Uang Saku Bung Hatta untuk Rakyat Papua


Ketika Papua baru bergabung dengan Indonesia, berbagai upaya dilakukan untuk memperkenalkan provinsi baru ini. Salah satunya adalah dengan mendatangkan proklamator kemerdekaan ke bumi cendrawasih. Dari dua tokoh proklamator, baru Bung Karno yang telah mengunjungi Papua pada 1963. Waktu itu, Papua masih bernama Irian Barat.

Bung Hatta yang telah lama menjadi orang sipil belum pernah lagi mengunjungi Papua. Padahal, pada masa kolonial, Bung Hatta pernah diasingkan pemerintah Belanda ke pelosok Papua, tepatnya di Boven Digul, Merauke. Kesempatan itu baru tiba pada 1970, ketika Soemarmo, pejabat Departemen Penerangan mendatangi kediaman Bung Hatta. Soemarmo menawarkan kepada Hatta perjalanan untuk meninjau Papua yang sudah resmi menjadi keluarga besar Republik Indonesia.

Hatta sempat menolak tawaran Soemarmo. Pertimbangannya, ongkos perjalanan ke Papua sangat besar dan kesehatannya sudah jauh menurun. Lagi pula, kata Hatta, dirinya bukan lagi pejabat negara. Soemarmo tidak kurang akal dengan meyakinkan Bung Hatta bahwa segala sesuatu yang dibutukan akan dipersiapkan. Semua biaya ditanggung pemerintah. 

Singkat cerita, Bung Hatta menerima tawaran Soemarno. Bung Hatta bahkan diperkenankan membawa rombongan, termasuk dokter pribadi mengingat kondisinya yang sudah lanjut usia. Ikut pula mendampingi asisten Bung Hatta, I Wangsa Negara yang kemudian menuturkan kisah perjalanan ini dalam buku Mengenang Bung Hatta.

Sampai di Papua, pesawat yang ditumpangi rombongan Bung Hatta mendarat di Bandara Sentani. Gubernur Frans Kaisiepo dan Bupati Anwar Ilmar turut menyambut. Keesokan pagi setelah sempat beristirahat, Seomarmo mendatangi penginapan Bung Hatta. “Saya lihat Mas Marmo membawa amlop ditangannya, saya tidak tahu isi amlop itu,” kenang Wangsanegara.

Setelah ngobrol sejenak, Soemarmo menyodorkan amplop yang dibawanya. Bung Hatta secara spontan pun bertanya, “Surat apa ini?” katanya.

“Bukan surat, Bung…Uang… Uang saku untuk selama perjalanan Bung Hatta di sini,” kata Soemarmo.

“Uang apalagi? Bukankah semua uang perjalanan saya ditanggung pemerintah?” ujar Hatta.

“Lho Bung, ini pun uang dari pemerintah, termasuk dalam biaya perjalanan Bung Hatta dan rombongan ini,” balas Soemarmo.

“Tidak, itu uang rakyat, saya tidak mau terima. Kembalikan,” tegas Bung Hatta.

Soemarmo jadi bingung melihat sikap Bung Hatta. Menurutnya uang saku itu lazim sebagai bekal dalam perjalanan dinas. Uang tersebut tidak dapat dikembalikan karena sudah dianggarkan. Namun, Hatta tidak mengerti. Dapat menginjakan kaki kembali di Papua saja dia sudah bersyukur.  

Setelah beberapa hari meninjau beberapa tempat penting di Jayapura, rombongan Bung Hatta berkunjung ke Digul. Sesampai di Tanah Merah, Bung Hatta melepas nostalgia masa-masa pembuangannya zaman pergerakan dulu. Setelah berkeliling, Bung Hatta agak termenung menyaksikan keadaan rakyat di sana yang jauh lebih buruk daripada saat dirinya diasingkan. Menurut keterangan penduduk, mereka kesulitan memperoleh obat-obatan dan kebutuhan pokok dari pemerintah karena distribusi ke daerah itu cukup sulit. Kalau terpaksa, mereka mengirim utusan ke Merauke untuk mendapatkan sekedar apa yang diperlukan.  

Saat akan mengkahiri kunjungannya, pemuka masyarakat Digul meminta Hatta menyampaikan wejangan. Dengan senang hati Bung Hatta bersedia. Namun, sebelum berpidato, Hatta setengah berbisik memanggil Soemarmo. Dia menagih kembali amplop berisi uang yang sebelumnya sempat ditolak. Setelah amplop itu diterima, Bung Hatta memberikan wejangan yang tidak terlalu panjang.

“Sebelum saya dan rombongan saya meninggalkan daerah Digul ini, saya ingin menitipkan sesuatu. Ini sekedar oleh-oleh dari saya untuk masyakat di sini,” kata Hatta seraya menyerahkan amplop uang sakunya itu kepada camat setempat.

Soemarmo dan Wangsanegara agak tercengang menyaksikan kejadian itu. Mereka tidak menyangka Bung Hatta akan menyerahkan uang sakunya kepada masyarakat Digul. Di tengah perjalanan, Bung Hatta sempat berkata,

“Nah, apa yang saya katakan tempo hari terbukti, bukan? Saudara lihat sendiri, itu yang rakyat berasal dari rakyat, dan kini telah kembali ke tangan rakyat.” Semua anggota rombongan Hatta tersenyum mendengar kata-kata Hatta yang bermakna dalam itu.




#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik