Terlalu Bergantung pada Prabowo, Penyebab Gerindra Kalah di Pilkada

#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik




Pilkada Serentak 2020 dianggap sebagai tahun yang kurang berpihak bagi Partai Gerindra. Partai besutan Prabowo Subianto itu tidak mampu berbicara banyak di dalam menyikapi hasil Pilkada serentak 2020.

Di dalam rekapitulasi penghitungan suara sementara, Partai Gerindra menelan banyak kekalahan. Termasuk di kantong-kantong suara berbasiskan massa Islam. Hasil Pilkada serentak 2020 pun tidak berbaring lurus dengan perolehan suara Gerindra di saat Pilpres 2019.

Pengamat sosial politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM), Arie Sujito, menilai, di dalam Pilkada serentak 2020, Partai Gerindra justru banyak menelan kekalahan.

"Gerindra selama ini hanya mengandalkan kefiguran Prabowo. Kemarin ketika pilihan politik Prabowo berbeda, dulunya di luar, kemudian jadi menteri, itu kan mempengaruhi soliditas di tubuh partai," kata Arie Sujito, di Jakarta, Senin (14/12/2020).

Di sisi lain, menurut Arie, Partai Gerindra sendiri tidak mempersiapkan sosok atau tokoh di bawah Prabowo. Ketua Dewan Partai Gerindra, Prabowo cenderung atau relatif one man one show.

"Yang jadi manager politik di bawahnya Prabowo tidak ada. Akibatnya, semua tergantung Prabowo. Ketika pilihan politik Prabowo sebagian berbeda, partai sendiri tidak efektif karena tidak punya ketokohan," ucapnya.

Seperti diketahui, pada Pilpres 2019, Gerindra sangat kuat di kantong-kantong Islam seperti di Jawa Barat, Banten, hingga Sumatera Barat. Di daerah ini, perolehan suara Prabowo yang saat itu berpasangan dengan Sandiaga Uno jauh mengungguli Jokowi-Ma'ruf Amin.

Di Pilkada serentak, jagoan Gerindra justru banyak bertumbangan. Di Kabupaten Bandung, Jabar, misalnya. Jagoan Gerindra, Kurnia Agustina-Usman Sayogi, hanya meraup 30,8% suara. Kalah jauh dari Dadang Supriatna-Sahrul Gunawan yang meraup 56,5%.

Di Depok, Jawa Barat, calon yang diusung Gerindra, Pradi Supriatna-Afifah Alia, juga kalah dari lawannya yaitu Mohammad Idris-Imam Budi Hartono. Kemudian, yang paling mencolok juga terjadi di Pilkada Tangerang Selatan (Tangsel).

Di Tangsel, berdasarkan rekapitulasi sementara KPU Tangsel, keponakan Prabowo, Rahayu Saraswati, yang maju mendampingi Muhamad, hanya memperoleh 35,5%. Sedangkan lawannya yaitu Benyamin Davnie-Pilar Saga Ichsan berhasil memperoleh 40,6%.

Kemudian di Sumatera Barat juga demikian. Calon Gerindra, Nasrul Abit-Indra Catri, hanya mampu menduduki posisi kedua dalam perhitungan sementara di KPU. Nasrul-Indra memperoleh 30,4%. Mereka tertinggal dari Mahyeldi-Audy Joinaldy yang sudah meraup 33,4%.

Dikatakan Arie, selain faktor menurunnya soliditas partai, penurunan perolehan suara calon yang diusung Gerindra juga bisa saja dipengaruhi munculnya kasus dugaan korupsi mantan Menteri KKP Edhy Prabowo. "Mungkin iya (kasus Eddy) mempengaruhi. Tapi tanpa kasus Edhy pun (Gerindra) sudah mulai ga efektif," ujar Arie.


Selanjutnya, faktor lain yang mempengaruhi penurunan basis suara Gerindra yaitu banyak partai di tingkat nasional punya suara, tapi tidak demikian di daerah.

"Di daerah belum tentu nyambung. Karena pengurus koalisi di pusat dan daerah tidak ada hubungannya. Jadi gerindra sudah tidak efektif lagi sebagai partai, karena sumbernya hanya prabowo, tidak punya alat yang efektif. Ini juga sebenarnya banyak menimpa partai-partai lain," ucapnya.


Menurutnya, hasil Pilkada Serentak yang dicapai Gerindra sedikit banyak akan mempengaruhi konstelasi politik di 2024. Alasannya, Pilkada Serentak 2020 merupakan batu pijakan atau investasi politik di Pilpres 2024.


"Orang menganggap pilkada ini pertaruhan bagi partai dalam investasi politik menghadapi 2024. Kemenangan dan kekalahan di Pilkada kemungkinan berpengaruh di 2024. Ini mengapa mereka kenceng semua di pilkada, karena ini jadi batu pijakan," kata Arie.


Ketua Harian DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, ketika dikonfirmasi perihal hasil Pilkada serentak 2020, mengakui, hingga saat ini pihaknya belum melakukan pendataan terkait hasil Pilkada. "Saya belum mendata (hasil Pilkada serentak 2020)," singkat Dasco.