WHO Tetapkan Kecanduan Main Game Sebagai Gangguan Mental



Jakarta - Teknologi yang semakin berkembang pesat mendorong banyak generasi muda gemar bermain game untuk mengisi waktu luangnya.

Seiring berjalannya waktu, kebiasaan main game bukan hanya sekedar mengisi waktu luang melainkan menjadi sebuah candu.
Kecanduan main game ternyata memunculkan berbagai masalah serius di berbagai negara.

Bahkan, kecanduan game telah memakan korban jiwa yang didominasi anak-anak muda.

Kecanduan game juga memicu tindakan kriminal yang lagi-lagi pelakunya adalah anak muda.

Telah banyak kasus pencurian maupun perampokan untuk membayar sewa alat game maupun membeli perangkatnya.

Tak heran jika Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) menetapkan kecanduan game sebagai gangguan mental, dilansir dari Halodoc pada Selasa, 12 Januari 2021.

Pada 18 Juni 2018, WHO telah menerbitkan dokumen ICD-11 yang merupakan revisi dari dokumen sebelumnya, yakni ICD-10 terbitan pada 1990.

Dokumen ini berisi tentang berbagai macam penyakit dan kondisi kesehatan yang dikategorikan oleh para tenaga kesehatan.

Para tenaga kesehatan juga menetapkan beberapa gejala terkait kecanduan game.
Gejala Gangguan Mental Akibat Kecanduan Game

Pola perilaku main game yang tak terkontrol paling tidak terjadi selama 12 bulan.

Pola perilaku ditunjukan dengan peningkatan prioritas untuk bermain game sampai pada titik bahwa bermain game lebih diutamakan ketimbang minat dan aktivitas harian lainnya.

Aktivitas bermain game akan terus berlanjut atau justru semakin meningkat meski telah terjadi hal negatif yang memengaruhi kehidupan pribadi, hubungan, pendidikan, ataupun pekerjaan individu.

Gejala kecanduan game lainnya dapat berupa:
1.Terlalu fokus memainkan game.

2.Merasa sedih, cemas, ataupun lekas marah ketika koneksi internet saat bermain game terputus.

3.Menghabiskan seluruh waktunya untuk bermain game.

4.Merasa tidak puas apabila belum menuntaskan misi tertentu atau akan terus merasa ketagihan ketika telah memenangkan misi dari game.

5.Mengorbankan aktivitas lain dan kehilangan minat untuk melakukan hobi yang sebelumnya disenangi.

6.Berbohong atau menipu keluarga tentang seberapa banyak waktu yang dihabiskan untuk bermain game.

Diagnosis Kecanduan Main Game
Diagnosis kecanduan game harus dilakukan oleh psikolog atau psikiater.

Umumnya, kecanduan game lebih sering dialami oleh anak-anak muda.

Selain psikolog dan psikiater, orang tua dan guru juga bisa melihat ciri kecanduan game sebagai langkah awal diagnosis.

Mengapa orang tua dan guru? Sebab, sebagian besar pengidap kecanduan game adalah anak-anak dan remaja.

Salah satu gejala kecanduan yang mudah dikenali adalah seseorang akan kehilangan kontrol dirinya saat bermain game.

Perilaku ini akan muncul saat kita bertanya pada individu tersebut apakah dia mampu tidak main game sama sekali selama sehari?

Kalau jawabannya ia mengelak dan emosi, bisa dipastikan orang tersebut mengalami kecanduan game dan sebaiknya dibawa ke psikolog atau psikiater untuk diperiksa lebih lanjut.

Penanganan Kecanduan Main Game
Apabila kamu atau orang disekitar kamu mengalami kecanduan main game, cobalah menahan diri agar tidak selalu main game secara perlahan.

Lakukan aktivitas lain atau ajak seseorang yang kecanduan untuk melakukan aktivitas menyenangkan lainnya untuk menghindari main game.

Kemudian, mintalah bantuan orang terdekat memberikan dukungan emosional untuk membantu perubahan perilaku dirimu.

Apabila orang terdekatmu yang kecanduan, jadilah seseorang yang memberikan dukungan emosional untuknya.

Tidak hanya itu, beberapa perawatan juga bisa menjadi pilihan untuk mengatasi kecanduan bermain game.

Mulai dari terapi hingga penggunaan obat-obatan.
1. Psychoeducation dapat dilakukan untuk memberikan edukasi pada pengidap pecandu mengenai kebiasaannya terhadap gangguan mental.

2. Terapi juga bisa dilakukan untuk mengontrol keinginan bermain game secara berlebihan pada pecandu. (*)


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik