiknya, biarkan situasi mendingin. Lalu, diskusikan dengan anak terkait apa yang terjadi dan apa yang kita rasakan.

7. Memprediksi masa depan
Mengkhawatirkan masa depan anak memang normal, apakagi remaja hanya selangkah menuju masa dewasa.
Namun jika berlebihan, bisa berbahaya. Para ahli menyebut situasi ini sebagai “catastrophic thinking,” dan ini bisa menghambat perkembangan remaja.
Hal ini dapat membuat orangtua terlalu fokus pada masa depan anak, dan lantas melupakan bagaimana keadaan anak kita sekarang.

8. Terlalu banyak bicara
Mendengarkan adalah hal terbaik yang bisa dilakukan orangtua bagi anak mereka, terutama jika anak ada di usia remaja.
Sayangnya, orangtua terbiasa menyelesaikan semua masalah anak dan melakukannya tanpa sadar.
Perlu diingat, saat anak berada di usia remaja, penting bagi orangtua untuk mendengarkan dan tidak langsung memberi mereka solusi dan nasihat.

9. Menggoda
Menggoda anak mungkin bisa menjadi salah satu aktivitas menyenangkan yang dapat membuat anak dan orangtua lebih dekat.

Namun, jangan berlebihan.
Remaja tengah mencari jati dirinya serta masih belajar untuk menghargai dirinya. Remaja juga sangat sensitif.
Jadi, mungkin saja mereka terlihat tidak keberatan, namun sebenarnya merasa tersinggung.

10. Jangan sampai putus hubungan
Poin terakhir sekaligus poin terpenting, yaitu, jangan pernah putus hubungan dengan anak.

Menurut Positive Parenting Solutions, dalam transisi anak menuju masa dewasa, remaja tetap memerlukan bantuan dan petunjuk dari orangtua.
Namun, kini lebih berorientasi pada anak.
Orangtua memang perlu memberi remaja kebebasan lebih, namun penting bagi orangtua untuk mengingatkan anak kalau orangtua masih ada di sisinya.

Tinggalkan catatan kecil, atau ajak mereka makan di luar atau berbelanja sesekali guna membuat koneksi tetap kuat.
Sumber: Moms




#Gusfik
#GresikBaik
#InfoGresik