Arcandra soal Pengembangan Baterai Mobil Listrik: Tingkat Kesuksesan 20 Persen

© Disediakan oleh Kumparan Mantan Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar terlihat di Kementerian ESDM, Selasa (22/10/2019). Foto: Ema Fitriyani/kumparan

Di masa depan, masyarakat dunia diprediksi akan berbondong-bondong beralih menggunakan mobil listrik. Prediksi ini membuat banyak negara berlomba ingin memproduksi baterai untuk mobil listrik, termasuk Indonesia.

Dalam berbagai kesempatan, pemerintah berulang kali meyakinkan bahwa Indonesia kini sudah mulai mempersiapkan investasi untuk produksi baterai mobil listrik tersebut. Menurutnya investasi tersebut akan sangat menjanjikan di masa depan.

Namun ternyata produksi baterai untuk mobil listrik termasuk dalam industri berteknologi tinggi (hi-tech). Mantan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan, produksi baterai mobil listrik membutuhkan teknologi Hidrometalurgi atau disebut HPAL. Sedangkan teknologi yang digunakan di Indonesia berbeda, yaitu Pirometalurgi.

“Kita juga sedang membangun smelter nikel di Indonesia ini. Namun kadang-kadang agak perlu diluruskan. Apakah smelter kita bisa digunakan untuk (produksi) baterai? Sampai saat ini teknologi smelter yang kita gunakan adalah pirometalurgi dimana ditujukan untuk menghasilkan nikel pick iron atau feronikel yang keduanya dibutuhkan untuk stainless steel, bukan untuk teknologi baterai,” ujar Arcandra dalam FGD Pengusaan dan Pengembangan Teknologi Sektor Energi, Jumat (18/2).

Karena termasuk smelter yang membutuhkan teknologi tinggi, tidak heran jika tingkat keberhasilan membangun smelter HPAL masih rendah. Arcandra membeberkan dari 11 smelter HPAL yang dibangun di dunia, hingga saat ini hanya dua yang berhasil. Untuk itu Arcandra mengingatkan bahwa Indonesia harus berhati-hati dalam membangun smelter HPAL ini.

“Jadi kita harus berhati-hati dalam melihat teknologi baterai ini. Kenapa? Tingkat kesuksesannya hanya 20 persen. Menurut data yang ada 9 smelter itu gagal, hanya 2 berhasil,” ujarnya.

© Disediakan oleh Kumparan Ilustrasi mobil listrik BMW. Foto: dok. BMW

Kedua smelter yang berhasil tersebut yaitu perusahaan Coral Bay di Filipina dan Moa Bay di Kuba. Menurut Arcandra, rendahnya tingkat kesuksesan tersebut karena proyek smelter HPAL merupakan proyek yang sensitif. Pertama, proyek ini membutuhkan capex yang besar bahkan lebih besar dari smelter nikel dengan teknologi Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF). Adapun smelter HPAL membutuhkan capex hingga USD 65.000 per ton Ni sedangkan RKEF membutuhkan capex USD 13.000 per ton Ni.


Di sisi lain, Arcandra menilai Indonesia belum menguasai teknologi ini. Mayoritas teknologi yang digunakan di dunia saat ini di dominasi oleh Technology Provider dari Jepang seperti Sumitomo dan Mitsubishi.

“Teknologi ini tergolong hi tech sehingga masih perlu bergantung dengan negara lain. Parameter proses rumit dan perlu pengalaman yang cukup untuk membangun dan merunning proyek,” ujarnya.

Hingga saat ini diketahui ada enam perusahaan yang tengah membangun smelter berteknologi HPAL di Indonesia yaitu PT Halmahera Persada Lygend, PT Adhikara Cipta Mulia, PT Smelter Nikel Indonesia, PT Vale Indonesia, PT Huayue, dan PT QMB. Semua perusahaan menargetkan smelter bisa beroperasi pada tahun ini kecuali milik Vale Indonesia yang belum diketahui kapan akan beroperasi. Keenam perusahaan ini menyiapkan capex rata-rata senilai USD 19.000 per ton Ni.


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik