Impor BBM 2019 24 Juta KL, Sebelum 2030 RI Mau Bebas Impor


Jakarta, - Indonesia masih bergantung pada impor dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM). Pada 2019, Indonesia mengimpor sekitar 24 juta kilo liter (kl) BBM, baik bensin dan solar. Kini, pemerintah pun berupaya untuk terus mengurangi impor BBM, bahkan sebelum 2030 diharapkan telah bebas dari jeratan impor BBM.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana dalam diskusi terkait 'Peluang dan Tantangan Substitusi BBM di Sektor Transportasi', Kamis (07/01/2021).
Dadan mengatakan, pada 2019 Indonesia masih impor bensin 19 juta kl, sementara konsumsinya 35 juta kl. Lalu untuk solar, impornya sebesar 3,9 juta kl, sementara konsumsinya 29 juta kl. Sementara Avtur menurutnya kebutuhan impor semakin tipis yakni dari kebutuhan 5 juta kl, impornya hanya 280 ribu kl.

"Jadi, impornya sudah kebanyakan. Sekarang kita upaya cari alternatif untuk BBM jenis bensin ini, tapi hampir tidak ada kemajuan yang berarti," ungkapnya dalam dalam Webinar Peluang dan Tantangan Substitusi BBM di Sektor Transportasi, Kamis (07/01/2021).
Menurut Dadan, pemerintah juga telah melakukan berbagai upaya untuk menekan impor BBM, terutama bensin. Bahkan, Kementerian ESDM menurutnya memiliki target sebelum tahun 2030 tidak ada lagi impor bensin.

"BBM jenis bensin, sebelum tahun 2030 tidak ada lagi impor bensin," tegasnya.
Dia mengatakan, untuk menekan impor solar telah dilakukan melalui program biodiesel. Namun untuk mengganti BBM jenis bensin, dia mengakui sampai saat ini masih stagnan dan belum ada penggantinya.

Dia menyebut sejumlah alternatif yang dilakukan sudah ada, namun komposisinya masih kalah dengan fosil. Beberapa upaya di transportasi darat adalah dengan pemanfaatan bahan bakar gas (BBG) dengan Compressed Natural Gas (CNG).
"Transportasi darat memang fokusnya masih bensin dan solar, biodiesel, bioetanol sudah didorong tidak bergerak, ada upaya CNG lalu ada upaya kendaraan motor listrik berbasis baterai," jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, untuk bahan bakar transportasi udara, sudah mulai ada peningkatan produksi avtur di dalam negeri dan terus didorong untuk penggunaan bioavtur.
"Laut juga sama, menurut saya persis base-nya masih ke fosil," ujarnya.
Menurutnya, sudah ada sejumlah kajian alternatif pengganti bensin. Selain mendorong bahan bakar gas, juga dikaji pemanfaatan A20 yakni alkohol 20%, terdiri dari metanol 15% dan etanol 5%.

Kementerian ESDM menurutnya saat ini sedang menyusun grand strategi emisi nasional, untuk melakukan transformasi dan transisi penggunaan energi bersih, meningkatkan ketahan energi di dalam negeri, dan kemandirian energi, sekaligus perbaiki aspek lingkungan.
"Ini skenario secara makro yang kami susun untuk geser penggunaan BBM karena BBM diimpor dan kedua BBM produksinya terbatas. Ada hal mendasar transformasi di Kementerian ESDM," jelasnya.

Berdasarkan data yang dipaparkan, pada 2030 mendatang ditargetkan sebanyak 440 ribu unit kendaraan darat dan 257 unit kapal menggunakan BBG. Namun untuk peningkatan konsumsi BBG ini menurutnya masih dibutuhkan insentif.
Selain itu, Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) ditargetkan mencapai 2 juta unit mobil dan 13 juta unit motor, namun dibutuhkan insentif pembebasan pajak 10 tahun.
Dan terakhir, untuk biofuel akan mempertahankan B30 dan mengoptimalkan produksi bahan bakar nabati (BBN)  seperti biodiesel atau biohidrokarbon.


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik