Memahami Taper Tantrum yang Dikhawatirkan Sri Mulyani dan Gubernur BI

Taper tantrum menjadi salah satu risiko yang dihadapi perekonomian Indonesia pada tahun depan.

Ilustrasi. Bank Indonesia memastikan akan merespons kemungkinan terjadinya pengetatan kebijakan atau tapering off dengan mengoptimalkan langkah-langkah stabilisasi moneter


Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengingatkan taper tantrum menjadi salah satu risiko yang dihadapi perekonomian Indonesia pada tahun depan. Efek dari kebijakan Bank Sentral AS, The Federal Reserve ini dapat mendorong aliran modal asing ke luar dari Indonesia. Namun, apa sebenarnya taper tantrum? Mengutip Investopedia, taper tantrum adalah istilah yang digunakan media ekonomi untuk menggambarkan lonjakan imbal hasil surat berharga AS pada 2013 karena pengumuman Bank Sentral AS, The Federal Reserve tentang kebijakan pelonggaran kuantitatif di masa depan. The Fed kala itu mengumumkan bahwa mereka akan mengurangi laju pembelian obligasi treasury, untuk mengurangi jumlah uang yang dimasukkan ke dalam perekonomian.

Taper tantrum mengacu pada kepanikan sebagian besar investor pada 2013 yang memicu lonjakan hasil treasury AS setelah mengetahui bahwa The Fed perlahan-lahan menghentikan program pelonggaran kuantitatif (QE). Kekhawatiran utama di balik taper tantrum bersumber dari ketakutan bahwa pasar akan runtuh akibat penghentian QE. Pada akhirnya, kepanikan taper tantrum tidak beralasan, karena pasar terus pulih setelah program taper tantrum dimulai.

Pelonggaran kuantitatif (QE) sendiri merupakan kebijakan bank sentral AS untuk mendorong ekonomi setelah krisis 2008. QE mencakup pembelian obligasi dan sekuritas lainnya dalam jumlah besar. Secara teori, hal ini meningkatkan likuiditas di sektor keuangan untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini juga bertujuan menstabilkan sektor keuangan mendorong pinjaman, untuk memungkinkan konsumen berbelanja dan bisnis untuk berinvestasi.

Namun pada 2013, Ketua Federal Reserve Ben Bernanke mengumumkan bahwa The Fed di masa mendatang akan mengurangi volume pembelian obligasinya. Dalam periode sejak krisis keuangan 2008, The Fed telah melipatgandakan ukuran neracanya dari sekitar US$1 triliun menjadi sekitar US$3 triliun dengan membeli hampir US$2 triliun obligasi Treasury dan aset keuangan lainnya untuk menopang pasar. Hal ini membuat pasar bergantung pada dukungan besar-besaran The Fed. Kebijakan prospektif untuk mengurangi tingkat pembelian aset The Fed ini merupakan kejutan negatif besar-besaran terhadap ekspektasi investor, karena The Fed telah menjadi salah satu pembeli terbesar dunia. Seperti halnya penurunan permintaan, pengurangan pembelian Fed (obligasi) membuat harga akan turun.

Investor obligasi segera menanggapi prospek penurunan harga obligasi di masa depan dengan menjual obligasi, sehingga menekan harga obligasi. Penurunan harga obligasi selalu berarti imbal hasil yang lebih tinggi, sehingga imbal hasil Treasury AS melonjak. Reaksi pasar obligasi yang ekstrem pada saat itu terhadap kemungkinan berkurangnya dukungan di masa depan menggarisbawahi sejauh mana pasar obligasi telah menjadi kecanduan stimulus The Fed.

Akibat pengumuman tersebut, aliran modal asing berbondong-bondong keluar dari pasar keuangan negara-negara emerging market, termasuk Indonesia. Kondisi ini berdampak pada pelemahan rupiah hingga 26% sepanjang 2013 berdasarkan catatan Katadata. Sementara itu, sinyal pengetatan kebijakan The Fed yang lebih cepat dari prediksi sebelumnya dalam beberapa pekan terakhir telah mendorong aliran modal asing keluar dari pasar-pasar negara berkembang Asia.

Berdasarkan data Institute of International Finance, investor asing menjual US$500 juta atau setara Rp 7,15 triliun (asumsi kurs Rp 14.300 per dolar AS) lebih banyak saham dan obligasi daripada yang mereka beli di pasar negara berkembang Asia pada Mei. Ini menandai arus keluar bersih pertama sejak Desember tahun lalu. Sementara jika mengecualikan Tiongkok, arus modal keluar melonjak menjadi US$10,8 miliar atau setara Rp 154 triliun. Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bahwa terdapat diskusi awal tentang kapan harus menarik kembali pembelian obligasi bulanan Fed senilai US$ 120 miliar. "Sangat menyenangkan melihat pembukaan kembali ekonomi dan melihat orang-orang menjalani hidup mereka lagi. Siapa yang tidak ingin melihatnya?," kata Powell saat Konferensi Pers, Rabu (16/6) seperti dikutip dari Reuters. The Fed sejak tahun lalu menahan suku bunga acuannya di level 0% hingga 0,25% seperti terlihat dalam databoks di bawah ini. 


Semua mengatakan, komentar Powell dan pernyataan kebijakan Fed yang baru menandai mosi percaya yang kuat bahwa pemulihan AS berada di jalurnya, bahkan dengan pandemi. Pernyataan kebijakan itu menghilangkan bahasa lama bahwa krisis kesehatan akan terus membebani ekonomi. 

Sebaliknya, Pejabat Bank Sentral AS mengatakan pengaruh vaksinasi Covid-19 akan terus mengurangi efek pandemi. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pihaknya akan merespons kemungkinan terjadinya pengetatan kebijakan atau tapering off dengan mengoptimalkan langkah-langkah stabilisasi moneter.

"Terutama stabilisasi nilai tukar rupiah dan berkoordinasi dengan pemerintah agar pengaruh tapering off terhadap imbal hasil Surat Berharga Negara tetap dalam batas-batas yang normal," kata Perry dalam Konferensi Pers hasil Rapat Dewan Gubernur bulan April 2021, Selasa (25/5). Hal tersebut, menurut dia, saat ini sedang dilakukan dan akan terus berlanjut.

Pengoptimalan stabilisasi nilai tukar dan imbal hasil SBN juga sudah pernah dilakukan pada awal tahun ini saat suku bunga obligasi Negeri Paman Sam tenor 10 tahun melonjak tinggi, hampir mendekati 1,9%. Selain itu, Perry menyebutkan BI akan terus mengarahkan kebijakan suku bunga acuan, likuiditas perbankan, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk mendukung pemulihan ekonomi. "Itu langkah-langkah yang harus kami lakukan dan terus kami lakukan," ujar dia.





#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik