Gak Percaya Bank, Ini 4 Fakta Kenapa Milenial Doyan Kripto

Foto: Investor milenial di BEI/CNBC Indonesia/Tahir Saleh

Jakarta, Indonesia - Generasi yang saat ini mendadak menjadi investor di produk-produk investasi ialah mereka yang melek teknologi dan disuguhi perkembangan teknologi sedari kecil, yakni Generasi Z (Gen Z).

Gen Z disebut sebagai generasi yang lahir setelah Generasi Y (Generasi Millenial, lahir 1980 - 1994). Dalam literatur buku Generations, orang yang termasuk ke dalam generasi ini adalah mereka yang lahir di tahun 1995 sampai dengan 2010, berusia 11-26 tahun. Mereka bisa disebut juga iGeneration atau generasi internet atau generasi net.

Nah, investasi yang berkaitan dengan penggunaan platform teknologi, termasuk koin digital, kripto (cryptocurrency) dan blockchain, seperti bitcoin, ethereum, dogecoin, NFT (non-fungible token) atau token yang tidak dapat dipertukarkan, dan layanan digital berbasis decentralized finance (DeFi).

Sebagai informasi, NFT biasanya dibuat menggunakan jenis pemrograman yang sama dengan cryptocurrency, seperti bitcoin atau ethereum, tetapi persamaannya cuma itu.

Perbedaannya adalah, jika uang fisik dan cryptocurrency adalah "sepadan" dalam arti dapat diperdagangkan atau ditukar satu sama lain dengan nilai yang sama, NFT beda nilai.

NFT bisa dibuat, misalnya pada satu karya seni tradisional seperti lukisan yang sangat berharga karena jumlahnya hanya satu, file digital dapat diduplikasi dengan mudah.

Maka dengan NFT, karya seni dapat "ditokenisasi" untuk membuat sertifikat kepemilikan digital yang dapat dibeli dan dijual. Sementara DeFI itu layanan keuangan terdesentralisasi berbasiskan teknologi blockchain, layaknya bitcoin.

Token DeFi biasanya diciptakan dalam blockchain Ethereum. Namun, kini mulai bermunculan juga token DeFi berbasiskan jaringan blockchain Tron.

Hanya saja, yang menarik, token DeFi menyediakan layanan lending (pinjaman), staking (memvalidasi aktivitas penambangan kripto), dan yield farming (menabung aset kripto dan meminjamkannya ke pengguna lain).
Investor Gen Z inilah yang dinilai menjadi segmen yang amat tertarik terhadap investasi kripto ini.

berapa dari para generasi net ini bahkan rela menghabiskan sebagian besar tabungan mereka untuk jenis investasi ini.

Hampir setengah dari para miliarder ini (jutawan dalam pandangan orang AS, dengan kekayaan lebih dari US$ 1 juta atau Rp 14,3 miliar, memiliki kekayaan dengan setidaknya 25% dari aset yang terkait dengan produk kripto.

Lebih dari sepertiga jutawan Gen Z ini memiliki setidaknya setengah kekayaannya di kripto dan sekitar setengahnya memiliki aset NFT.

Di AS, para investor muda ini juga ikut-ikutan dalam 'pertempuran' melawan para manajer pengelola dana (manajer investasi) di bursa Wall Street. Hal itu terjadi pada kasus kerugian investasi para hedge fund besar saat tekor dalam transaksi jual kosong (short selling, jual saham yang belum dimiliki) atas saham GameStop dan AMC Entertainment.

Salah satu alasan perlawanan ini adalah para investor muda berharap agar para manajer hedge fund ini membayar kerugian atas transaksi short selling yang selama ini dianggap merugikan investor ritel, dan mengakhiri sistem yang mereka anggap tidak efisien itu.

Di Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga kini transaksi short selling masih belum diizinkan berlaku lagi oleh BEI sejak pandemi mendera Tanah Air Maret tahun lalu.

Short selling adalah transaksi yang digunakan investor dengan meminjam dana untuk melakukan penjualan saham yang belum dimiliki dengan harga tinggi dengan harapan bisa membeli pada saat harga sahamnya turun.

Berdasarkan wawancara dengan CNBC Make It, alasan kaum muda beralih ke investasi alternatif seperti kripto cukup sederhana: banyak yang tidak mempercayai lembaga investasi tradisional, seperti yang dikatakan Allison Reichel, 23 tahun, salah satu narasumber CNBC.

Mereka lebih suka mengandalkan penelitian pasar yang mereka lakukan sendiri ketimbang menggunakan riset dari lembaga tradisional, seperti penasihat keuangan.

Alasan Reichel juga sama. Saat menempuh doktoral atau PhD di bidang ekonomi, Reichel yang juga seorang editor senior di situs berita kripto Blockworks. Dia mulai berinvestasi dengan jumlah 'banyak' di kripto tahun ini.

Kepemilikan kripto merupakan sebagian besar dari keseluruhan portofolio miliknya. Reichel berencana untuk menahan bitcoin dan Ether-nya dalam jangka panjang.

Tetapi ketidakpercayaan atas aset portofolio (termasuk saham) bukanlah satu-satunya hal yang mendorong kaum muda untuk berinvestasi dalam mata uang kripto.
Pertama, banyak yang optimis dan memiliki pandangan yang benar-benar positif tentang teknologi .

Kedua, pada saat yang sama mereka merasa tidak terhubung dengan investasi tradisional, banyak yang menemukan komunitas menyenangkan di ruang kripto. Mereka ingin berinvestasi di instrumen yang mereka anggap cocok dengan karakter mereka, apakah itu saham, koin, atau aset digital.

CNBC Make It mewawancarai beberapa Gen Z dan investor milenial muda, seperti Reichel, tentang bagaimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi mereka memilih instrumen investasi untuk menyimpan uang, dan menjaga mereka tetap berhati-hati.

Berikut sejumlah alasan Gen Z dan milenial suka dengan kripto, yang dirangkum CNBC Maket It:

1. Mahir di Bidang Teknologi
Meskipun beberapa investor muda bertaruh pada altcoin (koin alternatif di luar koin utama yang banyak diperdagangkan, contohnya Dogecoin) dan berusaha menghasilkan keuntungan cepat melalui trading, banyak yang berencana untuk "menahan" aset kripto favorit mereka untuk jangka panjang.

"Saya melihat penerapan dan penggunaan kripto dalam jangka panjang," kata Reichel.
Saat melakukan penelitian untuk gelar PhD, Reichel terinspirasi oleh bagaimana bitcoin digunakan untuk membantu mereka yang membutuhkan di berbagai negara.
Di Venezuela, misalnya, kripto adalah salah satu cara anggota keluarga masih dapat menerima kiriman uang dari kerabat mereka di AS ketika Presiden Venezuela tidak mengizinkan bantuan sosial.

Harganya yang tinggi mungkin membuat sebagian orang merasa memiliki Bitcoin tampak sangat tidak terjangkau, Reichel menjelaskan terkait opsi untuk membeli saham pecahan yang disebut satoshi. Harga bitcoin saat ini kisaran US$ 33.000 atau setara Rp 462 juta/koin (kurs Rp 14.000/US$).

Alasan serupa soal penggunaan teknologi dan keuntungan cepat ini juga membuat Kyla Scanlon yang berusia 23 tahun mulai berinvestasi dalam bitcoin dan Ether selama kuliah pada tahun 2016.

"Saya sangat menyukai kegunaan memiliki [bitcoin] bagi orang-orang yang tidak memiliki rekening bank. Pandangan hidup saya adalah, 'Bagaimana kita menciptakan aksesibilitas finansial dan kesetaraan untuk semua orang?' Saya pikir kripto adalah salah satu langkah yang memungkinkan orang yang tidak memiliki akses ke metode tradisional seperti bank untuk melakukannya," katanya.

Scanlon pertama kali memulai perdagangan saham ketika SMA dan mulai bekerja di manajemen aset setelah lulus dari perguruan tinggi.
Kepemilikan aset kripto utama miliknya terdiri dari bitcoin dan ether, dan dia juga memiliki saham di perusahaan seperti Roblox, Facebook, dan Etsy.

Scanlon juga optimis terhadap teknologi blockchain, yang merupakan buku besar digital terdesentralisasi yang mendokumentasikan transaksi aset kripto dan informasi lainnya.
"Saya tidak tahu apakah bitcoin akan menjadi seperti mata uang, tapi saya pendukung teknologinya," katanya.

Kayla Kilbride, 24 tahun yang aktif membahas keuangan di TikTok dan dikenal sebagai @girlstalkstocks memiliki lebih dari 108.000 pengikut, yakin kepercayaan pada bitcoin dan ethereum akan tumbuh karena kemampuan masing-masing blockchain.

Kilbride mulai berinvestasi dalam bitcoin dan ether awal tahun ini, dimulai dengan jumlah kecil. Sebagai pengganti pekerjaan full time, saat ini dia berdagang dan menjual NFT dari konten media sosialnya untuk mendapatkan penghasilan.

Banyak pakar keuangan memandang aset kripto sebagai investasi spekulatif, volatil, dan berisiko yang rentan terhadap penipuan.
Tapi alasan tersebut tidak membuat Reichel, Scanlon, dan Kilbride terlalu mengkhawatirkannya.

Reichel sangat optimis dengan nilai bitcoin di masa depan, tetapi hanya menginvestasikan sejumlah apa yang dia rasa tidak masalah jika uang tersebut lenyap.
"Saya tidak masalah merugi karena saya memastikan bahwa saya telah membayar semua tagihan saya," katanya.

"Tentu bagus ketika memperoleh keuntungan, tetapi bagi saya, (bitcoin) benar-benar sesuatu yang saya yakini memiliki potensi untuk merevolusi sistem moneter di seluruh dunia."

Foto: Investor milenial di BEI/CNBC Indonesia/Tahir Saleh

2. Ketidakpercayaan dengan Institusi Keuangan
Tentu saja, banyak Gen Z dan investor milenial muda pada awalnya beralih ke cryptocurrency karena menghindari lembaga keuangan tradisional (bank, bank sentral, manajer investasi, sekuritas atau broker saham), tetapi tetap memupuk kekayaan.

Reichel, Scanlon dan Kilbride, yang semuanya melakukan penelitian sendiri dan berinvestasi tanpa bantuan penasihat keuangan, mengatakan sebagian dari ketidakpercayaan mereka karena menyaksikan sendiri sistem keuangan saat ini tidak adil dan tidak efisien.

"Generasi muda khawatir terhadap kekayaan dan masa pensiun mereka," kata Reichel.

Mereka tidak ingin bergantung pada sistem tradisional yang sama seperti yang dilakukan para orang tua mereka.

"Saya pikir banyak orang melihat hal yang tidak efisiensi dan benar-benar ingin mengubahnya," katanya.

Scanlon setuju. Dia juga percaya ketakutan atas inflasi juga ikut mendorong minat kalangan anak muda terhadap aset kripto. Selain penghalang untuk masuk pun tidak terlalu banyak.

"Ini tentang aksesibilitas," kata Cooper Turley, ahli strategi kripto di aplikasi streaming berbasis ethereum, Audius.

"Hampir sebagian besar token, tidak ada IPO [initial public offering, penawaran saham ke publik]. Investor ritel memiliki peluang yang sama untuk berkontribusi dan mendapatkan nilai dari proyek [kripto] tahap awal yang sama seperti yang dilakukan pemodal ventura."

Turley, 25 tahun, berinvestasi dalam bitcoin dan ether pada 2017 saat kuliah, dan sekarang, dia mengatakan investasi itu telah membuatnya menjadi jutawan

"Pergeseran paradigma kepemilikan demokratis yang dipasangkan dengan perdagangan 24/7 dan selalu berubah setiap saat jauh lebih dekat dan disukai oleh generasi yang paham internet daripada menggunakan broker," katanya.

Namun, penting untuk dicatat bahwa ada kerugian signifikan pada kripto. Para ahli memperingatkan investor untuk berhati-hati saat memasukkan uang ke dalam aset kripto, karena bisa sangat tidak stabil dan memungkinkan kehilangan seluruh investasi.

3. Kecintaan terhadap Meme
Banyak investor muda juga memilih untuk 'bersenang-senang' dengan investasi mereka seperti membeli koin meme, dogecoin, dan saham perusahaan game GameStop dan AMC Entertainment, yang menjadi tren budaya belakangan ini (meme)

"Saham kripto dan meme lebih mudah diingat oleh investor muda daripada perusahaan tradisional," kata Turley.

"Investor muda tidak terlalu peduli dengan laba perusahaan dan lebih peduli tentang meme atau narasi yang dapat mereka bagikan secara kolektif dengan teman-teman mereka."

Dogecoin, misalnya, diluncurkan pada tahun 2013, muncul atas ide Jackson Palmer seorang manager Adobe Inc. di Sydney, Australia. Palmer menciptakan dogecoin sebagai bentuk sindiran pada cryptocurrency.

Palmer memberikan logo Dogecoin diambil dari meme (istilah penyebaran budaya) yang populer saat itu yang menampilkan kata "doge" yang sengaja salah eja untuk menggambarkan anjing asal Jepang, Shiba Inu. Palmer tak bermaksud agar dogecoin dianggap serius, tapi kini menjadi salah satu dari 10 cryptocurrency teratas berdasarkan kapitalisasi pasar, dengan nilai pasar lebih dari US$ 22 miliar (Rp 314,6 triliun).

Kayla Kilbride, 24 tahun, melihat dogecoin sebagai cara untuk memperkenalkan kripto kepada orang-orang.
"Karena sangat murah dan terjangkau sehingga mudah dimengerti," kata Kilbride.

"Investasi bitcoin dan ethereum bertambah banyak karena [keuntungan] dari dogecoin."
"Saham meme menghilangkan aspek keuangan yang sangat menakutkan itu," kata Reichel.

"Ketika Anda berpikir tentang pasar saham, gambaran khasnya adalah semua pria tua berjas yang telah bekerja di sana selama bertahun-tahun."
Itu tidak berlaku untuk sesuatu seperti dogecoin.

Tapi terkadang, ini lebih dari sekadar hiburan semata. Bagi banyak orang, pertarungan saham yang digandrungi anak muda AS seperti GameStop dan AMC melambangkan perlawanan terhadap para hedge fund Wall Street. Ini semacam 'perlawanan' dari perasaan para milenial yang meyakni "kurangnya akses untuk 'masyarakat kecil," kata Kilbride.

Bagi Scanlon, "ada kebencian mendasar karena orang tua kami bisa memiliki portofolio saham/obligasi 60/40 dan baik-baik saja serta pensiun tanpa khawatir sama sekali. Tapi itu tidak terjadi pada generasi kami ini."

Namun, meskipun mereka memasukkan uang ke dalam investasi yang "menyenangkan" seperti kripto ini, para investor muda ini tetap berhati-hati.
Bagi Kilbride, caranya adalah dengan menghindari koin yang tidak jelas dan berisiko.

"Ketika ada begitu banyak hype [pada satu kripto tertentu] ... banyak orang yang tertipu, sementara itu banyak orang lain yang berpikir itu lucu, tetapi ketika Anda tidak mampu untuk kehilangan banyak [uang], itu terlalu berbahaya," ujarnya.

4. Berinvestasi sebagai Bagian dari komunitas
Jika investasi tradisional dianggap susah diakses oleh investor muda, banyak yang menemukan adanya rasa kebersamaan dalam investasi alternatif seperti aset kripto dan saham meme (maksudnya saham-saham yang digandrungi anak muda AS yakni GameStop).

Hal ini karena mereka menemukan komunitas baru. Untuk kasus saham GameStop, para investor ritel yang tergabung dalam komunitas situs web Reddit, ramai-ramai melakukan aksi beli sehingga saham GameStop melejit dan membuat fund-fund gede di Wall Street tekor di transaksi short selling.

Jelas fund-fund itu rugi, lantaran short selling adalah transaksi yang digunakan investor dengan meminjam dana untuk melakukan penjualan saham yang belum dimiliki dengan harga tinggi dengan harapan bisa membeli pada saat harga sahamnya turun.

"Pascapandemi, saya pikir ada rasa kesepian. Orang-orang menemukan komunitas di pasar saham, di server Discord, di Reddit. Orang-orang hanya mendambakan komunitas dan kebersamaan yang dirasakan sebelum pandemi," kata Scanlon.

"Ketika [saham] GameStop pertama kali bangkit kembali pada Januari, saya berinvestasi sebagai bagian dari komunitas. Saya tidak berinvestasi terlalu banyak dan saya berinvestasi ketika harga mendekati puncak, hanya untuk menahan agar harga tidak jatuh. Bagi saya, saya ingin membeli [saham GameStop] untuk dapat mencetaknya dan membingkainya di dinding, jelasnya.

Hal yang sama berlaku untuk Reichel.
"Saya berinvestasi sedikit hanya karena saya seperti, oh ini menyenangkan," katanya.
"Perusahaan yang tidak memiliki kinerja sebaik itu mengalami momen gila ini dan saya pikir 'saya ingin menjadi bagian dari ini.'"

Bagi sebagian orang, aspek komunitas adalah inti dari motivasi mereka untuk berinvestasi.
Itu termasuk Turley, yang selalu mempertimbangkan komunitas di sekitar koin sebelum berinvestasi.

Faktanya, "investasi saya didasari pada kekuatan komunitas," katanya.





#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik