JANGAN "KONGO-KAN" INDONESIA *Seri : JOKOWI



Indonesia tak boleh menjadi Kongo ke dua dalam konteks negara gagal gara-gara tak mampu membuat regulasi atas kekayaan alam yang dimilikinya.

Negara yang terletak di benua Afrika yang merdeka dari Belgia tahun 1960 ini dulu bernama Zaire. Kekayaan alam yang dimilikinya adalah berkah di satu sisi namun ternyata menjadi bencana di sisi lain. 

Kobalt adalah salah satu hasil tambang mineral bumi yang dimiliki Kongo dan menjadi rebutan banyak pihak telah memancing para kapitalis asing. 

Perang saudara adalah apa yang diakibatkannya ketika persatuan rakyatnya kalah oleh kepentingan segelintir pejabat yang dengan mudah disuap oleh mereka yang memiliki banyak modal.

Sampai dengan hari ini, kobalt masih menjadi mineral unggulan sebagai hasil alam Kongo. Kobalt dijual dalam bentuk mentah dan nilai tambah tak pernah mereka nikmati. 

Rakyat Kongo tak pernah bertambah pintar karena investasi hanya dalam bentuk pengerukan tanah bukan teknologi sebagai akibat dibangunnya smelter.

Hanya segelintir orang di Kongo menjadi kaya karena hasil alamnya, dan Itu tak jauh dari para penguasa dan petinggi militer.

Data berbicara, bahwa cadangan kobalt terbesar yang sudah dikelola di dunia saat ini berada di Kongo. Negara di Afrika ini memiliki sekitar 58% dari total cadangan kobalt seluruh dunia yakni sekitar 3,6 juta metrik ton.

Kobalt adalah baterai, dan perjanjian iklim Paris membuat mineral bumi Itu menjadi makin berharga. 

Perjanjian Paris merupakan kesepakatan global yang monumental untuk menghadapi perubahan iklim. Perjanjian ini didukung 195 negara.

Mobil listrik dengan baterai sebagai sumber tenaga menjadi perhatian banyak produsen kakap dunia dalam cara memberi tanggapan pada perjanjian iklim Paris. Amerika, Jepang, Eropa hingga China sebagai pemain baru tak ingin tertinggal.

Baterai mobil listrik adalah jawaban paling masuk akal. Siapa lebih unggul dalam teknologi ini, dia akan leading. Siapa menguasai kobalt, bukan mustahil dia pula yang akan menjadi pemimpin.

Namun kobalt sangat mahal. Jumlahnya pun tidak banyak. 

Entah bagaimana caranya, Tesla pioneer dalam Electric Vehicle atau mobil listrik berhasil mengembangkan baterai dengan kepadatan energi yang smakin tinggi. Dengan menambah kandungan nikel dan mengurangi kobalt,Tesla memberi harapan pada dunia akan hadirnya mobil listrik murah dan massal.

Nikel tiba-tiba menjadi pusat perhatian dunia. Nikel tiba-tiba digadang sebagai salah satu pengganti peran minyak. Nikel yang dahulu digunakan sebagai bahan hebat dalam produk stainless steel kini lebih hebat lagi kedudukannya, sebagai tempat menyimpan energi.

Indonesia sebagai eksportir terbesar dunia dalam perdagangan nikel sekaligus pemilik cadangan terbesar didunia, ketiban rejeki itu. Bukan Kongo seorang harus dilirik, Indonesia menjadi pusat perhatian dunia.

Indonesia merupakan pemain penting dalam tata niaga nikel dunia. USGS melaporkan Indonesia memiliki cadangan bijih nikel sebesar 21 juta ton dengan produksi 800 ribu ton pada 2019. Fakta itu menempatkan Indonesia sebagai negara produsen nikel terbesar di dunia. 

Di sisi lain, Wood Mackenzie pun memperkirakan kebutuhan nikel dunia akan meningkat dari 2,4 juta ton pada 2019 menjadi 4 juta ton pada 2040.

Peningkatan tersebut disumbangkan oleh produksi stainless steel dan baterai. 

Kebutuhan nikel untuk baja tahan karat meningkat dari 1,65 juta ton pada 2019 menjadi 1,9 juta ton pada 2040, sementara kebutuhan untuk baterai meningkat dari 163 ribu ton menjadi 1,22 juta ton. 

Meningkatnya kebutuhan baterai ini didorong oleh berkembangnya penggunaan kendaraan listrik.

Beruntung, disaat Indonesia ketiban rejeki itu, Indonesia sedang dipimpin oleh seorang visioner. Bukan barang mahal itu dikeruk demi cuan makin tebal, larangan ekspor bahan mentah itu justru dicanangkan. 

Januari 2020 larangan itu langsung diberlakukan berdasar UU no 4 tahun 2009 dan diperkuat dengan UU no 3 tahun 2020 adalah dasar hukumnya.

Menjadi sangat wajar bila Eropa langsung marah. Nikel kita selama ini debeli oleh Eropa, China dan India.

Eropa sebagai negara sangat maju dalam teknologi otomotif berbasis mesin pembakaran dalam, sedang berancang-ancang mengejar ketertinggalannya dari Tesla dalam teknologi mobil listrik dan kelimpahan nikel yang selama ini mereka nikmati tiba-tiba hilang diambil oleh kebijakan seorang Jokowi.

Jerman sebagai pemilik merk VW grup, Daimler dan BMW sebagai tiga merk penguasa dunia permobilan adalah negara paling dirugikan. 

Mereka khawatir akan semakin tertinggal dari para kompetiternya dan terutama Tesla yang sudah bekerja sama dengan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) asal China dan perusahaan mobil GM dari AS yang juga sudah bekerjasama dengan dan LG Chem Ltd dari negeri gingseng Korea Selatan.

Baik LG dan CATL, keduanya sudah hadir di Indonesia dalam investasi langsung.

Di Batang, Jawa Tengah dua perusahaan raksasa pembuat baterai itu yakni Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) dan LG Chem Ltd sudah menetapkan akan berinvestasi sekitar USD 20 miliar atau setara Rp296 triliun di proyek baterai di Indonesia.

Itulah alasan kenapa seorang diplomat Jerman berkunjung ke kantor efpei menjadi masuk akal.

Di bawah Jokowi, Indonesia tak akan menjadi seperti Kongo yang kini semakin berantakan karena kekayaan alam tanah miliknya, kita justru makin maju.

Regulasi yang dibuatnya telah mendorong investasi dalam bentuk smelter dan ini seperti bola salju, menggulung dan mengajak banyak investor dalam bidang yang lain. 

Investasi dalam industri baterai mobil adalah dia yang langsung terbawa dalam gulungan bola salju itu. Pabrik mobil listrik hingga banyak industri berteknologi tinggi yang terkait erat dengannya hanya masalah waktu saja. Semua itu tepat berada pada jalurnya, ada di depannya. Pasti tergulung dalam arah bola itu melaju.

Semua akan tergulung dan Indonesia akan menjadi negeri dimana teknologi melekat pada dirinya sama seperti AS, Jepang, Eropa dan China.

Masihkah kita sangsi bahwa Presiden kurus ini tak sanggup membawa Indonesia menuju ke arah hebat itu? Bukti-bukti sudah semakin jelas, jangan bodoh terlalu lama dipelihara demi marah tak jelas untuk apa dan rela menjadi proxy asing para kapitalis pemilik uang seperti Kongo sudah mengalaminya.


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik