Kutub Utara Kian Panas, Ilmuwan Makin Cemas


Iklim di Kutub Utara berubah dengan cepat dan terus memanas pada tahun 2020. Kondisi ini pun membuat para ilmuwan cemas terkait masa depan salah satu ekosistem paling dingin di Bumi tersebut.
Menurut laporan tahunan berjudul Arctic Report Card yang dibuat The National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), ada sejumlah rekor perubahan iklim Kutub Utara yang tercatat pada tahun ini. Penelitian tersebut, yang dibuat oleh 133 peneliti internasional dari 15 negara, dipublikasi pada Selasa (8/12) lalu.
Arctic Report Card sendiri merupakan tinjauan komprehensif dari tahun ke tahun atas kondisi Kutub Utara. Mereka memeriksa berbagai variabel seperti suhu udara, es laut, dan kebakaran di alam liar yang terjadi di sekitar wilayah itu.
Secara umum, kondisi iklim di Kutub Utara biasanya berubah secara alami dari tahun ke tahun. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, perubahan iklim di sana telah terjadi dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Dalam video yang menyertai laporan tersebut, NOAA mengatakan ada "tingkat perubahan yang mengkhawatirkan yang diamati" sejak 2006. Mereka menyebut, "tingkat perubahannya luar biasa."


Secara keseluruhan, ceritanya tidak ambigu,” kata Rick Thoman, salah satu editor laporan tersebut sekaligus ahli iklim Alaska di International Arctic Research Center, dalam keterangan resminya.
"Transformasi Arktik ke wilayah yang lebih hangat, tidak terlalu beku, dan berubah secara biologis sedang berlangsung," ujar dia.
Dalam laporannya, tim peneliti menemukan kalau rata-rata suhu udara permukaan di Kutub Utara pada Oktober 2019 dan September 2020 adalah yang terpanas kedua sejak tahun 1900. Dalam rentang 12 bulan tersebut, suhu permukaan Kutub Utara naik hampir 2 derajat Celcius di atas rata-rata normal.
Catatan ini hanya kalah dibanding kenaikan suhu pada tahun 2016, yang saat itu dipengaruhi peristiwa El NiƱo global yang sangat kuat. Yang lebih mengkhawatirkan, selama 6 tahun terakhir, peneliti mencatat kalau kenaikan suhu di Kutub Utara selalu mencapai rekor baru.
Peneliti juga mencatat bahwa tingkat salju di Siberia pada Juni 2020 merupakan yang terendah dalam 54 tahun terakhir. Mereka mengatakan, hal tersebut disebabkan oleh “temperatur tinggi yang ekstrem” selama musim semi di wilayah tersebut.


(Atas) Sebagian besar Arktik lebih hangat dari rata-rata (merah), dengan hanya beberapa tempat lebih dingin dari rata-rata (biru); (Bawah) Suhu tahunan di daratan di Arktik (merah) dibanding dunia (abu-abu tua) dengan rata-rata tahun 1981-2010 dari tahun 1900-2020. Foto: NOAA
Kenaikan suhu dan kurangnya salju memang tak mengherankan, menurut peneliti. Pada Juni tahun ini, sebuah desa di Siberia bernama Verkhoyanks mencatat suhu lebih dari 38 derajat Celcius karena kebakaran hutan. Ini merupakan suhu tertinggi yang pernah terekam di wilayah lingkaran Kutub Utara.

Di satu sisi, kebakaran hutan Siberia yang terjadi tahun ini adalah salah satu contoh 'lingkaran setan' yang mengkhawatirkan dari krisis iklim. Karena suhu udara mengurangi jumlah salju dan curah hujan, kebakaran hutan lebih mungkin terjadi, yang pada gilirannya memengaruhi iklim.
Ironisnya, kebakaran hutan tersebut juga disebabkan oleh ulah manusia. Menurut laporan Reuters pada Agustus lalu, Kejaksaan Rusia menilai bahwa kebakaran hutan di Verkhoyanks sengaja dibuat oleh oknum tak bertanggungjawab guna menyembunyikan aktivitas penebangan liar.

Selain kenaikan suhu dan menurunnya tingkat salju, para peneliti juga mencatat bahwa lapisan es laut pada akhir musim panas tahun 2020 adalah yang terendah kedua selama 42 tahun terakhir.
“Ketebalan keseluruhan lapisan es laut juga menurun karena es Arktik telah berubah dari massa es yang lebih tua, lebih tebal, dan lebih kuat menjadi massa es yang lebih muda, lebih tipis, dan lebih rapuh dalam dekade terakhir,” kata mereka.
Catatan lapisan es laut tahun ini pun hanya kalah di banding musim panas 2012, yang pada saat itu dipenuhi dengan badai ekstrem yang memecah es. Dengan lebih sedikit es dan salju, lebih banyak radiasi matahari yang diserap daripada dipantulkan ke luar angkasa. Pada akhirnya, menurunnya lapisan es membuat Bumi jadi lebih panas.


(Atas) Es Kutub Utara pada 15 September 2020 jika dibandingkan dengan median es selama September 1981-2010; (Bawah) Lapisan maksimum dan minimum es selama 1979-2020. Foto: NOAA
Dalam laporan mereka, peneliti mengemukakan sedikit kabar baik bahwa jumlah paus kepala busur Arktik Pasifik yang langka telah meningkat selama tiga dekade terakhir. Peningkatan populasi mereka tidak lepas dari peningkatan plankton dan ikan krill karena suhu laut yang lebih hangat.

Menurut Thoman sendiri, perubahan sistemik yang terjadi di Kutub Utara seharusnya bisa terjadi di bagian selatan Bumi. Sebab, perubahan iklim ternyata bisa terjadi dengan cepat tanpa pernah kita kira.
"Kutub Utara terus membunyikan lonceng sebagai peringatan untuk garis lintang yang lebih rendah tentang seberapa cepat sesuatu dapat berubah ketika ambang batas dilintasi," kata Thoman kepada CBS News.
"Ambang batasnya tidak akan sama, tentu saja, tapi Arktik adalah bukti nyata bahwa perubahan lingkungan yang besar tidak perlu berlangsung secara bertahap dari generasi ke generasi."


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik