Xi Jinping Makin Galak ke Penambang, Harga Bitcoin Drop Lagi!

Foto: cnn.com

Jakarta, Harga mata uang digital, Bitcoin kembali ambles pada perdagangan Senin (21/6/2021) sore waktu Indonesia, menyusul adanya laporan bahwa pemerintah China di bawah Presiden Xi Jinping telah mengintensifkan tindakan kerasnya terhadap penambangan kripto.

Berdasarkan data dari Investing pada pukul 16:41 WIB, harga Bitcoin yang pagi hari ini masih sempat berada di level US$ 35.000-an per koinnya, pada sore hari ini tercatat ambles 5,45% ke level harga US$ 33.096,60/koin atau setara dengan Rp 477.069.814/koin.

Saingan yang lebih kecil seperti Ethereum dan Ripple juga jatuh, masing-masing ambruk hingga 8% dan 7%.

Banyak tambang Bitcoin di Sichuan ditutup pada Minggu (20/6/2021) kemarin setelah pihak berwenang di provinsi barat daya China memerintahkan penghentian penambangan kripto. Lebih dari 90% kapasitas penambangan bitcoin China diperkirakan akan ditutup.

Bloomberg dan Reuters juga melaporkan perpindahan dari otoritas Sichuan. Perpindahan para penambang di Sichuan mengikuti perkembangan serupa di wilayah Mongolia Dalam dan Yunnan China, serta seruan dari Beijing untuk melarang penambangan kripto di tengah kekhawatiran atas konsumsi energinya yang besar.

Hal ini tampaknya telah menyebabkan penurunan yang signifikan dalam tingkat hash Bitcoin, yang telah turun tajam pada bulan lalu, menurut data dari Blockchain.com. Diperkirakan 65% penambangan bitcoin global dilakukan di China.

Sebagai informasi, hash rate adalah salah satu istilah populer di aset kripto, biasanya menggambarkan tingkat kecepatan penambang dalam menambang aset kripto. Adapun nilai hash rate bisa naik atau turun, tergantung kesulitan tebak-tebakan tersebut di penambang kripto.

Jaringan Bitcoin tergolong terdesentralisasi, tidak ada pihak pusat atau perantara untuk menyetujui transaksi atau menghasilkan koin baru.

Sebaliknya, blockchain-nya dikelola oleh penambang yang berlomba untuk memecahkan algoritma kompleks dengan menggunakan komputer yang dibuat khusus untuk memvalidasi transaksi. Siapa pun yang memenangkan perlombaan itu dihargai dengan Bitcoin.

Proses intensif daya ini telah menimbulkan kekhawatiran yang berkembang atas potensi bahaya lingkungan dari Bitcoin, mulai dari CEO Tesla, Elon Musk hingga Menteri Keuangan AS, Janet Yellen.

China, tempat sebagian besar penambangan Bitcoin terkonsentrasi sangat bergantung pada tenaga batu bara. April lalu, sebuah tambang batu bara di wilayah Xinjiang banjir dan ditutup, membuat hampir seperempat dari tingkat hash Bitcoin offline.

Atas kondisi tersebut menyebabkan para penambang kripto di China sering bermigrasi ke tempat-tempat seperti Sichuan, yang kaya akan tenaga air di saat musim hujan.

Lembaga atau badan industri telah dibentuk, seperti Bitcoin Mining Council dan Crypto Climate Accord yang dibentuk dalam rangka mengurangi jejak karbon yang dihasilkan dari proses penambangan dan transaksi kripto.




#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik