Ini Strategi Pemasaran yang Jitu di Tahun 2021

Kamis, 21 Januari 2021 | 13:05 WIB
ILUSTRASI. Meski berbagai strategi pemasaran untuk menghadapi tantangan 2021 sudah tergambar, toh ada juga beberapa sektor bisnis yang tidak bisa menerapkannya. Contohnya industri dasar seperti alat berat dan manufaktur. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc

Reporter: RR Putri Werdiningsih | Editor: Dikky Setiawan

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Virus Covid-19 telah mengubah berbagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Meski kini vaksin telah dirilis, tapi tak serta-merta keadaan kembali seperti sebelumnya. Justru, dengan adanya vaksin, kebiasaan yang sudah sempat tercipta di tengah pandemi harus disesuaikan lagi.

Di tahun 2021 ini, kita akan menjumpai banyak adaptasi yang dilakukan para pebisnis. Kalau sejak pandemi semua orang berlomba-lomba melakukan segala hal secara virtual, tapi ketika sudah ada vaksin, secara perlahan masyarakat akan mulai kembali ke aktivitas langsung. Mau tak mau strateginya adalah harus bisa mengkombinasikan aktivitas online dan offline atau omnichannel.

Asnan Furinto, pengamat pemasaran Bina Nusantara University, melihat sejak pandemi melanda, memang banyak pebisnis yang menerapkan strategi pemasaran digital. Tapi dengan penemuan vaksin korona, menurutnya, belum tentu pebisnis akan mempertahankan pola yang sama. 

"Tahun depan, strategi marketing yang akan banyak dipakai itu hybrid. Di satu sisi digital tetap dipakai, tapi offline juga mulai digarap kembali," cetusnya.

Kedua strategi itu akan dikembangkan berdampingan. Maklum, di tengah kondisi yang masih serba-tidak pasti, tidak mungkin bisnis offline akan kembali seperti sedia kala. Misalnya saja bisnis bioskop. Walaupun sudah mulai beroperasi kembali, namun masih banyak orang yang takut kalau harus duduk berdekatan.

Lantas, seperti apakah strategi omnichannel? Rupanya ini pun masih sangat bergantung pada inovasi masing-masing pebisnis. Yakni bagaimana cara mereka untuk beradaptasi dengan teknologi tanpa meninggalkan jalur konvensionalnya.

Proyeksi serupa juga diungkapkan Yuswohady, pengamat pemasaran Inventure. Meski banyak pebisnis sedang menguji peruntungan dengan membesarkan bisnis online, tapi nyatanya konsumen belum sepenuhnya mencari semua kebutuhannya secara virtual. 

"Misalnya orang mulai suka belanja di Tokopedia. Tetapi tetap ada saja barang yang dibeli secara langsung di gerai Alfamart dekat rumahnya," bebernya.

Di tengah pandemi, memang ada beberapa hal yang dipaksa untuk dilakukan secara online, seperti rapat melalui aplikasi Zoom atau sekolah daring. Maka mau tidak mau orang pasti akan berusaha membiasakannya. Ini beda dengan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Orang tetap bisa belanja ke toko terdekat dengan menggunakan protokol kesehatan lengkap.

Yuswohady pun memperkirakan, sepanjang 2021, tren pemasaran akan mengarah ke omnichannel. Setiap pebisnis pasti akan berusaha meracik strategi penjualan online dan offline-nya sekaligus.

Tak cukup hanya itu. Yuswohady bilang, strategi lain yang tak kalah penting dilakukan adalah empathic marketing. Dalam kondisi pandemi, pemilik merek tidak bisa bersikap kaku. Sebutlah hanya mengedepankan profit semata. Untuk bisa memenangkan hati konsumen, ia juga harus memperlihatkan kepeduliannya. "Empati ini bisa diartikan memberi solusi ke konsumen," ujarnya.

Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk menunjukkan empati tersebut. Yang paling mudah adalah memberikan donasi. Namun, ini tidak bisa diterapkan terus-menerus. Sebab sifatnya hanya akan searah. Padahal dari di sisi pebisnis pun ia dituntut untuk mencatatkan pertumbuhan usaha.

Kemudian, ada pula strategi membuat kemasan produk menjadi lebih kecil atau sachet marketing. Dengan kemasan lebih ekonomis, setidaknya ini bisa membantu konsumen untuk membeli apa yang dibutuhkan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu. Selain memberi solusi, para pebisnis juga diuntungkan karena produknya terjual.

Dibandingkan dengan strategi omnichannel, empathic marketing ini pengaruhnya belum tentu bisa dirasakan langsung. Sifatnya lebih fleksibel. Dilakukan oke, tidak dilakukan pun tak masalah. Hanya saja, jika cara ini diterapkan bisa memperkuat citra merek. "Paling tidak konsumen akan menganggap merek tersebut bisa membantunya mengatasi masa sulit," imbuhnya.

#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik