Mengejutkan! Gus Mus Sebut Ilmuwan Fisika, Albert Einstein Seorang Ulama, Ini Penjelasannya

Ada Tangkapan layar Gus Mus bersama Alm. HH Maimoen Zubair /instagram.com/s.kakung/

Ada pengertian ulama tentang ulama dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab menurut KH Mustofa Bisri.

Gus Mus, panggilan akrab ulama ini menyatakan bahwa ulama berarti orang yang mempunyai pengetahuan dalam bahasa Arab.

"Secara bahasa, (ulama itu) orang yang mempunyai pengetahuan. Habibie itu ulama Minal, Todung Lubis (ahli hukum) ya ulama, Einstein ulama, Galileo ulama, karena alim itu orang yang memiliki pengetahuan, pengetahuan apa saja." Ungkap Gus Mus dalam acara Mata Najwa, 13 Juni 2018.

Pengertian tersebut ketika berada di Indonesia, memiliki pengertian yang mencolok dari bahasa Inggris.

"Jadi ulama dalam bahasa Indonesia, bukan jamak tapi  mufrod , perorangan. Lihat di Kamus Besar Bahasa Indonesia itu ulama adalah seorang, ulama kok seorang? Jadi kalo orang berpidato, para ulama yang terhormat, itu ndak salah." Urai Gus Mus.

Ulama 76 tahun ini melihat ada dua faktor yang menjadi kepantasan seseorang sebagai seorang ulama, yaitu faktor keilmuan dan pengamalan dari ilmu itu sendiri.

"Orang mengukur ulama, harus dua-duanya, ilmunya ilmunya dan kelakuannya, lakunya itu sesuai dengan ilmunya karena orang yang alim itu orang yang mengamalkan ilmunya.

Orang yang melihat ilmu, tapi orang yang mengamalkan ilmunya. Tahu bahwa ini baik-baik saja, lalu dilakukan. Tahu ini buruk ditanggapi. ” Jelas Gus Mus.

Dalam penjelasannya, salah satu inisiator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini, beliau mengkategorisasikan ulama menjadi 5 macam, antara lain:

1. Perspektif Sosiologi

Penjelasan ini diambil dari salah satu aktivis sosial Arief Budiman, di mana gelar ulama ini merupakan persembahan dari masyarakat.

"Menurut sosiolog Arief Budiman, ulama itu kyai itu ada yang produk masyarakat karena masyarakat melihat ilmunya, lakunya maka masyarakat menyebut dia ulama atau kyai." Jelas Gus Mus.

2. Produk Pers

Jenis ulama ini karena media menyebut seseorang menjadi ulama dan kemudian penyebutan yang melekat dalam diri seorang tokoh.

"Ada yang produk pers, karena pers menyebut-nyebutnya sebagai ulama, maka terbentuk opini sebagai ulama dan ini banyak sekali." jelasnya.

3. Bentukan pemerintah

Gus Mus menjelaskan ulama yang dibentuk pemerintah. Pada contoh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

4. Ulama bikinan politisi

Ulama ini dicontohkan oleh Gus Mus sebagai pihak yang melegitimasi agenda politik kelompok tertentu.

"Ada yang bikinan politisi, politisi itu bisa membuat Kyai. Dia ya beli sorban 200 (buah), terus dipajang, dukungan pers kita sudah didukung 200 ulama." katanya.

Pikiran Rakyat

Mengejutkan! Gus Mus Sebut Ilmuwan Fisika, Albert Einstein Seorang Ulama, Ini Penjelasannya

3. Bentukan pemerintah

Gus Mus menjelaskan ulama yang dibentuk pemerintah. Pada contoh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

4. Ulama bikinan politisi

Ulama ini dicontohkan oleh Gus Mus sebagai pihak yang melegitimasi agenda politik kelompok tertentu.

Baca Juga: Blak-blakan! Menkopolhukam Mahfud MD Patahkan Klaim Jumlah Penjemput Habib Rizieq kepada Karni Ilyas

"Ada yang bikinan politisi, politisi itu bisa membuat Kyai. Dia ya beli sorban 200 (buah), terus dipajang, dukungan pers kita sudah didukung 200 ulama." katanya.

5. Klaim Diri sebagai Ulama

"Ada lagi yang sekarang, bikinan sendiri, produk sendirilah dan ini murah sekali. Peci Haji itu paling Rp 5000 pagar, sorban kira-kira Rp 50.000, kalau yang agak Wibawa yang hijau.

Kemudian menghafalkan kira-kira 3-4 ayat yang pendek-pendek saja yang biasa digunakan untuk umum. Hadist juga, diambil dari Arbain Nawawi juga ada itu, pendek-pendek. Terus sedikit kemampuan. "Ungkap Gus Mus.

Menurut Rais Syuriah PBNU ini jenis ulama yang terakhir ini yang harus diwaspadai, karena perbuatan yang menyalahi norma agama, ulama tersebut ikut serta oleh pengikutnya yang awam soal urusan agama.

"Yang sangat berbahaya, jika dia melakukan sesuatu, sesuatu yang bertentangan dengan agama itu sendiri. Misalnya menghalalkan fitnah, menghalalkan ujaran kebencian, mengadu domba, mengacaukan rumah sendiri.

Itu bahaya karena orang-orang awam, tahunya itu dia memang ustadz betul, kyai betul, ulama betul. ”Jelas ulama kelahiran Rembang ini.

Dalam mendefisinikan apa atau siapa itu ulama, Gus Mus memiliki pandangannya sendiri.

Sebagai pewaris ajaran nabi, sifat seorang ulama adalah tidak tahan melihat penderitaan umatnya.

"Saya memiliki definisi sendiri, karena pajak pada nabi, karena mereka selalu mengucapkan ulama itu pewarisnya nabi. Jadi harus  nempil  (mengambil atau meminjam, pen.)."

Dan ada di dalam Qur'an pemerian Allah tentang nabi itu. Yang paling menonjol perilaku nabi sebagai pemimpin, nabi tidak tahan melihat penderitaan umatnya. "Ungkap Gus Mus.

Gus Mus juga bepesan bahwa sifat kasih sayang terhadap umat merupakan hal yang tidak terbantahkan bagi seorang ulama.

"Maka saya mengatakan karena kyai itu ingin sama dengan nabi, ingin mencoba perjuangan nabi yang harus yang dulu mereka melihat umat, melihat rakyat dengan mata kasih sayang." Pungkasnya. ***


Jurnal presisi.com