Berawal Jualan Sepatu di Pasar Hingga Sukses Bangun Pabrikan Skala Besar

Minggu, 24 Januari 2021 | 08:30 WIB

Reporter: Ragil Nugroho | Editor: Havid Vebri

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bagi pelaku bisnis, pandemi virus korona (Covid-19) jelas merupakan pukulan yang maha-berat. Banyak pelaku bisnis mengalami penurunan penjualan imbas lemahnya daya beli di masa pandemi.

Bahkan, banyak dari mereka gulung tikar lantaran bisnisnya terus merugi. Namun, tidak semuanya berakhir mengenaskan.

Bagi mereka yang tak mau menyerah dan pasrah dengan keadaan, pandemi korona bukanlah akhir segalanya. Bahkan, tantangan berat ini bisa menjanjikan sebuah kesempatan bisnis untuk melompat ke depan.

Tanya saja kepada Aditya Caesarico, pemilik merek sepatu lokal Aero Street yang berlokasi di Bentangan, Wonosari, Klaten, Jawa Tengah.

Sebelum pandemi, Rico, sapaan akrabnya, hanya memproduksi sepatu sekolah. Selain itu, ia juga menjadi distributor sepatu merek lain. Penjualannya bahkan sempat menurun di awal-awal masa pandemi.

Namun, tidak lama kemudian, kinerja bisnisnya justru meroket. Tidak tanggung-tanggung, penjualannya kini melonjak hingga 9.000 pasang sepatu per hari. Bagaimana ia menapaki kisah suksesnya?

Rico sudah berkutat dengan bisnis sepatu sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Saat itu, ia berjualan sepatu keliling ke pasar-pasar.

"Saya memang sudah telanjur suka dengan sepatu dari awal," kenangnya.

Masuk jenjang perguruan tinggi, Rico sempat kuliah di Jurusan Manajemen Universitas Atma Jaya, Yogyakarta. Namun, baru berjalan satu semester, ia memutuskan berhenti kuliah dan memilih fokus menjalani usaha penjualan sepatu.

Dari usahanya itu, ia berhasil mengumpulkan uang dan membeli sebuah mobil Suzuki Carry untuk menunjang bisnis sepatunya. Dengan mobil itu, jangkauan pasarnya meluas hingga ke Wonosobo dan Surabaya.

Memasuki tahun 2006, ia dipercaya menjadi distributor sepatu sekolah dan sandal Swallow. Sebagai distributor, jangkauan pasarnya hampir ke seluruh Indonesia. Menjadi distributor sepatu sekolah dia jalani selama hampir kurang lebih delapan tahun, hingga tahun 2014.

Sampai akhirnya di tahun 2014, ia mulai berpikir untuk tidak sekadar menjadi distributor. "Kalau gini-gini saja, bisnis akan mentok," ujarnya.

Dari situlah ia mulai memutuskan untuk mulai belajar memproduksi sepatu. Didorong tekad yang kuat untuk sukses di bisnis ini, ia lalu terbang ke Guangzhou, China, untuk belajar mengenal mesin produksi sepatu.

"Selama dua bulan saya belajar intensif di sana," ujarnya.

Setelah menguasai permesinan, termasuk desain sepatu, Rico pun memulai memproduksi sepatu merek sendiri di tahun 2015. Untuk itu, ia membeli mesin langsung dari Tiongkok seharga Rp 300 juta.

Tidak hanya itu, ia juga membeli lahan seluas 1,4 hektare sebagai lokasi pabrik sepatu miliknya. Tahap awal, ia mempekerjakan total 20 orang.

Bahan baku lokal

Puncak bisnisnya tercapai pada tahun 2018, saat ia sudah memiliki 1.400 orang tenaga kerja. Kala itu, ia sudah memiliki dua pabrik dengan kapasitas produksi hingga 10.000 pasang per hari.

Untuk keperluan produksi, ia sepenuhnya memakai bahan baku lokal Indonesia. Bahan baku itu ada yang didatangkan dari Jakarta, Tangerang, Bekasi, Pasuruan, Surabaya, Bandung, dan lainnya.

"Bahan baku semua 100% kita ambil dari Indonesia. Semua ada di Indonesia, di Bekasi, Tangerang, Jakarta, Pasuruan, dan lain lain," terangnya.

Selain bahan baku lokal, ia juga memanfaatkan karyawan atau tenaga kerja dari penduduk sekitar. Meski awalnya mereka belum mengetahui atau memiliki keterampilan tentang kerajinan sepatu, namun berkat bimbingan dari pabrik, saat ini ratusan bahkan ribuan karyawan tersebut sudah cukup terampil memproduksi sepatu.

"Sepatu ini bisnis padat karya. Pegawai kita semuanya lokal. Tidak ada yang orang asing," tegasnya lagi.

Namun, di saat bisnis sepatunya sedang naik daun, Rico dan kebanyakan pengusaha lain justru mengalami guncangan menyusul merebaknya pandemi korona. Ia mengakui, di awal pandemi, permintaan sepatu produksinya anjlok.

Bahkan, penjualan sepatu Aero di pasar offline sempat anjlok hingga 90%. Saat itu, penjualan harian Rico sudah mencapai 6.000 pasang per hari. "Bayangkan, omzet kita tinggal sisa 5%," ungkapnya.

Kendati bisnisnya sempat nyungsep dalam, dia masih tetap mempertahankan 1.400 karyawan yang bekerja di pabrik sepatunya. "Saat itu saya berkomitmen untuk mempertahankan dan tidak boleh ada yang dikeluarkan," ucapnya.

Karena tidak ingin ada pengurangan karyawan, dia lalu memutar otak, bagaimana bisa menghasilkan produk yang bisa diterima banyak orang. Maka, setelah melakukan riset dan survei, ia memutuskan untuk memperluas segmen sepatu. Tidak hanya sepatu sekolah.

Sejak itulah ia terdorong membuat model sepatu olahraga, jalan-jalan, dan pesta. Intinya yang kasual dan bisa dipakai untuk kepentingan apa saja. Supaya menarik, pilihan varian dan warnanya juga harus lengkap.

Usahanya itu mulai terwujud di bulan April 2020, dengan meluncurkan produk baru pertamanya. Ternyata, model sepatu anak muda yang dikembangkannya sangat membantu mendongkrak omzet. Salah satunya adalah model Aerostreet Tiger 2D Cartoon yang memiliki warna-warna cerah.

Saat diluncurkan, misalnya, nyaris 3.000 pasang sepatu laku terjual hanya dalam waktu 30 menit. "Saat ini kami memproduksi ulang model tersebut," katanya.

Alasannya, permintaan pasar sangat tinggi. Dia mampu menawarkan harga hingga di bawah Rp 100.000 untuk sepasang sepatunya lantaran menggunakan bahan-bahan lokal.

Beralih ke online

Demi menggenjot penjualan, ia juga mulai memaksimalkan pemasaran online, khususnya via Instagram. "Saat penjualan online terus terang perkembangannya malah lebih pesat dibanding offline," terangnya.

Berkat penjualan secara daring tersebut, kini ia bisa menjual hingga 9.000 pasang sepatu per harinya. Dengan penjualan sebanyak itu, omzetnya kini tembus Rp 22 miliar per bulan. Adapun margin bisnis yang masuk ke kantongnya antara 30% hingga 40%.

Sekitar 98% omzetnya pun berasal dari penjualan online. Menurutnya, di era sekarang, tidak bisa hanya mengandalkan penjualan offline, karena jangkauannya serba terbatas.

Selain itu penjualannya juga berjenjang dan memakan waktu, mulai dari pabrik ke distributor, lalu ke toko grosir, toko retail, hingga ke konsumen.

Dibandingkan dengan jalur offline, pemasaran melalui online sangat cepat. Kalau online, ketika klik, 1 detik konsumen bisa langsung membeli produk sepatu yang diinginkan. "Dari pabrik langsung ke konsumen," tandasnya.

Memang, sebelumnya ia masih fokus ke lini penjualan offline karena memang masih sanggup memberikan hasil yang memuaskan.

Namun pandemi korona mau tidak mau memaksanya beralih ke online. Justru hal itu yang membuat bisnisnya kian meroket.

Bahkan, di tahun 2021 ini, ia menargetkan penjualan per hari bisa mencapai hingga 12.000 pasang sepatu. Untuk memenuhi target itu, kini ia sedang menyiapkan penambahan unit mesin.

Ia juga sedang menyiapkan konsep kerjasama dengan beberapa artis untuk menjadi brand ambassador.

Pelanggan ternama

Menjadi satu kebanggaan Rico saat dua putra Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep, ikut memesan sepatu buatan Aerostreet.

"Mas Gibran dan Kaesang juga pesan. Kebetulan saya juga kenal sama Mas Gibran," tuturnya.

Menurut dia, keduanya memesan sepatu berukuran besar jauh sebelum Gibran maju sebagai calon Walikota Solo.

"Mas Gibran pesan sepatu berukuran 46 dan Kaesang berukuran 47. Tapi karena ada pilkada jadi belum direalisasi," katanya.

Sepatu pesanan Gibran dan Kaesang, lanjut dia, rencananya juga akan dijual ke publik dengan ukuran hingga 47. Disinggung terkait tanggapan Gibran setelah memakai sepatu Aerostreet pesanannya, Rico menyebut, putra Presiden Indonesia itu heran dengan harganya yang sangat murah.

Kendati bisnisnya makin membesar dengan pasar yang kian luas, Rico tidak lantas berpangku tangan. Ke depan, ia masih akan terus meningkatkan kualitas produknya. Karena ia menyadari, itulah yang selama ini menjadi kunci sukses produknya diterima pasar.

Ia menjamin, sepatu produksinya bisa bersaing dengan produksi dari China yang masuk Indonesia. "Bahkan saya berani bilang, kualitas Aero justru lebih bagus dan kuat, namun dengan harga sangat terjangkau," katanya.

Selain aspek bisnis, aspek kesehatan karyawan juga menjadi perhatian utamanya di masa pandemi yang masih belum berakhir ini. Untuk itu, ia senantiasa menerapkan protokol kesehatan bagi karyawan.

#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik