Akhirnya Bank BUMN Memangkas Bunga Kredit

Jumat, 05 Maret 2021 | 08:21 WIB
ILUSTRASI. Langkah bank BUMN menurunkan bunga kredit diharapkan diikuti oleh bank swasta./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/05/02/2021.

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang, Maizal Walfajri | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah kena sindir dan semprit Bank Indonesia (BI), akhirnya sejumlah bank BUMN menurunkan suku bunga kredit. Meski belum turun signifikan, penurunan bunga kredit bank BUMN diharapkan diikuti oleh bank swasta.

Bank Mandiri, misalnya, menurunkan suku bunga dasar kredit (SBDK) seluruh segmen sekitar 25 basis poin (bps)-250 bps. Berlaku efektif per 28 Februari 2021, SBDK segmen korporasi menjadi 8%, segmen ritel menjadi 8,25% dan segmen mikro menjadi 11,25%.

Sedangkan SBDK segmen konsumer untuk kredit pemilikan rumah (KPR) turun menjadi 7,25% dan non-KPR menjadi 8,75%.

Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi menandaskan, tahun lalu Bank Mandiri telah menurunkan SBDK sebanyak tujuh kali. Penurunan itu untuk segmen korporasi, ritel, mikro maupun konsumsi. Total penurunan 10 bps-600 bps.

Selain Bank Mandiri, BNI juga menempuh langkah serupa. Direktur Utama Bank BNI Royke Tumilaar mengungkapka,n SBDK kredit konsumsi non KPR per 28 Februari 2021 ditetapkan 8,75% atau turun dibanding Desember 2020 di level 11,7%. SBDK KPR ditetapkan 7,25%, turun dari posisi akhir tahun 2020 yaitu 10%.

BNI menurunkan SBDK kredit ritel menjadi 8,25% lebih rendah dibanding akhir Desember 2020 yang sebesar 9,8%. Adapun SBDK kredit korporasi menjadi 8%, turun dibandingkan dengan Desember 2020 yang sebesar 9,8%.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga menandaskan sudah menurunkan bunga kredit, melanjutkan langkah serupa di tahun lalu. Sekretaris Perusahaan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Aestika Oryza Gunarto menyatakan, sepanjang 2020, BRI memangkas bunga kredit antara 75 bps- 150 bps.

"Bahkan, khusus restrukturisasi keringanan suku bunga, BRI menurunkan 300 bps-500 bps," kata dia kepada KONTAN, akhir pekan lalu.

Banyak pertimbangan untuk menurunkan bunga kredit

Royke menambahkan, penetapan bunga dan laju penyaluran kredit sejalan dengan laju ekonomi.

"Dalam menentukan suku bunga kredit, kami memperhitungkan komponen estimasi premi risiko yang besarnya tergantung penilaian bank terhadap risiko debitur," ujar Royke dalam keterangan tertulis, Kamis (4/3).

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, suku bunga kredit dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, cost of fund yang dipengaruhi oleh likuiditas bank.

Kedua, overhead margin cost perbankan. Ketiga, risk premium, sebagai isyarat kondisi risiko kredit bank.

Penurunan suku bunga kredit dalam 2 tahun terakhir dipengaruhi penurunan cost of fund yang terindikasi dari tren penurunan suku bunga acuan BI dan likuiditas perbankan. "Penurunan suku bunga kredit juga dipengaruhi kondisi perkembangan risiko kredit perbankan dalam jangka pendek," tandas Josua.

Risiko kredit ini tecermin dari kenaikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL), sehingga berpotensi mendorong peningkatan risk premium.

"Di saat yang bersamaan, permintaan kredit cenderung masih lemah di tengah aktivitas perekonomian belum pulih signifikan," kata Josua.

Sebelumnya, BI memang tampak kesal dengan bankir yang enggan menurunkan bunga kredit. Padahal BI telah memangkas bunga acuan enam kali sejak tahun lalu, dari 150 basis poin (bps) menjadi 3,5%. Bunga acuan pun berada di posisi terendah sepanjang sejarah.

"Tapi penurunan suku bunga kredit masih terbatas, hanya 83 bps ke 9,7% selama tahun 2020," kata Perry Warjiyo, Gubernur BI, akhir Februari lalu.

Di DPR, Perry juga memaparkan kekesalannya. "Suku bunga belum turun apa karena premi risikonya? Premi risikonya masalahnya apa? Apa perlu penjaminan? Atau SBDK-nya yang belum turun?" ungkap Perry.


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik