Komunikasi Publik dan Hal yang Terlewat Saat Menyampaikan Pesan


Oleh Ekuslie Goestiandi - Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan
Minggu, 01 November 2020 | 17:00 WIB

Sumber: Tabloid Kontan | Editor: Hendrika

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Pada rapat terbatas dengan sejumlah menteri, tanggal 19 Oktober 2020, Presiden Joko Widodo berulangkali mengingatkan pentingnya komunikasi publik yang baik dalam penyampaian berbagai kebijakan.

Secara khusus, beliau menyoroti urusan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 yang perlu diinformasikan secara cermat, agar tidak mengulangi kehebohan seperti dalam perkara UU Cipta Kerja. Seperti diketahui, akibat kehebohan yang terjadi, banyak urusan kemasyarakatan yang tak terselesaikan dengan baik. Sebaliknya, silang pendapat antara pemerintah dan publik luas justru bergerak semakin tajam dan liar.

Sedari awal penanganan Covid-19, sudah banyak pihak yang menyoroti buruknya komunikasi publik yang dilakukan pemerintah dalam situasi pandemik ini.

Ada pejabat yang menjelaskan kondisi krisis ini dengan perasaan yang enteng-enteng saja, dengan alasan tak ingin menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan masyarakat. Ada pula pejabat yang suka menghindar dari sorotan publik, padahal warga membutuhkan informasi dan arahan yang bersangkutan sebagai pihak yang memiliki otoritas. Ada juga yang rajin tampil di berbagai media untuk menjelaskan ragam persoalan, bahkan termasuk urusan yang bukan menjadi wewenang dan tanggungjawabnya.

Namun, di tengah keragaman gaya, ada satu benang merah yang tampak hadir dalam cara komunikasi publik para pejabat. Muncul kesan yang kuat seolah-olah pemerintah mengambil posisi berseberangan dan berhadap-hadapan dengan publik luas. Tak heran, acap muncul gestur komunikasi yang mengindikasikan kesombongan, kemarahan, dan perasaan benar sendiri.

Kalimat-kalimat menggurui dan menantang yang disampaikan dengan nada-tinggi, seringkali terlontar dari mulut para komunikator kebijakan publik dalam berbagai acara talkshow dan wawancara.

Ada satu prinsip interaksi dan komunikasi yang diajarkan oleh guru saya, yakni touch their heart before asking for their hand. Sangat sederhana, namun acapkali diabaikan. Prinsip ini mengacu kepada kebiasaan seorang gembala, sosok yang peduli, terlibat dan akrab dengan kawanan yang dipimpinnya.

Menjadi gembala pada dasarnya adalah menjadi tempat bagi para pengikutnya untuk bertanya, mengadu sekaligus juga menyelesaian persoalan yang ada. Untuk itu, seorang gembala yang baik harus mampu menyentuh hati kawanannya, sebelum menggiring mereka ke tempat yang ingin dituju.

Dan, pada dasarnya manusia pun (sebagaimana makhluk hidup lainnya) akan lebih peka terhadap sentuhan perasaan daripada sekadar himbauan, petunjuk, apalagi perintah dari orang lain. Prinsip ini sekaligus juga mengingatkan kita bahwa komunikasi yang efektif tak hanya melulu bicara tentang menaklukkan pikiran, namun juga memenangkan hati publik yang dihadapi.

Kita mengerti bahwa ada dua elemen penting dalam sebuah proses komunikasi, yakni isi pesan (the message) dan proses penyampaian pesan (the delivery). Banyak orang menganggap bahwa message lebih penting daripada delivery. Seolah-olah, sepanjang isi pesannya jelas dan berbobot, cara dan gaya penyampaian seperti apapun tak akan jadi masalah.

Mengacu kepada pemikiran pakar komunikasi Marshall McLuhan yang berbunyi the medium is the message, seorang teman pegiat ilmu komunikasi juga mengatakan the delivery is also the message.

Proses komunikasi

Maksudnya, cara seseorang berkomunikasi dan menyampaikan pesan juga sebuah pesan tersendiri. Persisnya, pesan tentang kualitas diri sang pemberi pesan itu sendiri.

Ketika berkomunikasi dengan petantang-petenteng, seketika itu juga tampak karakter pribadi seseorang. Sama halnya, saat bertutur dengan sikap mengacuhkan orang lain, terlihat juga sifat ketidakpedulian seseorang. Pun, waktu berbicara dengan mengkerdilkan pemikiran orang lain, publik dapat menyaksikan arogansi diri yang bersangkutan.

Dengan demikian, sekalipun pesan yang disampaikan berisikan hal-hal yang memukau benak, namun disampaikan dengan cara yang tak berkenan di hati, tetap saja proses komunikasinya dapat berjalan terseok-seok.

Kita tak perlu heran jika ada isi kebijakan publik yang begitu keren, hebat dan visioner, namun publik justru tak antusias untuk menanggapinya. Boleh jadi, kesenjangan antara isi pesan dan cara penyampaian itulah letak persoalannya.

Karena, sekali lagi, komunikasi bukan sekadar urusan menaklukkan benak, namun juga memenangkan hati. Dan, seperti diingatkan oleh sang teman di atas, the delivery is also the message. Persisnya, the message of the messanger.

Patut dicatat pula, saat ini kita sedang bergulat menghadapi krisis pandemi Covid-19. Dengan demikian, urusan komunikasi publik pun semakin bertambah ruwet. Jika gagal, bukan hanya terjadi silang-pendapat antara aparat dan publik, namun virus mini tersebut juga siap mengintai nyawa banyak orang.


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik