Siapkan Sabuk Pengaman, Dolar Siap-Siap Ngamuk Nih


Jakarta, Perekonomian Amerika Serikat (AS) sudah bangkit pasca mengalami keterpurukan di akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19). AS bahkan diprediksi memimpin pemulihan ekonomi global di tahun ini, maklum saja ketika negara dengan nilai perekonomian terbesar di dunia melesat, negara-negara lainnya juga akan terkerek naik.
Namun, melesatnya perekonomian AS juga berisiko memicu penguatan dolar AS, yang tentunya akan berdampak kurang bagus bagi nilai tukar rupiah. Bahkan, bisa menimbulkan gejolak di pasar finansial yang lebih luas, sebab terkait dengan kebijakan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Di pekan ini AS melaporkan di kuartal I-2021 perekonomiannya tumbuh 6,4%. Pertumbuhan tersebut menunjukkan perekonomian AS sudah mulai pulih pasca mengalami resesi akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19).

Pertumbuhan Ekonomi AS (%)


Bahkan, banyak ekonom, termasuk The Fed memperkirakan produk domestik bruto (PDB) di tahun ini akan menjadi yang terbaik sejak tahun 1984.

The Fed pada bulan Maret lalu memproyeksikan produk domestik bruto (PDB) di tahun ini sebesar 6,5%, jauh lebih tinggi dari proyeksi yang diberikan pada bulan Desember tahun lalu sebesar 4,2%.

Sementara itu, Dana Moneter International (International Monetary Fund/IMF) dalam World Economic Outlook edisi April, memprediksi PDB AS akan tumbuh 6,4% lebih tinggi dari proyeksi bulan Januari sebesar 5,1%.

Proyeksi IMF untuk AS tersebut jauh lebih tinggi ketimbang zona euro yang diprediksi tumbuh 4,4% sepanjang tahun ini.

Sementara itu, IMF justru menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini menjadi 4,3%, dibandingkan proyeksi yang diberikan bulan Januari lalu sebesar 4,8%. Pada bulan Oktober tahun lalu, IMF bahkan memproyeksikan produk domestik bruto (PDB) Indonesia akan melesat 6,1%.

Selain IMF, Bank Indonesia (BI) juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini menjadi 4,1-5,1% dari sebelumnya 4,3-5,3%.

Meski pertumbuhan ekonomi AS sangat tinggi di tahun ini, tetapi dolar AS malah melemah 2 pekan terakhir melawan rupiah. Sebabnya, The Fed yang dengan tegas mengatakan belum akan merubah kebijakan moneternya meski perekonomian AS tumbuh lebih tinggi dari prediksi.
Dalam pengumuman kebijakan moneter Kamis dini hari waktu Indonesia, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan 0,25% serta program pembelian obligasi (quantitative easing/QE) senilai US$ 120 miliar per bulan. Suku bunga The Fed baru akan dinaikkan setidaknya di tahun 2023.

Pertumbuhan ekonomi yang kuat di tahun ini dikatakan karena program vaksinasi serta dukungan kebijakan moneter dan fiskal.

Di tengah kemajuan program vaksinasi serta dukungan kebijakan yang kuat, indikator perekonomian serta tenaga kerja telah menunjukkan penguatan," tulis komite pembuat kebijakan The Fed (FOMC).

Meski demikian, tingginya pertumbuhan ekonomi dinilai hanya sementara, dan masih belum merata sehingga kebijakan moneter ultra longgar masih diperlukan.

"Pemulihan ekonomi masih belum merata dan masih jauh dari kata selesai. Inflasi dalam beberapa bulan ke depan akan tinggi, tetapi kenaikan tersebut cenderung memiliki efek sementara" kata ketua The Fed, Jerome Powell dalam konferensi pers sebagaimana dikutip CNBC International, Kamis (29/4/2021).

Powell sekali lagi menegaskan saat ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan pengetatan moneter, termasuk pengurangan nilai QE.

"Kita masih memerlukan waktu beberapa lama untuk bisa melihat kemajuan pemulihan ekonomi yang substansial," tambah Powell.

David Mericle ekonom di Goldman Sachs mengatakan ia melihat The Fed baru akan memberikan petunjuk pengurangan QE atau yang dikenal dengan istilah tapering pada semester II tahun ini.

Melansir CNBC International, Mericle melihat The Fed akan mulai melakukan tapering pada awal 2022, dengan pengurangan sebesar US$ 15 per bulan.

Tapering The Fed merupakan hal yang ditakutkan investor sebab bisa memicu gejolak di pasar finansial, yang disebut taper tantrum. Tapering pernah terjadi pada periode 2013-2015.
Krisis finansial global yang terjadi pada tahun 2008 membuat The Fed menerapkan QE dalam 3 tahap.

QE 1 dilakukan mulai November 2008, kemudian QE 2 mulai November 2010, dan QE 3 pada September 2012. Nilainya pun berbeda-beda, saat QE 1 The Fed membeli efek beragun senilai US$ 600 miliar, kemudian QE 2 juga sama senilai US$ 600 miliar tetapi kali ini yang dibeli adalah obligasi pemerintah (Treasury) AS.

QE 3 berbeda, The fed mengumumkan pembelian kedua aset tersebut senilai US$ 40 miliar per bulan, kemudian dinaikkan menjadi US$ 85 miliar per bulan.

Pada Juni 2013 The Fed yang saat itu dipimpin Ben Bernanke akhirnya mengeluarkan wacana tapering QE. Sejak pengumuman tersebut hingga Agustus 2013 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga lebih dari 17%.

Selama periode tapering tersebut, rupiah yang paling menderita.

Dolar AS vs Rupiah (2013-2015)


The Fed akhirnya mulai mengurangi QE sebesar US$ 10 miliar per bulan dimulai pada Desember 2013, hingga akhirnya dihentikan pada Oktober 2014. Akibatnya, sepanjang 2014, indeks dolar melesat lebih dari 12%.

Tidak sampai di situ, setelah QE berakhir muncul wacana normalisasi alias kenaikan suku bunga The Fed, yang membuat dolar AS terus berjaya hingga akhir 2015 saat suku bunga acuan akhirnya dinaikkan 25 basis poin menjadi 0,5%. Setelahnya, The Fed mempertahankan suku bunga tersebut selama 1 tahun, penguatan indeks dolar pun mereda.

Rupiah menjadi korban keganasan taper tantrum kala itu. Sejak Bernanke mengumumkan tapering Juni 2013 nilai tukar rupiah terus merosot hingga puncak pelemahan pada September 2015.

Di akhir Mei 2013, kurs rupiah berada di level Rp 9.790/US$ sementara pada 29 September 2015 menyentuh level terlemah Rp 14.730/US$, artinya terjadi pelemahan lebih dari 50%.





#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik