Kiprah Ar-Razi, Ahli Medis Islam Penemu Cacar

Perkembangan dunia medis diketahui tak lepas dari pengaruh sejumlah cendekiawan muslim, salah satunya Abu Bakar Muhammad bin Zakariya ar-Razi (Rhazes).
Pria kelahiran Al Rayy, sebuah kota di lereng selatan pegunungan El Burz dekat Teheran, Iran, itu menghasilkan sejumlah karya yang kemudian menjadi pijakan perkembangan dunia medis saat ini.
Ar-Razi lahir pada tahun 865 M. Selain menyukai musik, dia juga mempelajari alkimia dan filsafat. Namun, ar-Razi menghentikan pekerjaan dan eksperimennya di bidang alkimia karena iritasi mata oleh senyawa kimia yang terpapar padanya pada usia tiga puluh tahun.
Sebelum insiden itu, ar-Razi dikaitkan dengan penemuan asam sulfat dan etanol.
Di dunia medis, ar-Razi berguru kepada Ali bin Sahl Rabban al-Tabari, seorang dokter dan filsuf yang lahir dari keluarga Yahudi di Merv, Tabaristan, Iran. Namun, bin Rabban telah masuk Islam ketika pemerintahan Khalifah Abbasiyah Al-Mu'tasim menariknya ke dalam istana.
Kehebatan ilmu kedokteran ar-Razi
Melansir NCBI, ar-Razi belajar kedokteran dan mungkin juga filsafat dengan bin Rabban. Al Razi pun dengan cepat melampaui gurunya dan menjadi seorang tabib terkenal. Ia diangkat sebagai direktur rumah sakit di kampung halamannya Al Rayy pada masa pemerintahan Mansur bin Ishaq bin Ahmad bin Asad dari Dinasti Saman. 
Ketenaran Ar-Razi bahkan mencapai ibu kota Abbasiyah. Dia dipanggil oleh Khalifah Al Muktafi untuk menjadi direktur utama rumah sakit terbesar di Baghdad. Al Razi juga adalah orang yang dilibatkan dalam memilih lokasi rumah sakit baru.
Uniknya, dia menggunakan potongan daging segar yang ditempatkan di berbagai daerah di Baghdad. Beberapa hari kemudian, dia memeriksa potongan-potongan itu, dan dia memilih area di mana potongan yang paling tidak busuk ditemukan, menyatakan bahwa 'udara' di sana lebih bersih dan sehat.
Ar-Razi menjadi pionir dalam beberapa bidang kedokteran mulai dari kesehatan mental hingga cacar. Ia termasuk orang pertama yang memberikan pengobatan kesehatan mental. Ia mengobati pasien dengan hormat, kepedulian, dan empati. Pasien yang sudah pulang diberi sejumlah uang untuk membantu kebutuhan mendesak. Ini adalah referensi tercatat pertama untuk perawatan setelah psikiatri
Ar-Razi juga punya pengaruh besar terhadap pengobatan cacar. Saat menjabat sebagai Kepala Dokter di Baghdad, dia adalah orang pertama yang mendeskripsikan cacar dan membedakannya dari campak.

Karya Peninggalan hingga Pandangan Filosofis ar-Razi

Karya-karya Ar-Razi

Di tahun-tahun terakhirnya, kedua matanya menderita katarak dan menjadi buta. Ia meninggal di Al Rayy pada 27 Oktober 925 pada usia 60 tahun.

Selama hidup, ar-Razi menulis lebih dari 224 buku tentang berbagai mata pelajaran. Karyanya yang paling penting adalah ensiklopedia medis yang dikenal sebagai Al-Hawi fi al-Tibb, yang dikenal di Eropa sebagai Liber Continens.

Buku-bukunya di bidang kedokteran, filsafat, dan alkimia dinilai sangat mempengaruhi peradaban manusia, terutama di Eropa. Bahkan, beberapa penulis menganggapnya sebagai dokter Arab-Islam terhebat dan salah satu yang paling terkenal bagi umat manusia.

Liber Continens diduga disusun oleh murid-muridnya setelah kematian ar-Razi. Buku itu diterjemahkan pada 1279 ke bahasa Latin oleh Faraj bin Salim, seorang sarjana yang bekerja di Istana raja Sisilia. Buku itu dianggap sebagai buku medis paling penting di abad pertengahan.

Karya lain yang penting adalah Kitab Al Mansuri Fi al-Tibb, buku pegangan ilmu kedokteran yang ditulisnya untuk penguasa Al Rayy Abu Salih Al-Mansur bin Ishaq. Kemudian, Kitab Man la Yahduruhu Al-Tabib yang dipersembahkan bagi kaum miskin, para musafir, dan warga negara biasa tentang pengobatan umum ketika tidak ada dokter.

Selanjutnya, Kitab Būr 'al-Sā'ah tentang penyakit yang menurutnya dapat disembuhkan dalam waktu satu jam, seperti sakit kepala, sakit gigi, sakit telinga, kolik, gatal, kehilangan perasa, dan nyeri otot.

Ada juga Kitab Sirr Al-Asrar yang terkait dengan alkimia hingga Kitab al-Murshid, pengantar singkat tentang prinsip-prinsip dasar kedokteran yang dimaksudkan sebagai materi kuliah kepada mahasiswa.

Pandangan filosofis

Melansir Britanica, ar-Razi mengaku sebagai pengikut Plato. Tapi, pandangannya berbeda secara signifikan jika dibandingkan al-Fārābī, Avicenna (bin Sīnā), dan Averroës (bin Rusyd).

Dia mungkin mengenal terjemahan bahasa Arab dari filsuf atomis Yunani Democritus dan mengejar kecenderungan serupa dalam teori atomnya sendiri tentang komposisi materi.

Di antara karyanya yang lain, The Spiritual Physick of Rhazes adalah risalah etika yang populer dan studi alkimia utama.

Selain itu, ar-Razi memandang dirinya sebagai Socrates versi Islam dalam filsafat dan Hippocrates dalam kedokteran.