Bisnis Cabai, Petani di Perbatasan Bisa Beli Rumah & Mobil


Badau - Satu dasawarsa lalu, Ahmad Sahid memberanikan diri merantau dari Blora, Jawa Tengah menuju ke Nanga Badau, Kapuas Hulu. Kala itu, Sahid yang merupakan lulusan SMK bekerja di perkebunan kelapa sawit sebagai tim pengukuran dan pemetaan lahan kelapa sawit.

Menghabiskan tujuh tahun bekerja untuk perusahaan sawit, Sahid terpikir untuk memulai usaha sendiri. Pria kelahiran tahun 1989 itu melihat ada peluang bisnis di bidang perkebunan, khususnya cabai.
Tahun 2017, ia memantapkan diri untuk beralih profesi ke bidang perkebunan. Memanfaatkan lahan milik seorang kolega di Badau, Sahid memulai budi daya cabai tanpa bagi hasil. Seluruh keuntungan menjadi milik Sahid.
Untuk menggarap lahan, Sahid dibantu beberapa orang teman. Ia juga mendapatkan pinjaman satu unit traktor roda empat dari Kodim setempat.
"Olah tanah kami pakai traktor roda empat punya Kodim. Jadi gak ada cangkul-cangkul. Alat jonder (traktor) itu biasanya buat lahan sawit," cerita Sahid kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Ternyata, ia memiliki peruntungan yang cukup baik di bidang perkebunan. Beberapa bulan berjalan ia mulai mendapatkan hasil dari panen cabai.
Sesuai prediksinya di awal, komoditas cabai memiliki harga cukup baik di daerah Badau dan sekitarnya. Dikatakan Sahid, selama hampir empat tahun menjadi petani cabai, ia nyaris tidak pernah mengalami penurunan harga beli. Cabai dari kebun garapan Sahid terjual habis ke pasar-pasar di daerah Badau hingga Putussibau.


"Di daerah hulu sini (Badau), harga sayur-sayuran termasuk cukup mahal. Kalau cabai itu paling tidak sekilo dihargai Rp 50 ribu, tidak pernah turun jauh," ungkap Sahid.
Saat ini, Sahid memiliki empat lahan garapan. Selain cabai, ia juga menanam komoditas lain, seperti sawi, terong, tomat. Namun, ia mengatakan bisnis utamanya tetap di budidaya cabai, karena keuntungan yang dihasilkan sangat menjanjikan.
Dari budidaya cabai, Sahid tidak hanya mampu membiayai hidupnya di kampung orang. Kini, ia sudah bisa membangun rumah dan membeli mobil Daihatsu Luxio. Mobil tersebut diandalkan untuk mobilisasi usaha cabai.
"Dari cabai itu bisa ketemu (dapat omzet) per bulannya itu sekitar Rp 50 juta. Sangat nampak sekali hasilnya kalau dari cabai. Saya sampai bisa bangun rumah ya dari cabai ini," kata Sahid dengan bangga.


Untuk mengembangkan bisnis kebunnya, Sahid memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro dari Bank BRI. Sejauh ini, ia sudah dua kali mengambil KUR Mikro BRI untuk memperluas lahan dan membeli bibit.
Memanfaatkan dana dari KUR, Sahid bisa membuka satu lahan kebun cabai baru seluas satu hektare. Uang tersebut juga dialokasikan untuk membeli pupuk.

"(Pinjaman) Yang 50 (juta rupiah) kemarin saya gunakan untuk buka lahan sekitar 1 hektare. Dari uang itu juga saya beli pupuk 1 truk dan alhamdulillah tanaman jadi semua," ulas Sahid.
Fasilitas KUR BRI, sebut Sahid, sangat membantu orang-orang sepertinya yang butuh modal untuk mengembangkan usaha. Namun, ia menekankan dana dari KUR itu harus digunakan dengan bijak agar tak jadi sia-sia.

"KUR BRI ini sangat membantu apalagi pas di saat nggak ada modal untuk berkebun. Ini sangat membantu," kata Sahid.
Di ulang tahun yang ke-125 pada tahun ini, BRI hadir di perbatasan dengan tema BRILian memudahkan masyarakat melakukan transaksi perbankan, termasuk bagi masyarakat Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu. BRI juga menghadirkan KUR hingga menyalurkan BPUM untuk membantu UMKM sekitar.
detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. 


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik