Lo Kheng Hong: 'Simpan Uang di Bank Bikin Miskin Pelan-pelan'

Investor saham Indonesia yang dijuluki Warren Buffett-nya Indonesia, Lo Kheng Hong terang-terangan mengatakan menyimpan uang di bank akan membuat investor perlahan-lahan jatuh miskin.
Hal inilah yang menjadi alasan utama Lo tidak menempatkan dana dalam jumlah besar di bank, tapi menginvestaikannya di pasar saham.
"Menyimpan uang di bank sebetulnya membuat kita miskin secara pelan-pelan karena nilai uang kita semakin hari semakin turun," kata Lo saat menjadi pembicara di acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) pekan lalu, Sabtu (24/10/2020).
Lo juga memilih tidak membeli obligasi atau surat utang, karena menurutnya bunga yang diberikan juga tidak besar. "Saya juga tidak membeli emas," kata Lo.
Kenapa Lo tidak mau membeli emas?
Rupanya dia terinspirasi cerita dari Warren Buffett, si investor saham kawakan yang menjadi salah satu orang terkaya di dunia dengan kendaraan investasinya, Berkshire Hathaway.
Sewaktu Buffett mengambilalih saham Berkshire Hathaway, harganya hanya US$ 15/saham. Pada waktu itu harga emas US$ 20/troy ounce.
Pada 2012, Buffett membandingkan lagi, harga emas US$ 1.600/troy ounce, sementara harga saham Berkshire sudah US$ 120.000/saham. Dan di 2019, harga emas sempat US$ 1.250/troy ounce dan harga saham Berkshire sudah US$ 305.000/saham.
"Jauh lebih menguntungkan membeli saham dari pada membeli emas. Saya juga tidak pegang dolar [mata uang dolar AS]. Biasanya orang yang pegang dolar, suka mengharapkan yang buruk yang terjadi. Beda dengan orang yang pegang saham, dia selalu mengharapkan hal-hal yang baik yang terjadi," ungkap Lo.
Jadi, Lo hanya tertarik membeli saham karena terbukti membuatnya kaya dan memiliki harta ratusan miliar.
Lo mengungkapkan alasan utama yang membuat dirinya berinvestasi saham, khususnya di pasar saham Indonesia.
"Bursa saham Indonesia menawarkan imbal hasil tertinggi diantara bursa saham utama di dunia bagi investor jangka panjang. Sudah terbukti! Saya bersyukur saya ada di dalamnya," kata Lo.
Hingga saat ini, kata Lo, hampir 99% masyarakat Indonesia tidak percaya kalau investasi saham adalah pilihan terbaik. Masyarakat lebih menempatkan uang di bank atau dibelikan properti, dibanding beli saham.
"Kata-kata saham is the best choice masih tidak dipercaya oleh 99% masyarakat kita," kata Lo.
Lo Kheng Hong pernah cuan besar dari saham PT United Tractors Tbk (UNTR) yang merupakan momen awal dirinya mengeruk keuntungan besar dari investasi saham. Pada 1998, Lo membeli saham UNTR pada harga Rp 250/saham.
Selama 6 tahun Lo menginvestasikan uangnya pada saham ini. Baru pada 2004, harga saham UNTR sudah mencapai Rp 15.000/unit dan ia menjualnya. Lo Kheng Hong meraup cuan hingga 5.900%.
Cerita seperti ini diulang pada saham-saham yang lain.
Lo membeli saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) pada harga Rp 1.000/saham. Lalu 1,5 tahun kemudian ia menjualnya pada harga rata-rata Rp 10.000/saham. Lo mampu meraup cuan 900% dari saham INKP.


#GresikBaik
#Infogresik
#Gusfik