Kisah Milenial Mulai Jualan Somay Saat Pandemi, Omzet Melesat Berkat Teknologi


Somaybaaang dok Lintang Dayu Malini
Digitalisasi menjadi kunci bagi UMKM untuk bertahan di tengah pandemi COVID-19. Tanpa menerapkan sistem yang berorientasi pada go digital, sulit bagi sebuah usaha untuk terus bertahan di tengah keadaan yang menantang dan persaingan yang semakin sengit.
Menurut data dari Mandiri Institute, sebanyak 42 persen UMKM yang belum terdigitalisasi terpaksa harus menutup usahanya akibat pandemi COVID-19. Sementara dari sisi kegiatan produksi dan penjualan, 24 persen saja dari usaha offline yang dapat beroperasi dan hanya 15 persen yang bisa bertahan selama tiga bulan.
Angka ini cukup mengkhawatirkan bagi masa depan ekonomi nasional. Sebab UMKM telah menjadi garda terdepan perekonomian dengan kontribusinya sebesar 60 persen dari total PDB 2018, dan telah mampu mempekerjakan hingga 97 persen dari total tenaga kerja Indonesia.

Untuk membantu mendukung geliat UMKM nasional, pada 10 November 2020 perusahaan teknologi terdepan Grab Indonesia telah meresmikan Grab Tech Center di Jakarta. Ruang ini menjadi Pusat Inovasi Asia Tenggara yang didedikasikan untuk merancang, membangun, dan menguji coba solusi-solusi yang dikembangkan secara khusus untuk memenuhi kebutuhan UMKM.
Salah satu solusi teknologi yang berhasil diciptakan tim teknologi Grab Indonesia adalah sistem pendaftaran mandiri calon mitra GrabFood melalui aplikasi GrabMerchant. Hingga saat ini ada lebih dari 100.000 UMKM baru yang mendaftarkan diri lewat fitur ini, yang akan dibantu Grab untuk terus usaha di tengah pandemi melalui digitalisasi.


Somaybaaang dok Lintang Dayu Malini
Di antara UMKM tersebut ialah Somaybaaang milik Lintang Dayu Malini. Usaha yang dimulai pada awal pandemi dengan modal sekitar Rp 500 ribu itu, merupakan industri rumahan yang menghadirkan produk somay ala abang-abang dengan mengedepankan kualitas dan higienitas.
“Tujuannya buat mengobati kangen sama jajan somay, yang sejak pandemi jajanan kaki lima kurang diminati karena alasan kebersihan. Adanya pandemi saya merasa kebersihan jadi prioritas,” katanya kepada kumparan.

Di awal memulai usahanya, perempuan 26 tahun tersebut mendapat banyak tantangan karena belum memiliki karyawan. Apalagi saat itu masih dalam masa karantina yang tidak memungkinkannya untuk belanja ke pasar dan menjajakan produknya ke pelanggan.
Maka itu, Lintang 100 persen mengandalkan teknologi dalam usahanya. Ia mengaku sejak hari pertama berbisnis, sudah memanfaatkan layanan GrabExpress untuk mengantarkan pesanan dari WhatsApp atau layanan e-commerce.
“GrabExpress punya peran besar (di Somaybaaang) karena armadanya banyak. (Selain itu) ‘Kan, ada layanan instan kalau mau langsung sampai dan same day kalau mau ongkir lebih murah, jadi emang kami cari yang cepat dalam pengiriman dan memudahkan saya selaku pemilik usaha enggak kerepotan mengantar karena ada driver Grab yang pickup ke rumah,” tutur Lintang.

Berkat memanfaatkan layanan ini, ia mengaku sejak hari pertama memulai Somaybaaang sampai sekarang, 80 persen jasa pengantarannya terutama untuk pembelian online menggunakan GrabExpress.
Setelah tiga bulan memanfaatkan GrabExpress dan mendapat manfaat dari layanan tersebut, Lintang memperluas peluang dengan bergabung di GrabFood. Ia menyebut penjualan juga semakin meningkat. Layanan tersebut mendukung Somaybaaang dalam memperluas pangsa pasar dan berkontribusi kepada 40 persen pendapatan.


Somaybaaang dok Lintang Dayu Malini
“Pertama (mulai usaha) itu yang beli paling lima atau 10 orang. Dulu seminggu paling omzetnya cuma sekitar Rp 1,5 juta. (Tapi lama-kelamaan) Jadi kewalahan karena tidak disangka pesanan naiknya tiap hari bisa tiga kali lipat,” tambahnya.
Teknologi lain yang ia manfaatkan untuk memasarkan Somaybaaang ialah media sosial. Dengan belasan ribu followers yang dimiliki, Lintang dan tim membuat konten yang menarik dengan gaya komunikasi intimate untuk membangun kepercayaan pelanggan.

Oleh karena itu, pertumbuhan Somaybaaang selama tujuh bulan berdiri dinilai cukup pesat. Sampai sekarang Lintang mampu menjual lebih dari 50 ribu somay dengan omzet minimal rata-rata per bulannya mencapai puluhan juta rupiah.
Lintang kini juga tak lagi sendiri karena telah memiliki lima orang karyawan di Somaybaaang. Ia menuturkan para karyawannya tersebut merupakan korban PHK akibat pandemi.
“Alhamdulillah Oktober lalu juga sudah ekspansi buka satu outlet di Depok. Rencananya bulan depan buka cabang di luar kota, jadi teman-teman yang enggak terjangkau sama pengiriman, bisa lebih mudah. Teknologi Grab benar-benar membantu UMKM untuk Terus Usaha, ya salah satunya saya,” tutupnya.



#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik