Indonesia dalam Mimpi Tan Malaka

Tan Malaka menulis tentang sistem pemerintahan, bentuk negara hingga tahapan-tahapan revolusi. Menggambarkan tentang Indonesia yang diimpikannya.


Selain dikenal sebagai tokoh perjuangan kemerdekaan di Indonesia, Tan Malaka juga malang melintang di dunia politik internasional. Ketika dibuang ke Belanda pada 1922, ia pernah dicalonkan sebagai wakil Partai Komunis Belanda dalam pemilihan umum. Ia kemudian pergi ke Moscow dan diangkat sebagai utusan Komunis Internasional (Komintern) untuk Asia Tenggara.
Tan baru kembali ke Indonesia pada 1942 ketika Jepang mulai menduduki Hindia Belanda. Selama Jepang berkuasa, ia masih bergerak di bawah tanah dan baru muncul di keramaian pasca-Proklamasi 1945.
Lalu seperti apa Indonesia yang dicita-citakan Tan Malaka?

Sistem Pemerintahan
Dalam Dialog Sejarah “Indonesia dalam Mimpi Tan Malaka” di saluran Facebook dan Youtube Historia, Hasan Nasbi, penulis buku Filosofi Negara menurut Tan Malaka, menyebut setidaknya ada tiga buku yang menggambarkan mengenai pemikiran Tan Malaka tentang Republik Indonesia.


Buku pertama berjudul Parlemen atau Soviet?, terbit pada 1921. Dalam buku ini, Tan menuliskan ketidaksetujuannya jika Indonesia meniru Barat yang menerapkan prinsip trias politika di mana kekuasaan dipegang oleh eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Menurutnya, pertentangan antara eksekutif dan legislatif akan membuat negara tidak stabil.
Negara di mana eksekutif dan legislatif selalu bertentangan akan melupakan tujuan utamanya untuk mengurus negara itu sendiri. Selain itu, parlemen juga hanya akan menjadi legitimasi kaum yang berkuasa.

“Hanya orang-orang kaya yang mengisi parlemen itu sehingga tidak mewakili masyarakat di bawah. Sebagian besar masyarakat di bawah yang bukan merupakan bagian dari kelasnya. Sehingga Tan Malaka tidak pengen ada negara yang berbentuk trias politika,” jelas Hasan.

Sementara negara yang diidam-idamkan Tan Malaka adalah soviet yang dalam bahasa Rusia bermakna government council atau dewan pemerintahan. Dewan pemerintahan ini merupakan organisasi politik tunggal dengan partai politik tunggal pula.

Menurut Hasan, sistem pemerintahan semacam inilah yang diterapkan di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Vietnam hari ini. Hanya ada partai tunggal yang mengelola negara tanpa kekuatan politik di luar itu.

“Tan Malaka itu sangat terpesona dengan disiplin organisasi. Jadi dia mau itu orang berorganisasi dan punya disiplin organisasi,” terang Hasan.

Tahapan Revolusi
Buku kedua adalah Menuju Republik Indonesia yang terbit pada 1924. Buku ini berisi rancangan dasar bernegara atau semacam draft konstitusi versi Tan Malaka. Buku ini juga menjelaskan mengenai tahapan-tahapan revolusi Indonesia.

Pada saat itu, menurut Tan jumlah kaum proletar di Indonesia masih belum cukup untuk revolusi. Maka dari itu, kaum pedagang kecil dan petani kecil harus dirangkul dan diberi hak kepemilikan pribadi sementara.

“Jadi bentuklah semacam majelis permusyawaratan nasional Indonesia dulu supaya sebagai organisasi tunggal, supaya semua kekuatan ini baik proletar maupun non-proletar bersatu dulu,” sambung Hasan.

Jika itu sudah tercapai, tahapan revolusi selanjutnya adalah menghancurkan kapitalisme. Menurut Tan, meruntuhkan imperialisme untuk mencapai kemerdekaan adalah satu hal. Namun, merdeka 100 persen adalah ketika berhasil menghancurkan kapitalisme.

Selain itu, ada pemikiran-pemikiran Tan yang menurut Hasan bersifat futuristik dan masih terbuka untuk didiskusikan hari ini. Antara lain, bentuk negara federasi, pendidikan gratis hingga usia 17 tahun, pemerataan sumber daya manusia hingga jam kerja buruh maksimal tujuh jam sehari.

Buku ketiga adalah Aslia Bergabung yang terbit tahun 1943. Aslia merupakan singkatan dari Asia dan Australia. Dalam buku ini Tan menawarkan sebuah konsep blok sosial, ekonomi, dan politik yang luas meliputi Asia dan Australia.

Pemikiran Tan amat dipengaruhi oleh konteks politik saat itu di mana tengah terjadi pertentangan ideologi. Di mana gerakan sayap-sayap marxis tengah bangkit di seluruh dunia, terutama di negara-negara yang tengah berupaya menumbangkan imperialisme Barat. Tan sendiri terinspirasi oleh revousi Rusia.

Republik Sosialis
Sejarawan Harry A Poeze, yang telah meneliti Tan Malaka hampir setengah abad, menyebut buku penting yang tak boleh dilewatkan untuk melihat pemikiran Tan tentang Indonesia adalah Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika).

“Ini buku yang menurut saya sangat penting karena tidak ditulis karena ada kejadian yang spesifik, misalnya pemberontakan tahun 26-27, tapi ini buku filsafat yang Tan Malaka tulis, salah satu filsafat yang bisa beri petunjuk kepada orang Indonesia. Dan ini buku filsafat yang didasarkan atas pemikiran marxis tapi ditambah dengan keadaan Indonesia,” terang Harry.


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik