RI Optimistis Jadi Pemain Baterai Mobil Listrik di 2025

Foto: Ilustrasi baterai pada mobil listrik yang dikemas dalam komponen yang aman. electrec.co

Jakarta, Pemerintah optimistis bahwa RI bakal menjadi pemasok baterai untuk kendaraan listrik (Electric Vehicle/ EV) pada tahun 2025 mendatang.
Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif.

Seperti diketahui, salah satu bahan baku pembuatan baterai adalah mineral nikel. Oleh karena itu, pemerintah mendorong hilirisasi nikel dengan membangun smelter.

Menurutnya, sampai dengan tahun 2024 Indonesia ditargetkan akan memiliki 53 smelter, di mana saat ini sudah terbangun 19 smelter dan sebagian besar digunakan untuk mengolah nikel.

"Indonesia ditargetkan menjadi pemasok baterai EV pada tahun 2025," kata Arifin dalam webinar seputar teknologi mineral dan batu bara, hari ini, Rabu (23/06/2021).

Melihat besarnya manfaat dari hilirisasi mineral, maka pemerintah akan terus mendorong proyek ini. Pemerintah juga membuat kebijakan-kebijakan untuk mendorong percepatan hilirisasi.

"Untuk mempercepat hilirisasi mineral, kami memberikan sejumlah fasilitas seperti perpajakan, fasilitas untuk tax allowance, tax holiday, OSS, dan royalti," jelasnya.

Cita-cita Indonesia menjadi pemain di industri baterai didukung oleh sumber daya bahan bakunya yang melimpah. Pemerintah pun sudah membentuk holding BUMN Industri Baterai atau yang dikenal Indonesia Battery Corporation (IBC).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat total sumber daya logam nikel pada 2020 mencapai 214 juta ton logam nikel, meningkat dari 2019 yang tercatat sebesar 170 juta ton logam nikel.
Sementara jumlah cadangan logam nikel pada 2020 mencapai 41 juta ton logam nikel, lebih rendah dari 2019 yang mencapai 72 juta ton logam nikel.

Sementara untuk bijih nikel, berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2020, total sumber daya bijih nikel mencapai 8,26 miliar ton dengan kadar 1%-2,5%, di mana kadar kurang dari 1,7% sebesar 4,33 miliar ton, dan kadar lebih dari 1,7% sebesar 3,93 miliar ton.

Adapun cadangan bijih nikel mencapai 3,65 miliar ton untuk kadar 1%-2,5%, dimana cadangan bijih nikel dengan kadar kurang dari 1,7% sebanyak 1,89 miliar ton dan bijih nikel dengan kadar di atas 1,7% sebesar 1,76 miliar ton.

Untuk rinciannya, cadangan bijih nikel kadar di atas 1,7% tereka sebesar 1,72 miliar ton, tertunjuk sebesar 1,26 miliar ton, terukur sebesar 954 juta ton, terkira sebesar 990 juta ton dan terbukti sebesar 772 juta ton.

Sementara untuk cadangan bijih nikel dengan kurang dari 1,7% tereka sebesar 2 miliar ton, tertunjuk 1,52 miliar ton, terukur sebesar 805 juta ton, terkira sebesar 1,30 miliar ton dan terbukti sebesar 589 juta ton.

Adapun nikel yang diperlukan untuk bahan baku baterai biasanya dengan kadar rendah di bawah 1,7%.




#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik